<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>cerpen &#8211; Pewarta Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.pewartanusantara.com/tag/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pewartanusantara.com</link>
	<description>Portal Berita Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 17 Dec 2025 01:11:00 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=6.9.4</generator>

<image>
	<url>https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2024/11/cropped-icon-pewarta-1-32x32.png</url>
	<title>cerpen &#8211; Pewarta Nusantara</title>
	<link>https://www.pewartanusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Ketika Iman Dipertanyakan: Kritik Sosial dan Religius dalam Cerpen Robohnya Surau Kami</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/op-ed/ketika-iman-dipertanyakan-kritik-sosial-dan-religius-dalam-cerpen-robohnya-surau-kami/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[tiara dyuti a]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2025 01:11:00 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Op-ed]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Robohnya surau kami]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=32407</guid>

					<description><![CDATA[1.Pengertian Teknik Skimming, Skimming adalah teknik membaca yang melibatkan membaca cepat untuk mendapatkan gambaran umum materi. Hal ini memungkinkan pembaca untuk memahami keseluruhan informasi yang terkandung dalam suatu bagian, meningkatkan pemahaman dan efisiensi dalam tugas membaca. Fokus Utama Skimming: judul teks, paragraf awal&#38;akhir kata kunci yang berulang, pergeseran alur atau topik. Alasan Menggunakan Teknik Skimming [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/book.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p class="ql-align-justify">1.Pengertian Teknik Skimming, Skimming adalah teknik membaca yang melibatkan membaca cepat untuk mendapatkan gambaran umum materi. Hal ini memungkinkan pembaca untuk memahami keseluruhan informasi yang terkandung dalam suatu bagian, meningkatkan pemahaman dan efisiensi dalam tugas membaca.</p>
<p class="ql-align-justify">Fokus Utama Skimming: judul teks, paragraf awal&amp;akhir kata kunci yang berulang, pergeseran alur atau topik.</p>
<p class="ql-align-justify">Alasan Menggunakan Teknik Skimming pada <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/cerpen/">cerpen</a> <em>Robohnya Surau Kami</em></p>
<p class="ql-align-justify">Cerpen <em>Robohnya Surau Kami</em> memuat kritik sosial dan religius yang disampaikan melalui simbol dan alur bertahap. Dengan teknik skimming, pembaca dapat dengan cepat menangkap:</p>
<p class="ql-align-justify">·        Tema utama kritik terhadap kesalehan ritualistik</p>
<p class="ql-align-justify">·        Peran simbol surau dan tokoh Kakek</p>
<p class="ql-align-justify">·        Arah pesan moral yang ingin disampaikan pengarang</p>
<p class="ql-align-justify">
<p class="ql-align-justify"><strong>2A. Identifikasi ide pokok pada setiap bagian teks</strong></p>
<p class="ql-align-justify">1.     Bagian Pembuka</p>
<p class="ql-align-justify">Pada bagian awal, pengarang menggambarkan kondidi sebuah surau kecil yang telah tua,rusak dan hamper roboh. Surau tersebut dijaga oleh seorang Kakek yang hidup sebatang kara.</p>
<p class="ql-align-justify">Ide pokok:</p>
<p class="ql-align-justify">Surau sebagai pusat ibadah yang kehilangan fungsi sosialnya.</p>
<p class="ql-align-justify">Kakek sebagai simbol individu yang mengabdikan hidupnya hanya untuk ibadah.</p>
<p class="ql-align-justify">2.     Bagian pengembangan awal</p>
<p class="ql-align-justify">Bagian ini menampilkan kehidupan sehari-hari Kakek yang sepenuhnya bergantung pada sedekah orang lain. Ia menghabiskan waktu untuk beribadah saja dan membersihkan surau, dan berdoa.</p>
<p class="ql-align-justify">Ide pokok:</p>
<p class="ql-align-justify">Pengabdian total Kakek pada ibadah tanpa usaha duniawi</p>
