Sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau mulai bergerak menjauh dari wilayah Jawa dan Sumatera menuju Samudra Hindia. Meski arah sebaran berubah, aktivitas vulkanik gunung api di Selat Sunda tersebut masih berlangsung dan pemantauan terus dilakukan.
Berdasarkan pemantauan BMKG menggunakan citra satelit Himawari-9, pada Senin (7/9/2026) abu vulkanik terpantau bergerak ke arah barat daya. Sebelumnya, sebaran abu sempat mencapai sejumlah wilayah di Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, hingga Jakarta.
Pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi, abu vulkanik bahkan terpantau bergerak menjauhi Pulau Jawa dan Sumatera menuju Samudra Hindia. Namun, pada lapisan yang lebih rendah, sebagian wilayah masih berpotensi terdampak sebaran abu, terutama terhadap kualitas udara dan jarak pandang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena abu vulkanik pada ketinggian tertentu dapat mengganggu penerbangan. Dampaknya juga sempat menyebabkan sejumlah bandara ditutup dan ribuan penerbangan mengalami pembatalan maupun penundaan.
Gunung Anak Krakatau sendiri masih berada pada Level III atau Siaga. Berdasarkan evaluasi aktivitas hingga 8 September 2026, PVMBG masih mencatat aktivitas kegempaan yang cukup tinggi, termasuk gempa erupsi, gempa hembusan, gempa frekuensi rendah, serta gempa vulkanik. Potensi letusan masih dinilai tinggi.
Aktivitas Anak Krakatau juga belum sepenuhnya berhenti. Reuters melaporkan gunung tersebut masih mengalami beberapa erupsi pada Selasa (8/9/2026), meski kondisi sebaran abu telah mulai membaik dan sejumlah bandara kembali dibuka setelah dilakukan pemeriksaan keselamatan.
Sebelumnya, erupsi besar yang berlangsung selama sekitar 25 jam menyebabkan abu vulkanik mencapai ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki. Kondisi tersebut mengganggu penerbangan dan menyebabkan penutupan sejumlah bandara di Pulau Jawa dan Sumatera.
Meski arah abu kini cenderung bergerak menjauh dari daratan, masyarakat tetap diminta mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan BMKG. Perubahan arah angin dapat membuat jalur sebaran abu kembali berubah.
PVMBG juga tetap memberlakukan zona aman di sekitar kawah Gunung Anak Krakatau. Masyarakat, wisatawan, dan nelayan di sekitar kawasan tersebut perlu memperhatikan rekomendasi keselamatan yang dikeluarkan pemerintah.
Dengan demikian, kondisi terbaru bukan berarti aktivitas Gunung Anak Krakatau telah berakhir. Abu memang mulai bergerak ke arah Samudra Hindia, tetapi gunung masih berstatus Siaga dan aktivitas erupsi masih dipantau.
