
Pengusaha teknologi Malaysia yang Anda maksud adalah Arsyan Ismail, yang memang tengah jadi sorotan karena kisah penjualan domain premium ai.com seharga sekitar 70 juta dolar AS (kurang lebih Rp1,1 triliun).
Arsyan menjual domain ai.com kepada Kris Marszalek, CEO platform kripto Crypto.com, dalam transaksi yang diberitakan terjadi pada April 2025 dan nilainya diungkap ke publik sekitar awal 2026. Nilai 70 juta dolar ini disebut sebagai salah satu penjualan domain termahal yang pernah diumumkan secara publik, memecahkan rekor sebelumnya seperti CarInsurance.com yang terjual sekitar 49,7 juta dolar pada 2010. Dalam beberapa laporan, jumlah yang diterima Arsyan digambarkan setara lebih dari Rp1 triliun atau sekitar lebih dari RM300 juta.
Arsyan mengaku pertama kali memperoleh ai.com pada 4 Mei 1993 ketika usianya sekitar 10 tahun, memakai kartu kredit sang ibu tanpa sepengetahuan orang tuanya. Harga pembelian saat itu sekitar 100 dolar AS (sekitar Rp200.000 dengan kurs kala itu, atau kurang lebih RM256), jauh sebelum istilah Artificial Intelligence (AI) populer seperti sekarang. Ia menyebut alasan awal membeli domain itu bukan karena memprediksi tren AI, melainkan karena “AI” adalah inisial namanya, Arsyan Ismail. Untuk menguatkan klaim, Arsyan menunjukkan dokumen registrasi domain yang mencatat tanggal 4 Mei 1993 dengan alamat pendaftar di Kuala Lumpur, Malaysia.
Arsyan dikenal di ekosistem teknologi Malaysia sebagai web developer, software engineer, dan technopreneur yang terlibat dalam berbagai startup, antara lain Kawanster (jejaring sosial lokal), serta jaringan periklanan digital seperti Advertlets dan Nuffnang. Tulisan profil di Malaysia menyebutnya sebagai sosok yang sejak remaja aktif di dunia pemrograman (misalnya lewat skrip mIRC yang sempat diunduh puluhan ribu kali) dan kemudian banyak bermain di area aset digital dan startup. Media internasional dan regional menggambarkan Arsyan lebih sebagai investor digital yang sabar, fokus memegang aset internet langka (seperti domain dua huruf) dan menunggu momentum tepat untuk menjual, bukan figur yang sibuk mengelola aplikasi konsumen skala besar.
Terjadi di puncak “demam AI” global, sehingga domain ai.com dianggap “prime real estate” di dunia internet, apalagi ketika diakuisisi oleh Crypto.com yang sudah punya brand kuat di ranah kripto. Kontras antara harga beli yang sangat kecil (sekitar 100 dolar) dan harga jual 70 juta dolar menciptakan narasi “investasi digital jangka panjang paling ekstrem” yang mudah viral. Cerita “anak 10 tahun diam‑diam pakai kartu kredit ibu untuk beli domain yang saat itu tampak tidak jelas gunanya” menambah unsur dramatis dan membuatnya menarik bagi media umum, bukan hanya komunitas teknologi.
Pentingnya memahami nilai jangka panjang aset digital (domain pendek, brandable, dan relevan dengan tren teknologi). Contoh konkret bagaimana timing (membeli di era internet awal, menjual di era ledakan AI) bisa mengubah aset kecil menjadi kekayaan besar.