<p class="ql-align-justify">Pemahaman agama yang pasif dan tidak produktif secara soaaial.</p>
<p class="ql-align-justify">3.     Bagian pengembangan konflik</p>
<p class="ql-align-justify">Konflik mulai muncul melalui cerita tentang Haji Saleh yang diceritakan oleh tokoh “aku”. Dalam cerita tersebut, Haji Saleh merasa yakin untuk masuk surga karena ia rajin beribadah.</p>
<p class="ql-align-justify">Ide pokok:</p>
<p class="ql-align-justify">Keyakinan bahwa ibadah ritual menjamin keselamatan akhirat</p>
<p class="ql-align-justify">Munculnya kritik terhadap kesalehan individual yang egois.</p>
<p class="ql-align-justify">
<p class="ql-align-justify">4.     Bagian klimaks</p>
<p class="ql-align-justify">Klimaks terjadi saat Tuhan menolak pembelaan Haji Saleh. Tuhan menyatakan bahwa manusia diberi akal dan sumber daya untuk mengelola dunia, bukan hanya berdoa dan pasrah.</p>
<p class="ql-align-justify">Ide pokok:</p>
<p class="ql-align-justify">Penolakan terhadap pemaham agama yang sempit</p>
<p class="ql-align-justify">Penegawsan bahwa ibaadah harus seimbang dengan tanggung jawab social.</p>
<p class="ql-align-justify">5.     Bagian penutup</p>
<p class="ql-align-justify">Cerita ditutup dengan tragedy Kakek bunuh diri dan surau benar-benar roboh. Tidak ada lagi yang menjaga atau memakmurkannya.</p>
<p class="ql-align-justify">Ide pokok:</p>
<p class="ql-align-justify">Kehancuran surau sebagai symbol kehancuran nilai</p>
<p class="ql-align-justify">Kegagalan memahami agama secsrs utuh membawa dampak tragis.</p>
<p class="ql-align-justify">
<p class="ql-align-justify"><strong>B. Informasi pendukung utama</strong></p>
<p class="ql-align-justify">1) Deskripsi surau yang tidak terawat dan sepi jamaah</p>
<p class="ql-align-justify">2) Kehidupan Kakek yang miskin dan bergantung pada belas kasihan</p>
<p class="ql-align-justify">3) Dialog antara Haji Saleh dan Tuhan</p>
<p class="ql-align-justify">4) Sikap Tuhan yang menolak kesalehan tanpa kerja dan kepedulian</p>
<p class="ql-align-justify">5) Bunuh diri Kakek sebagai dampak dari krisi pemahaman religious</p>
<p class="ql-align-justify">
<p class="ql-align-justify"><strong>C. Makna tersirat yang terkandung dalam teks</strong></p>
<p class="ql-align-justify">Analisis cerpen <em>Robohnya Surau Kami</em> menggunakan pendekatan strukturalisme dinamik yang dipadukan dengan teori semiotik, yaitu kajian yang menekankan simbol sebagai tanda bermakna berdasarkan konvensi sosial. Judul cerpen sudah menunjukkan simbol utama, yakni “surau”, yang melambangkan keimanan dan ketaqwaan manusia kepada Tuhan. Kata “roboh” tidak merujuk pada kerusakan fisik, melainkan runtuhnya nilai iman dan moral. Keruntuhan ini tercermin melalui tokoh Kakek, seorang garin yang sangat taat beribadah dan mengabdikan hidupnya untuk surau, namun imannya goyah setelah mendengar bualan Ajo Sidi. Luka batin yang dialaminya mendorong Kakek memilih bunuh diri, padahal tindakan tersebut dilarang dalam agama. Dengan demikian, cerpen ini memaknai robohnya surau sebagai simbol rapuhnya keimanan manusia yang gagal menyelesaikan masalah secara benar dan diridai Tuhan.</p>
<p class="ql-align-justify"><strong>3A. Analisis struktur teks cerpen</strong></p>
<p class="ql-align-justify">Unsur Intrinsik</p>
<p class="ql-align-justify">Tokoh utama cerpen “Robohnya Surau Kami” adalah Kakek, seorang penjaga surau yang taat beribadah, hidup sederhana, namun memiliki kondisi psikologis lemah dan mudah terpengaruh omongan orang. Selain Kakek, terdapat tokoh Aku yang berpihak dan berperan sebagai pencerita. Tokoh lain adalah Ajo Sidi, tokoh antagonis yang pandai membual dan kurang peduli, sehingga bualannya menyebabkan Kakek bunuh diri. Haji Saleh hadir sebagai tokoh simbolik dalam bualan Ajo Sidi yang merepresentasikan nasib Kakek di hadapan Tuhan.</p>
<p class="ql-align-justify">Alur cerpen menggunakan alur campuran, dimulai dari gambaran desa dan surau, berlanjut pada kemurungan Kakek, lalu bergerak mundur menjelaskan bualan Ajo Sidi, dan diakhiri dengan kematian Kakek.</p>
