Sabtu, 24 Oktober 2026
Masuk
Berita

30 Robot “Demo” di Polandia, Tuntut AI Diatur agar Tak Mengancam Pekerjaan Manusia

Sekitar 30 robot “turun ke jalan” di Warsawa, Polandia, untuk menyerukan regulasi AI yang lebih ketat. Mereka membawa pesan seperti “Defend workplaces” dan “Don’t wait, regulate”. Aksi ini sebenarnya diorganisasi manusia untuk menunjukkan bahwa AI dan robotisasi sudah berkembang pesat dan berpotensi mengubah pasar kerja. Ironisnya, robot justru digunakan untuk memperingatkan manusia soal kemungkinan manusia kehilangan pekerjaan akibat robot.

Sekitar 30 robot turun ke jalan di Warsawa, Polandia, dalam aksi demonstrasi yang tidak biasa. Para robot tersebut berkumpul di depan Kementerian Urusan Digital Polandia pada Senin, 7 September 2026, untuk menyerukan aturan yang lebih ketat terhadap perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan robotisasi.

Robot-robot tersebut membawa bendera dan menyuarakan pesan seperti “Defend workplaces”, “Time for rules”, serta “Don’t wait, regulate”. Jenis robot yang ikut aksi juga beragam, mulai dari robot humanoid berkaki dua hingga robot berkaki empat menyerupai anjing.

Aksi ini diorganisasi oleh Democratism, sebuah inisiatif yang mendorong diskusi publik mengenai perkembangan AI dan robotisasi serta dampaknya terhadap pasar tenaga kerja. Penyelenggara menilai perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat sehingga masyarakat dan pemerintah perlu mempersiapkan aturan sebelum dampaknya terhadap pekerja semakin besar.

Yang menarik, penggunaan robot dalam demonstrasi tersebut memang sengaja dilakukan sebagai bagian dari pesan yang ingin disampaikan. Menurut penyelenggara, kehadiran robot di jalan menunjukkan bahwa teknologi yang sebelumnya dianggap sebagai sesuatu dari masa depan kini sudah menjadi kenyataan dan mampu melakukan berbagai aktivitas di ruang publik.

Salah satu robot humanoid yang ikut aksi, Agibot A3, bahkan “menjawab” pertanyaan wartawan. Kemampuan tersebut digunakan untuk memperlihatkan perkembangan teknologi AI dan robot humanoid secara langsung kepada masyarakat.

Namun, aksi tersebut bukan berarti robot secara mandiri memutuskan untuk melakukan demonstrasi. Aksi ini merupakan kegiatan yang diorganisasi manusia, sementara robot digunakan sebagai bagian dari demonstrasi dan simbol untuk menyampaikan kekhawatiran mengenai perkembangan AI dan otomatisasi.

Penyelenggara terutama menyoroti kemungkinan pekerjaan manusia tergantikan oleh robot humanoid maupun AI yang mampu mengerjakan pekerjaan kognitif. Mereka meminta pemerintah membuat regulasi yang dapat melindungi pekerja dan mempersiapkan masyarakat menghadapi perubahan di pasar kerja.

Menteri Urusan Digital Polandia Krzysztof Gawkowski juga datang menemui penyelenggara aksi. Pemerintah Polandia sendiri sedang memperkuat kerangka regulasi AI sejalan dengan penerapan aturan Uni Eropa mengenai kecerdasan buatan.

Penyelenggara juga menilai aturan yang sedang dibahas masih belum cukup memberikan perlindungan praktis bagi pekerja yang berpotensi terdampak otomatisasi. Karena itu, mereka ingin isu tersebut dibicarakan lebih awal sebelum penggunaan AI dan robot dalam dunia kerja semakin luas.

Aksi di Warsawa ini akhirnya menjadi gambaran unik mengenai dilema perkembangan teknologi: robot digunakan untuk memperingatkan manusia tentang kemungkinan teknologi robot menggantikan pekerjaan manusia. Pesan utamanya bukan bahwa robot benar-benar sedang memperjuangkan haknya sendiri, melainkan manusia sedang menggunakan robot untuk mendorong perdebatan tentang masa depan tenaga kerja.

Dwi Anggoro

Pewarta

Dwi Anggoro

seorang mahasiswa di Yogyakarta yang menjalani kesehariannya dengan sederhana. Di sela aktivitas kuliah, Saya kerap menghabiskan waktu di angkringan untuk membaca, Menulis, dan menikmati suasana khas Jogja.