Minggu, 25 Oktober 2026
Masuk
Berita

7 Kebiasaan Orang Indonesia Zaman Dulu yang Kini Makin Jarang Ditemui

Perkembangan teknologi membuat sejumlah kebiasaan masyarakat Indonesia zaman dulu semakin jarang ditemui, mulai dari berkirim surat, menonton layar tancap, hingga berkumpul bersama tetangga.

Perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup membuat sejumlah kebiasaan masyarakat Indonesia perlahan berubah. Aktivitas yang dahulu menjadi bagian dari keseharian kini semakin jarang dilakukan, meski sebagian masih bertahan di sejumlah daerah.

1. Berkirim Surat Melalui Kantor Pos

Berkirim Surat Melalui Kantor Pos
Dahulu, surat menjadi salah satu cara utama untuk berkomunikasi jarak jauh. Orang menulis pesan di atas kertas, memasukkannya ke amplop, lalu mengirimkannya melalui kantor pos. Menunggu surat balasan bisa menjadi momen yang dinantikan.

Sebelum pesan instan berkembang, surat menjadi sarana penting untuk menyampaikan kabar kepada keluarga, teman, maupun sahabat pena. Kantor pos pertama di Indonesia didirikan di Batavia pada 26 Agustus 1746 dan layanan surat pernah menjadi bagian penting dari komunikasi masyarakat.

2. Menonton Layar Tancap

Menonton Layar Tancap
Layar tancap menjadi hiburan masyarakat di berbagai daerah. Warga berkumpul di ruang terbuka untuk menonton film bersama. Suasana ramai, membawa tikar atau duduk di tempat yang tersedia, menjadi bagian dari pengalaman menonton pada masa itu.

Hiburan dengan layar besar di ruang terbuka ini pernah populer, terutama di lingkungan pedesaan. Layar tancap bahkan berkembang menjadi hiburan rakyat yang identik dengan suasana berkumpul bersama warga. Kini, keberadaannya jauh lebih terbatas dibandingkan masa ketika televisi dan bioskop modern belum mudah diakses.

3. Mendengarkan Radio Bersama Keluarga

Mendengarkan Radio Bersama Keluarga
Sebelum televisi dan internet menjadi hiburan utama, radio menemani banyak keluarga. Mereka berkumpul untuk mendengarkan berita, musik, sandiwara radio, hingga acara favorit. Satu radio bisa dinikmati bersama seluruh anggota keluarga.

Radio pernah menjadi salah satu sumber utama informasi dan hiburan masyarakat sebelum televisi, internet, serta layanan streaming berkembang luas. Kini, konsumsi hiburan dan informasi semakin banyak berpindah ke perangkat digital. RRI sendiri masih mengangkat kembali pengalaman komunikasi era lama, termasuk radio, surat, pager, wartel, dan warnet, sebagai bagian dari memori masyarakat.

4. Berkumpul dan berbincang langsung dengan tetangga

Berkumpul dan berbincang langsung dengan tetangga
Interaksi dengan tetangga dahulu banyak dilakukan secara langsung. Warga dapat duduk di teras rumah atau berkumpul di lingkungan sekitar sambil berbincang tentang berbagai hal. Pertemuan sederhana ini menjadi bagian dari kehidupan sosial sehari-hari.

Berkumpul dan berbincang langsung dengan tetangga juga menjadi kebiasaan yang mengalami perubahan. Dahulu, teras rumah, warung, pos ronda, atau ruang terbuka di lingkungan tempat tinggal menjadi tempat warga bertukar cerita. Perkembangan gawai dan media sosial membuat sebagian komunikasi sehari-hari berpindah ke ruang digital.

5. Menelpon Menggunakan Wartel

Menelpon Menggunakan Wartel
Sebelum telepon seluler digunakan secara luas, wartel (warung telekomunikasi) menjadi tempat masyarakat melakukan panggilan. Orang datang ke wartel, menggunakan telepon yang tersedia, lalu membayar sesuai durasi atau biaya yang ditetapkan.

Menggunakan wartel untuk menelepon pernah menjadi bagian dari keseharian masyarakat ketika telepon pribadi belum dimiliki banyak orang. Orang harus datang ke tempat tertentu untuk menghubungi keluarga atau kerabat. Kebiasaan tersebut kemudian semakin ditinggalkan setelah telepon seluler menjadi lebih mudah digunakan.

6. Menghafal Nomor Telepon

Menghafal Nomor Telepon
Dahulu, nomor telepon sering dihafalkan karena belum ada daftar kontak digital. Nomor keluarga, teman, kantor, atau orang terdekat bisa tersimpan di ingatan. Buku telepon juga menjadi tempat penting untuk mencatat nomor yang sulit diingat.

Sebelum kontak digital tersimpan otomatis di ponsel, masyarakat terbiasa mengingat nomor keluarga, teman, atau menuliskannya di buku catatan. Perubahan teknologi komunikasi membuat kebutuhan tersebut semakin berkurang.

7. Berkumpul untuk menikmati hiburan

Berkumpul untuk menikmati hiburan
Dahulu, hiburan lebih sering dinikmati bersama. Keluarga atau warga berkumpul untuk menonton televisi, mendengarkan radio, bermain, atau menikmati pertunjukan. Berbeda dengan kini, satu perangkat belum menyediakan pilihan hiburan yang berbeda bagi setiap orang

Berkumpul untuk menikmati hiburan secara bersama-sama tanpa perangkat pribadi juga semakin berubah. Dahulu, masyarakat dapat duduk bersama menikmati radio, televisi, atau layar tancap. Kini, satu keluarga atau kelompok orang dapat menikmati konten berbeda melalui perangkat masing-masing.

Perubahan tersebut tidak berarti seluruh kebiasaan lama benar-benar hilang. Di sejumlah daerah, kegiatan seperti gotong royong, berkumpul bersama warga, menonton layar tancap, maupun tradisi komunikasi konvensional masih dilakukan. Perbedaannya terletak pada frekuensi dan konteksnya yang berubah mengikuti perkembangan zaman.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.