<p class="ql-align-justify">Sudut pandang yang digunakan adalah orang pertama pelaku sampingan, dengan tokoh Aku sebagai penyampai cerita.</p>
<p><strong>B. Gaya bahasa</strong></p>
<p class="ql-align-justify">Contoh gaya bahasa yang digunakan Navis dalam cerpen ini:"Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi."</p>
<p class="ql-align-justify">Kutipan  ini  menggunakan  gaya  bahasa  yang  lugas,  sebagai  sarana  untuk  menyuarakan kritik terhadap sikap apatis masyarakat. Navis tampak menyatakan kritik terhadap sikap apatis masyarakat dengan ungkapan yang secara harfiah menyebut “tak hendak memelihara apa yang tidak dijaga.” Pada permukaannya kalimat itu tampak netral, bahkan bisa dibaca sebagai pernyataan logis, tetapi yang tersirat adalah sindiran bahwa  masyarakat  mengabaikan  atau  membiarkan  hal-hal  penting  hancur  karena  ketidakpedulian. Kontras antara “ketaatan beribadah” dan “kelalaian terhadap tanggung jawab sosial” memberi kesan ironi: secara religius seseorang “taat,” tetapi secara sosial melalaikan tugas manusiawi. Navis menghadirkan ironi untuk menegaskan pertentangan antara ketaatan dalam beribadah (yang direpresentasikan oleh tokoh Kakek) dengan pengabaian terhadap kewajiban sosial, yang berujung pada konsekuensi serius. Melalui narasi di atas, Navis mengajak pembaca untuk merenung tentang makna sejati dari pengabdian dan iman.</p>
<p><strong>C. Tujuan penulis</strong></p>
<p class="ql-align-justify">Pengarang yang dikenal sebagai “sang pencemooh” merupakan sosok yang kritis, kreatif, dan berpikiran jauh ke depan, hal ini tercermin dalam karya fenomenalnya <em>Robohnya Surau Kami</em>. Cerpen ini menggugat pemahaman umum tentang keimanan yang menganggap ibadah ritual seperti shalat dan haji secara otomatis menjamin surga. Melalui cerita tersebut, pengarang menunjukkan bahwa keimanan yang hanya berorientasi pada akhirat justru dapat menjerumuskan manusia apabila tanggung jawab duniawi, seperti keluarga dan kehidupan sosial, diabaikan. Dari sisi psikologis, karya ini berupaya memengaruhi dan memperbaiki pola pikir pembaca agar memahami bahwa ibadah tidak hanya terbatas pada ritual, tetapi juga mencakup kewajiban sosial seperti menafkahi keluarga dan menjalani kehidupan secara seimbang.</p>
<p><strong>D. Evaluasi kualitas argumen dan relevanasi akademik</strong></p>
<p>1) Kualitas argumen</p>
<p>Argumen disampaikan secara implisit namun kuat</p>
<p>Tidak bersifat menggurui, tetapi reflektif</p>
<p>Didukung alur cerita dan simbol yang konsisten</p>
<p>2) Relevansi dalam konteks akademik</p>
<p>Cerpen ini sangat relevan untuk kajian, sosiologi sastra,kritik sosial budaya, studi agama dan humanisme, keterampilan membaca kritis</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Kesimpulan </strong></p>
<p class="ql-align-justify">Dari  hasil tersebut  dapat disimpulkan  bahwa  terdapat  nilai  sosiologi sastra dalam cerpen "Robohnya Surau Kami". Peneliti   menemukan   gambaran   bagaimana manusia seharusnya hidup.Melalui pendekatan sosiologi   sastra,   cerpen "Robohnya Surau kami” karya  A.A.  Navis  dapat  dipahami sebagai kritik sosial yang sangat tajam terhadap realitas    masyarakat    Indonesia,    khususnya dalam hal keberagamaan dan tanggung jawab sosial.  Cerpen  ini  tidak  hanya  menawarkan kisah tentang tokoh-tokoh tertentu, melainkan menjadi   cerminan   dari   konstruksi   sosial masyarakat   yang   berkembang   pada   masa pasca-kemerdekaan,  ketika  bangsa  Indonesia sedang menghadapi berbagai tantangan pembangunan,  kemiskinan,  dan  kemunduran nilai-nilai sosial.Melalui tokoh-tokohnya, konflik yang dihadirkan, dan simbolisme surau yang roboh, cerpen    ini    menggugah    pembaca    untuk merefleksikan nilai-nilai sosial yang selama ini dibungkus  dengan  jubah  religiusitas  semu. Pendekatan sosiologi sastra membuka ruang bagi   pembacaan   yang   lebih   kritis   dan kontekstual,   bahwa   sastra   bukan   sekadar hiburan  atau  keindahan  bahasa,  tetapi  juga cermin  dan  kritik  tajam  terhadap  realitas kehidupan sosial.</p>
