Pewarta Nusantara

Tentang Sesuatu yang Hampir Punah

Kau biasanya duduk di sana, sebelum memulai hari-hari berat. Punggungmu bersandar pada dinding, lalu suara musik terdengar dari benda kecil yang kauletakkan di sampingmu. Jika matahari sudah kelihatan, kau akan bangkit dan bersiap-siap. Istrimu akan menyiapkan sarapan untukmu, agar kau kuat menjalani beratnya mengangkat kebenaran.
Kau mendatangi tempat itu, pada jam—yang orang-orang bilang—resmi. Beberapa orang di sana akan menyalamimu, menanyakan kabar, bicara ini-itu, dan sebagainya. Lalu, pekerjaan dimulai.
“Jaraknya cukup jauh dari sini. Kau harus cepat, sebelum banyak mulut lain bicara tentang objek yang sama.” Itu yang dikatakan laki-laki di hadapanmu, yang sibuk menatap layar komputer dengan jari-jari yang dibiarkan menari di atas huruf-huruf.
Sepeda motor di parkiran itu seperti melaju secapat kilat. Tidak boleh sampai ada kelalaian. Sepanjang jalan, banyak pengendara lain yang harus didahului, sebab memang tugas adalah hal penting. Namun demikian, peraturan lalu lintas tetap harus ditaati. Seperti di lampu merah-lampu merah yang dipenuhi sesak, asap kendaraan, carut-marut klakson, pengemis, pengamen, sampai preman; yang mau tidak mau harus kaumaklumi.
Dan yang kaucari di sekitaran darah-darah yang tumpah hari itu, adalah orang yang paling bisa dipercaya. Entah satu, dua, tiga, atau lebih, agar bisa mengatakan tentang kebenaran yang terjadi.
“Mobil itu melaju kencang dan sopirnya mungkin tidak sempat menginjak rem,” kata laki-laki yang mengenakan singlet dan celana biru muda berdasar tebal itu.
“Sama-sama salah sebenarnya, tapi korbannya pengendara motor. Sekarang sedang dibawa ke rumah sakit.” Bapak-bapak pegawai itu bisa kauanggap sebagai penambah informasi.
Kau bertanya, bertanya, dan bertanya, kemudian kau tahu akan sedikit hal, beberapa hal, sampai banyak hal. Kausimpulan. Dalam rapalan peristiwa itu, kautitipkan banyak hal.
Sekali waktu kau berangkat pagi-pagi sekali. Setelah pamit pada istri dan anak-anakmu, kau menggendong tas besar itu, lalu melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan singkat.
“Ayah akan keluar kota,” kata istrimu pada anak-anak yang masih lugu itu. Mereka hanya melongo.
“Jadi, Ayah kapan pulang, Bu?” Si Sulung, yang saat itu baru selesai mengenakan seragam sekolahnya, memberanikan diri bertanya.
“Seminggu lagi. Ada longsor, dan Ayah harus menjalankan tugasnya. Bisa jadi Ayah lebih lama di sana.”
Mereka hanya manggut-manggut. Karena memang begitulah adanya, maka mereka harus selalu mengerti. Namun, kepulanganmu ke rumah adalah sesuatu yang sangat dinanti-nanti.
Akan ada banyak cerita setiap selesai menjalani hari-hari panjang. Apalagi ketika langkah kaki begitu jauh pergi, tentu saja, mereka akan sangat antusias mendengarannya. Ada tawa, sedih, kengerian, juga bangga yang tak terungkapkan tentangmu. Dan, jika ceritamu terhenti—entah karena kau lelah atau terlalu malam—mereka akan kecewa dan memintamu untuk melanjutkannya lain waktu.
Rasanya, mereka tak akan lupa tentang malam itu. Ketika pulang dan melihat vas bunga di atas meja pecah, kau bertanya pada mereka berdua, siapa yang memecahkannya. Tak ada yang mengaku dan mereka saling tuduh. Si Sulung terpaksa memukul si Bungsu karena tak mau mengalah, kemudian keduanya menangis dan malam itu terasa ribut di hati mereka karena ketakutan.
“Bukan saya, Ayah, tapi Adik.”
“Bukan, Ayah.”