<p class="ql-align-justify">
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p class="ql-align-center"><strong>Daftar Pustaka</strong></p>
<p class="ql-align-center"><strong> </strong></p>
<p>Fatmawan, A. R., Dewi, N. P. Y. A., &amp; Hita, I. P. A. D. (2023). Skimming and scanning technique: is it effective for improving indonesian students’ reading comprehension? <em>Edusaintek</em>.</p>
<p>Andini, H. (2021). ANALISIS STRUKTURALISME DINAMIK PADA CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AA NAVIS. <em>NUSRA: Jurnal Penelitian dan Ilmu Pendidikan</em>, <em>2</em>(2), 157-168.</p>
<p>Hadi, M. H., &amp; Murtafi’ah, W. (2025). ANALISIS CERPEN" ROBOHNYA SURAU KAMI" KARYA AA NAVIS: PENDEKATAN SOSIOLOGI SASTRA. <em>BEGIBUNG: Jurnal Penelitian Multidisiplin</em>, <em>3</em>(4), 27-35.</p>
<p>Kulsum, D. U., Widyatwati, K., &amp; Suryadi, M. (2025). KRITIK SOSIAL PRAKTIK KEAGAMAAN DALAM CERPEN” ROBOHNYA SURAU KAMI”: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK. <em>Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia</em>, <em>21</em>(2), 566-580.</p>
<p>Nugraha, A. S. (2022). ANALISIS UNSUR INTRINSIK CERPEN” ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AHMAD ALI NAVIS. <em>Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra)</em>, <em>7</em>(2), 229-236.</p>
<p><strong> </strong></p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Sahabat Sejati: Petani dan Sapi, Cerita Anak Nusantara</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/op-ed/sahabat-sejati-petani-dan-sapi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Santo Projo (ARC)]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 20 Dec 2024 17:53:54 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Op-ed]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Anak Nusantara]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Dongeng Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Pak Jaya]]></category>
		<category><![CDATA[Petani]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=30840</guid>

					<description><![CDATA[Di sebuah desa kecil di Nusantara, hiduplah seorang Petani bernama Pak Jaya. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah panggung sederhana, dikelilingi sawah yang menjadi sumber penghidupannya. Pak Jaya memiliki seekor sapi putih besar bernama Gading. Sapi ini adalah sahabatnya sejak lama, menemani setiap langkah perjuangan Pak Jaya. Gading bukan sekadar hewan peliharaan bagi Pak Jaya. [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img width="1200" height="675" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2024/12/Sahabat-Sejati-Petani-dan-Sapi-Cerita-Anak-Nusantara.jpg" class="rssfeatured" alt="Sahabat Sejati: Petani dan Sapi, Cerita Anak Nusantara" decoding="async" srcset="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2024/12/Sahabat-Sejati-Petani-dan-Sapi-Cerita-Anak-Nusantara.jpg" sizes="(max-width: 1200px) 100vw" title="Sahabat Sejati: Petani dan Sapi, Cerita Anak Nusantara"></figure><p>Di sebuah desa kecil di Nusantara, hiduplah seorang <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/petani/">Petani</a> bernama <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/pak-jaya/">Pak Jaya</a>. Ia tinggal sendirian di sebuah rumah panggung sederhana, dikelilingi sawah yang menjadi sumber penghidupannya.</p>
<p>Pak Jaya memiliki seekor sapi putih besar bernama Gading. Sapi ini adalah sahabatnya sejak lama, menemani setiap langkah perjuangan Pak Jaya.</p>
<p>Gading bukan sekadar hewan peliharaan bagi Pak Jaya. Ia adalah teman setia yang selalu membantu di sawah, terutama saat membajak tanah. Setiap pagi, Pak Jaya akan mengikat bajak di punggung Gading dan mereka bekerja bersama di bawah terik matahari.</p>