“Kalau tidak ada yang jujur, nanti masuk neraka. Iblis akan ajak orang-orang yang suka bohong untuk jadi temannya di neraka, supaya bisa dibakar sama-sama. Kalian mau masuk neraka?”
Keduanya menggeleng sambil merengut.
“Jadi, siapa yang memecahkan vas bunga itu?”
Keduanya hampir serentak menangkat tangan. Kemudian, mereka berdua mengaku sedang bermain membangun taman dan mengambil bunga dari vas itu, tapi ketika mengambilnya, benda itu jatuh dari meja. Pecah.
Kau memeluk mereka berdua malam itu. Lelahmu terobati akan kejujuran. Lalu kau menjelaskan: “menjadi jujur itu susah. Jujur itu mengatakan yang sebenarnya. Kadang-kadang, orang takut untuk jujur, makanya jujur jadi susah dilakukan. Selain itu, ada juga orang-orang yang suka berbohong, sehingga jujur menjadi hal yang sulit mereka lakukan.”
“Makanya, kalian harus belajar jujur dari Ayah.” Istrimu yang baru selesai menyiapkan makan malam menambahkan. Kedua anakmu terpaku. “Sudah, ayo kita makan dulu,” tandasnya.
Sejak hari itu, anak-anakmu mulai berusaha jujur sejak dalam pikiran. Mereka akan cerita banyak hal tentang hari-hari mereka dan kau akan menanggapinya dengan hangat.
Namun, seiring waktu, menjadi orang jujur ternyata semakin sulit. Kejujuran tentang diri sendiri ternyata memang lebih susah daripada tentang orang lain. Orang-orang suka melihat tanpa bercermin. Tapi kau tetap berusaha jujur di antara kebohongan yang berserakan di mana-mana.
“Orang yang jujur adalah pahlawan yang memulai perjuangan dari diri sendiri,” katamu sekali waktu pada anak-anakmu.
“Berarti kami juga bisa jadi pahlawan kan, Yah?”
“Bisa. Semua orang bisa jadi pahlawan, dan menjadi pahlawan bagi diri sendiri adalah awal untuk menjadi pahlawan bagi orang lain.”
“Berarti, kami harus mulai dari diri sendiri dong, Yah?”
“Ya, tentu.”
“Terus, kami akan diperingati setiap 10 November kan, Yah?”
“Ha-ha-ha… ya, ya, ya… kalian akan diperingati setiap tanggal itu.” Kau kelihatannya riang sekali mendengar keluguan itu. “Tapi ingat, harus berarti bagi diri sendiri dan orang lain.”
“Iya, Ayah.” Si Sulung mengangguk mantap. Dia menatap si Bungsu, lalu… “asyik! Aku jadi pahlawan. Aku adalah pahlawan.” Lalu dia berdiri di atas sofa sambil memamerkan otot lengan kanannya yang kecil sedangkan lengan kirinya di belakang.
“Kakak, Adik juga mau jadi pahlawan!” Si Bungsu buru-buru menggeser kakaknya dan bergaya di sana.
“Ih, Kakak duluan. Kamu belakangan jadi pahlawannya.”
“Sudah, sudah…. Kalian sama-sama jadi pahlawannya,” katamu menengahi.
“Asyik! Kan, Kakak dengar kata Ayah.”
Tapi tak ada yang menyangka bahwa malam itu tiba-tiba berubah. Beberapa orang menangkapmu dan memaksamu ikut dengan mereka. Kata-katamu dalam sebuah surat kabar telah memaksa kebohongan untuk keluar dari sarangnya dengan cara tidak beradab. Kasus korupsi yang terungkap di sana seperti ancaman serius, sampai-sampai harus memakai tangan iblis untuk menangkapmu.
Entah di mana kau sekarang. Tapi yang jelas, anak-anakmu mulai mengerti, bahwa kejujuran hampir jadi barang haram di dunia ini.
Jika suatu saat kau tiada lagi, mereka akan ingat, kau biasanya duduk di sana, sebelum memulai hari-hari berat. Punggungmu bersandar pada dinding, lalu suara musik terdengar dari benda kecil yang kauletakkan di sampingmu. Jika matahari sudah kelihatan, kau akan bangkit dan bersiap-siap. Istrimu akan menyiapkan sarapan untukmu, agar kau kuat menjalani beratnya mengangkat kebenaran.

(Bangko, 10-10-2017)

Nonton Streaming TV Online.
Mareza Sutan A J

Mareza Sutan A J

Advertisement