<p>Ketika sore tiba, Pak Jaya akan mengelus kepala Gading dengan lembut sambil berkata, “Kau hebat sekali, Gading. Terima kasih atas kerja kerasmu hari ini.” Gading akan membalas dengan mengembik pelan, seolah mengerti ucapan sahabatnya itu.</p>
<p>Namun, kemarau panjang tahun itu membawa tantangan yang berat bagi mereka. Tanah sawah yang biasanya subur mulai mengeras dan retak. Mata air yang biasa mereka andalkan mengering, dan sawah menjadi sulit digarap.</p>
<p>Pak Jaya mulai khawatir karena hasil panen tahun ini terancam gagal. Di tengah kesulitan itu, persahabatan Pak Jaya dan Gading diuji dengan sebuah kejadian yang tak terduga.</p>
<h2>Kehilangan Cangkul</h2>
<p>Suatu pagi yang panas, Pak Jaya bersiap untuk membajak sawah seperti biasa. Namun, ketika ia mencari cangkul di gudang kecilnya, alat itu tidak ada di tempatnya. “Ke mana cangkulku?” gumamnya sambil mengaduk-aduk tumpukan barang di gudang.</p>
<p>Ia keluar dari gudang dan memeriksa di sekitar rumah, tetapi cangkul itu tetap tidak ditemukan.</p>
<p>“Tanpa cangkul, aku tak bisa menyelesaikan pekerjaan sawah,” ujar Pak Jaya dengan wajah muram.</p>
<p>Ia mencoba mengingat-ingat, lalu teringat bahwa kemarin ia meninggalkan cangkul itu di tepi sawah. “Ah, mungkin aku lupa membawanya pulang.” Dengan langkah tergesa-gesa, ia berjalan menuju sawah.</p>
<p>Namun, setibanya di sana, cangkul itu tidak ada. Pak Jaya mulai gelisah. Ia bertanya pada tetangga, tetapi tidak ada yang melihat cangkulnya. Tanpa cangkul, pekerjaan di sawah menjadi semakin sulit.</p>
<p>Pak Jaya hanya bisa mengandalkan bajak yang ditarik oleh Gading, tetapi itu tidak cukup untuk mengolah tanah yang keras.</p>
<h2>Gading yang Kelelahan</h2>
<p>Meski tanpa cangkul, Pak Jaya tetap memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan dengan bantuan Gading. Ia memasang bajak di punggung sapi itu dan mulai membajak tanah. Namun, karena tanah yang kering dan keras, pekerjaan menjadi jauh lebih berat dari biasanya.</p>
<p>Gading bekerja sekuat tenaga, tetapi tubuhnya mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan.</p>
<p>Ketika matahari mencapai puncaknya, Gading mulai terengah-engah. Lidahnya menjulur, dan ia berhenti menarik bajak.</p>
<p>Pak Jaya segera melepaskan bajak itu dan mengelus kepala Gading. “Maafkan aku, Gading. Kau pasti sangat lelah,” katanya dengan suara penuh penyesalan.</p>
<p>Ia melihat ke sekeliling, berharap menemukan sumber air untuk memberi minum Gading. Namun, saluran irigasi di dekat sawah sudah mengering. Pak Jaya pun memutuskan untuk membawa Gading ke sungai kecil di tepi desa.</p>
<h2>Perjalanan ke Sungai</h2>
<p>Pak Jaya menuntun Gading perlahan menuju sungai. Jalan yang mereka lalui berbatu dan berdebu, membuat perjalanan terasa semakin berat.</p>
<p>Ketika akhirnya mereka tiba di sungai, harapan Pak Jaya hancur. Sungai itu hampir kering, hanya menyisakan genangan kecil di beberapa tempat.</p>
<p>Dengan hati-hati, Pak Jaya mengambil air dari genangan itu menggunakan tangannya dan memberikannya kepada Gading. “Minumlah, Gading.</p>
<p>Ini tidak banyak, tapi setidaknya kau tidak kehausan,” katanya. Gading meminum air itu dengan perlahan, tetapi jelas tidak cukup untuk memuaskan dahaganya.</p>
<p>Pak Jaya merasa bersalah. Ia tahu Gading telah bekerja sangat keras, tetapi ia tidak bisa memberinya istirahat yang layak. “Aku harus menemukan cara untuk membantu Gading dan menyelesaikan pekerjaan sawah,” pikirnya.</p>
<h2>Penemuan di Hutan</h2>
<p>Sore harinya, seorang anak desa datang ke rumah Pak Jaya. Anak itu berkata bahwa ia melihat jejak kaki sapi lain di hutan dekat desa. Anak itu juga mendengar suara gemericik air dari dalam hutan.</p>
<p>Mendengar kabar itu, Pak Jaya segera memutuskan untuk pergi ke hutan dengan Gading, berharap menemukan sumber air baru.</p>
<p>Perjalanan ke hutan tidak mudah. Jalan setapak yang mereka lalui dipenuhi semak belukar dan pohon tumbang. Namun, Pak Jaya tidak menyerah. Ia terus menuntun Gading, meski sapi itu tampak lelah.</p>
<p>Setelah berjalan cukup jauh, mereka akhirnya tiba di sebuah area dengan bebatuan besar. Di sana, Pak Jaya mendengar suara gemericik air yang lemah.</p>
<p>Dengan penuh semangat, ia mencari sumber suara itu dan menemukan mata air kecil yang memancar dari sela-sela bebatuan. Airnya jernih dan segar. Pak Jaya segera mengambil air itu dan memberikannya kepada Gading.</p>
<p>Sapi itu minum dengan lahap, dan wajahnya yang lelah mulai terlihat segar kembali.</p>
<p>Pak Jaya juga mengisi ember yang dibawanya, lalu membawa air itu kembali ke desa untuk menyiram sawah. “Ini adalah awal yang baik,” pikirnya. “Aku harus berbagi kabar baik ini dengan tetangga.”</p>
<h2>Kerja Sama Desa</h2>
<p>Keesokan harinya, Pak Jaya mengajak para tetangga untuk membantu mengalirkan air dari mata air di hutan ke sawah-sawah desa. Dengan kerja sama, mereka memasang bambu panjang sebagai saluran air darurat.</p>
<p>Gading juga ikut membantu dengan menarik bambu-bambu berat itu bersama sapi-sapi lain di desa.</p>
<p>Meski lelah, Gading tampak bahagia karena bisa membantu. Pak Jaya memeluk leher sapi itu dan berkata, “Kau memang sahabat terbaikku, Gading. Tanpa bantuanmu, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.”</p>
<h2>Kembalinya Cangkul</h2>
<p>Saat air mulai mengalir ke sawah-sawah desa, seorang pemuda datang ke rumah Pak Jaya membawa cangkul yang hilang. “Pak Jaya, ini cangkulmu. Saya menemukannya di tepi jalan dekat ladang kemarin.</p>
<p>Sepertinya tertinggal ketika Anda terburu-buru,” kata pemuda itu.</p>
<p>Pak Jaya sangat bersyukur. Dengan cangkulnya kembali dan air yang mengalir ke sawah, ia bisa melanjutkan pekerjaannya.</p>
<p>Tanah yang tadinya keras mulai lunak, dan benih padi bisa ditanam kembali.</p>
<h2>Akhir Bahagia</h2>
<p>Kemarau itu tetap menjadi ujian berat bagi desa, tetapi berkat kerja sama dan persahabatan, mereka berhasil melewatinya. Gading menjadi simbol kekuatan dan ketulusan, dihormati oleh semua penduduk desa.</p>
<p>Anak-anak sering datang ke rumah Pak Jaya untuk mendengar cerita tentang bagaimana Gading membantu menyelamatkan desa.</p>
<p>Pak Jaya, sambil mengelus kepala sahabatnya, berkata, “Kita telah melewati banyak hal bersama, Gading. Kau bukan hanya sapi, kau adalah keluarga.” Gading mengembik pelan, seolah berkata, “Kita adalah tim yang tak terkalahkan.”</p>
<h3>Pesan Moral:</h3>
<p>Dalam menghadapi kesulitan, kerja sama, kesetiaan, dan ketekunan adalah kunci untuk menemukan solusi. Persahabatan sejati tidak hanya memberikan kekuatan, tetapi juga harapan di tengah badai kehidupan.</p>
<p>© 2026. Artikel <a rel="nofollow" href="https://www.pewartanusantara.com/op-ed/sahabat-sejati-petani-dan-sapi/">Sahabat Sejati: Petani dan Sapi, Cerita Anak Nusantara</a> diterbitkan pertamakali di <a rel="nofollow" href="https://www.pewartanusantara.com">Pewarta Nusantara</a>.</p>]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pementasan Drama Adaptasi Kumpulan Cerpen Umi Kalsum di Pekan Kebudayaan Nasional 2023</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/op-ed/pementasan-drama-adaptasi-kumpulan-cerpen-umi-kalsum-di-pekan-kebudayaan-nasional-2023/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Ardi Sentosa]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 14 Nov 2023 04:52:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Op-ed]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[Drama]]></category>
		<category><![CDATA[kebudayaan]]></category>
		<category><![CDATA[pekan kebudayaan nasional]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=29106</guid>

					<description><![CDATA[Pekan kebudayaan Nasional atau yang disingkat menjadi PKN merupakan sebuah acara gelaran dwitahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sejak tahun 2019. Pada tahun 2023 ini gelaran pekan kebudayaan nasional diselenggarakan pada tanggal 20-29 Oktober 2023 dan tersebar di 40 titik lokasi wilayah JABODETABEK, salah satunya di Ruang Tamu PBSI FITK [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>Pekan <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/kebudayaan/">kebudayaan</a> Nasional atau yang disingkat menjadi PKN merupakan sebuah acara gelaran dwitahunan yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sejak tahun 2019. Pada tahun 2023 ini gelaran <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/pekan-kebudayaan-nasional/">pekan kebudayaan nasional</a> diselenggarakan pada tanggal 20-29 Oktober 2023 dan tersebar di 40 titik lokasi wilayah JABODETABEK, salah satunya di Ruang Tamu PBSI FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berada di Ciputat, Tanggerang Selatan. PKN 2023 di Ciputat, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta diselenggarakan mulai dari tanggal 20-28 Oktober 2023 dengan mengusung tema "Resonansi Budaya Islam: dari Ciputat untuk Dunia". Beragam kegiatan dilaksanakan untuk memeriahkan acara mulai dari penampilan-penampilan bakat seperti membaca puisi, musikalisasi puisi, pantun, menari dan sebagainya yang ditampilkan oleh mahasiswa PBSI UIN Jakarta dan juga dari beberapa mahasiswa prodi lain yang ikut memeriahkan Pekan Kebudayaan Nasional 2023 di UIN Jakarta ini.</p>
<p>Selain penampilan-penampilan tersebut, juga dibuka "Pojok Baca Danarto" yang memberikan akses kepada mahasiswa terkait dengan karya-karya yang ditulis oleh Danarto. Ada juga bedah buku "Surat Jibril" karya Maftuhah Jakfar, diskusi mengenai "Resonansi Budaya Islam dalam <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/sastra/">Sastra</a> dan Seni Rupa", workshop Stand Up Comedy, tribute untuk mengapresiasi Budayawan Muslim Ciputat, Jamal D. Rahman, serta Monolog Putu Wijaya. Berbagai kegiatan menarik mengenai sastra yang ditampilkan pada Pekan Kebudayaan Nasional 2023 akan sayang untuk tidak dibahas atau dibedah. Penampilan dari para mahasiswa UIN Jakarta menarik untuk dikaji menggunakan teori-teori sastra salah satunya pada kajian sastra bandingan, alih wahana. Penampilan dari mahasiswa-mahasiswa ini membawakan beragam jenis karya sastra seperti puisi, pantun, monolog, dan bahkan <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/drama/">Drama</a>.</p>
<p>Ada salah satu penampilan yang menarik untuk dikaji dengan kajian sastra bandingan alih wahana yaitu dari penampilan mahasiswa PBSI UIN Jakarta Semester 5 kelas B. Mahasiswa semester 5 ini, menampilkan Dramatisasi <a href="https://www.pewartanusantara.com/tag/cerpen/">cerpen</a> Umi Kalsum yang merupakan sebuah adaptasi dari naskah cerpen Umi Kalsum karya Djamil Suherman. Alih wahana yang tadinya berbentuk sebuah cerpen kemudian ditampilkan menjadi sebuah drama menarik untuk dibahas. Maka dari itu, artikel yang saya tulis ini akan membahas mengenai "Alih Wahana Cerpen Umi Kalsum menjadi Drama di Pekan Kebudayaan Nasional 2023".</p>
<p>Alih wahana dapat diartikan sebagai perubahan dari satu jenis kesenian ke jenis kesenian lain. Sebuah karya sastra tidak hanya bisa dialihkan dari satu bahasa ke bahasa lain atau yang disebut dengan sastra terjemahan, tetapi juga dapat dialihwahanakan, yakni diubah menjadi jenis kesenian lain. Alih wahana pada cerita rekaan, misalnya, bisa diubah menjadi tari, drama, atau film; sedangkan pada karya sastra puisi bisa diubah menjadi lagu atau lukisan.,Namun hal yang sebaliknya bisa juga terjadi, misalnya sebuah novel ditulis berdasarkan film atau drama, dan puisi bisa lahir dari lukisan atau lagu.</p>
<p>Sebuah karya sastra yang beralih wahana itu merupakan kegiatan yang sah dan bermanfaat bagi pemahaman untuk memahami lebih dalam mengenai hakikat sastra. Kegiatan penelitian di bidang ini akan menyadarkan diri kita bahwa sastra dapat bergerak bebas ke arah manapun, berubah-ubah unsur-unsurnya agar bisa sesuai dengan wahananya yang baru. Pada kegiatan Pekan Kebudayaan Nasional 2023 di FITK PBSI UIN Jakarta, para mahasiswa semester 5 kelas B melakukan sebuah pertunjukkan yang bisa dibilang mini drama dengan naskah yang diambil dari kumpulan cerpen karya Djamil Suherman berjudul Umi Kalsum. Alih wahana yang tadinya berbentuk kumpulan cerpen dikemas secara lebih singkat menjadi sebuah naskah drama yang berdurasi kurang lebih 24 menit ini menarik untuk dibahas.</p>
<p>Cerpen Umi Kalsum merupakan cerpen karya Djamil Suherman yang terbit di Bandung oleh Mizan pada tahun 1993. Cerpen ini terdapat pada buku berjudul "Umi Kalsum Kisah-Kisah Pesantren" yang memiliki halaman sebanyak 123 halaman. Secara singkat cerpen ini menceritakan tentang seorang gadis pesantren di desa Kedumpring bernama Umi Kalsum yang kehidupannya selalu diatur oleh sang ayah yang memiliki sikap sombong dan pada akhirnya mengakhiri hidupnya sendiri karena tidak kuat dengan cobaan yang diberikan. Tidak hanya cerpen mengenai Umi Kalsum saja, tapi dalam kumpulan cerpen Djamil Suherman ini ada beberapa kisah-kisah di pesantren yang salah satunya mengambil konsep percintaan, namun ada bagian religiusitas juga. Seperti tentang Amran dan Fatimah, Jamil dan Zainab serta Umi ada dalam kumpulan cerpen ini yang memiliki kisah berbeda namun saling berkesinambungan.</p>
<p>Alih wahana yang dipentaskan oleh mahasiswa semester 5 kelas B ini tentu saja disesuaikan dengan konsep yang diusung. Tidak semua yang tertulis dalam kumpulan cerpen dimasukan ke dalam naskah drama. Karena alasan durasi pementasan dan juga tempat pementasan, banyak perubahan yang terjadi antara cerita dalam kumpulan cerpen dan dalam naskah drama yang dibuat. Seperti contohnya bagaimana kematian Umi yang jika dilihat dari cerpen adalah dengan gantung diri, namun saat dialih wahanakan menjadi drama, diubah dengan menyayat pergelangan tangannya.</p>
<p>Perubahan ini disebabkan karena kekurangan properti dan terlalu berbahaya jika harus menggunakan tali gantung, jadi penggarap naskah memilih opsi lain yang lebih mudah untuk dipentaskan. Selain masalah perubahan cara kematian Umi, karena di dalam pementasan drama ini ingin mengusung tema religius sesuai dengan tema Pekan Kebudayaan Nasional di PBSI UIN Jakarta, tidak hanya mengambil kisah yang berfokus pada Umi saja, namun dengan tokoh lain yang masih berkesinambungan dengan cerita. Namun, hal ini malah membuat adanya "plot hole" atau cerita tak lengkap karena hanya mengambil sebagian-sebagian kisah penting dari cerpen. Ada bagian yang tidak dimasukkan dalam naskah drama, namun dijelaskan dalam cerpen. Seperti tokoh Mursid yang disebut telah menghamili Umi, namun tokoh ini tidak dimunculkan dalam drama. Padahal pada cerpennya, Mursid memiliki peran penting yang membuat kematian Umi semakin jelas.</p>
<p>Ada juga kisah Amran dan Fatimah yang hanya diperlihatkan sekilas saja. Jadi, di dalam pentas drama ini menurut saya masih banyak cerita-cerita yang tak lengkap dan sulit dipahami apabila tidak membaca kumpulan cerpen tersebut. Selain dari segi perubahan pada bagian alih wahana cerpen menjadi naskah drama, ada hal lain yang berubah yaitu penggambaran tokoh. Penggambaran tokoh Umi dalam cerpen terlihat seperti seorang gadis yang lemah lembut dan cantik, suaranya halus. Namun, saat di pentaskan, peran Umi berubah menjadi sosok perempuan yang berjiwa kuat karena kurangnya pemahaman pemain dalam mendalami karakter Umi.</p>
<p>Tetapi dibalik kekurangan dari alih wahana cerpen menjadi drama yang ditampilkan mahasiswa PBSI ini, menurut saya pementasannya berjalan dengan lancar. Dan saya sangat menikmati penampilan yang dibawakan oleh mahasiswa. Ada pesan-pesan mendalam yang dapat diambil dan ada pula bagian seperti tata musik yang melengkapi cerita. Karena jika hanya dalam bentuk tulisan, tidak ada penggambaran audio di sana, namun jika berubah menjadi sebuah pertunjukkan drama, tentunya audio visual sangat memengaruhi pementasan tersebut. Begitulah, pendapat saya mengenai Pekan Kebudayaan Nasional yang diadakan di FITK PBSI UIN Jakarta. Masih banyak penampilan lain yang menarik dan akan ada puncaknya di Tribute nanti pada tanggal 28 Oktober 2023.</p>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
