<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Mental | Pewarta Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.pewartanusantara.com/tag/mental/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pewartanusantara.com</link>
	<description>Portal Berita Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Mon, 29 Dec 2025 14:31:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2024/11/cropped-icon-pewarta-1-32x32.png</url>
	<title>Mental | Pewarta Nusantara</title>
	<link>https://www.pewartanusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Menurut Studi: Malas Adalah Salah Satu Ciri Orang Cerdas dan Memiliki IQ tinggi</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/menurut-studi-malas-adalah-salah-satu-ciri-orang-ccerdesa-dan-memiliki-iq-tinggi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Mon, 29 Dec 2025 14:00:08 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Mental]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=34372</guid>

					<description><![CDATA[Beberapa studi menunjukkan adanya korelasi antara kecenderungan malas secara fisik dengan tingkat kecerdasan atau IQ tinggi, meskipun bukan sebagai ciri mutlak.[1][2] &#160; ## Studi Utama Penelitian dari Florida Gulf Coast University tahun 2016, yang diterbitkan di Journal of Health Psychology, membagi 60 peserta menjadi kelompok &#8220;pemikir&#8221; (high Need for Cognition/NFC) dan non-pemikir. Kelompok pemikir, yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Salinan-dari-Sumber-inilah.com_20251229_205840_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Beberapa studi menunjukkan adanya korelasi antara kecenderungan malas secara fisik dengan tingkat kecerdasan atau IQ tinggi, meskipun bukan sebagai ciri mutlak.[1][2]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>## Studi Utama</p>
<p>Penelitian dari Florida Gulf Coast University tahun 2016, yang diterbitkan di Journal of Health Psychology, membagi 60 peserta menjadi kelompok &#8220;pemikir&#8221; (high Need for Cognition/NFC) dan non-pemikir. Kelompok pemikir, yang lebih suka aktivitas mental seperti memecahkan teka-teki, cenderung kurang aktif fisik selama hari kerja dibandingkan kelompok lain, menandakan mereka lebih fokus berpikir daripada bergerak.[3][9][1]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>## Alasan Psikologis</p>
<p>Orang dengan IQ tinggi sering punya rentang perhatian panjang dan jarang bosan, sehingga mereka memilih menghabiskan waktu untuk pemikiran mendalam ketimbang aktivitas fisik rutin. Studi serupa tahun 2015 juga menemukan orang malas fisik rata-rata lebih cerdas karena lebih menikmati stimulasi mental intens.[2][7]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>## Batasan Temuan</p>
<p>Tidak semua orang malas pintar, dan ini hanyalah korelasi, bukan sebab-akibat; faktor lain seperti lingkungan berpengaruh. Di akhir pekan, aktivitas fisik kedua kelompok mirip, menunjukkan pola bersantai universal.[5][1]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[1](https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-8174563/jangan-salah-sangka-dulu-orang-yang-terlihat-malas-bisa-jadi-punya-iq-tinggi)</p>
<p>[2](https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-5842989/benarkah-orang-yang-cenderung-malas-lebih-cerdas)</p>
<p>[3](https://hellosehat.com/mental/mental-lainnya/ciri-ciri-orang-pintar-tapi-malas/)</p>
<p>[4](https://www.instagram.com/p/DRwYc9fkv9F/)</p>
<p>[5](https://nsd.co.id/posts/ketahui-apakah-benar-orang-malas-punya-iq-lebih-tinggi-memahami-fakta-dan-mitos.html)</p>
<p>[6](http://www.intipesan.com/inilah-lima-tanda-yang-menunjukkan-kamu-memiliki-iq-tinggi/)</p>
<p>[7](https://www.jawapos.com/lifestyle/015206894/8-ciri-unik-orang-yang-memiliki-iq-tinggi-dan-sangat-cerdas-menurut-penelitian-salah-satunya-pemalas?page=2)</p>
<p>[8](https://intisari.grid.id/read/031768723/benarkah-orang-malas-justru-punya-iq-lebih-tinggi-dibandingkan-orang-yang-rajin)</p>
<p>[9](https://www.tempo.co/ekonomi/berantakan-dan-malas-ciri-khas-orang-cerdas-478380)</p>
<p>[10](https://www.facebook.com/photo.php?fbid=26225168933751332&amp;set=a.162191943809054&amp;type=3)</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Studi Mengatakan: Semakin Kamu Mencintai Pasanganmu, Kamu akan Merasa Angantuk di Dekatnya</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/studi-mengatakan-semakin-kamu-mencintai-pasanganmu-kamu-akan-merasa-angantuk-di-dekatnya/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 14:35:56 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Mental]]></category>
		<category><![CDATA[sikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33566</guid>

					<description><![CDATA[Cinta Mengubah Tubuh Secara Nyata, Ilmu Pengetahuan Ungkap Peran Oksitosin &#160; Cinta tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga memicu perubahan nyata pada tubuh manusia. Sejumlah temuan ilmiah menunjukkan bahwa perasaan cinta berkaitan erat dengan pelepasan oksitosin, hormon yang berperan penting dalam membangun ikatan emosional sekaligus memengaruhi kondisi fisik. &#160; Oksitosin kerap disebut sebagai hormon [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251223_213334_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Cinta Mengubah Tubuh Secara Nyata, Ilmu Pengetahuan Ungkap Peran Oksitosin</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cinta tidak hanya berdampak pada emosi, tetapi juga memicu perubahan nyata pada tubuh manusia. Sejumlah temuan ilmiah menunjukkan bahwa perasaan cinta berkaitan erat dengan pelepasan oksitosin, hormon yang berperan penting dalam membangun ikatan emosional sekaligus memengaruhi kondisi fisik.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Oksitosin kerap disebut sebagai hormon ikatan karena dilepaskan ketika seseorang berada dekat dengan individu yang dipercaya, seperti pasangan atau orang terdekat. Pelepasan hormon ini meningkatkan rasa aman, menurunkan tingkat stres, serta memperkuat empati, kepercayaan, dan pola komunikasi yang positif dalam sebuah hubungan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di tingkat otak, oksitosin bekerja menenangkan sistem saraf. Hormon ini membantu meredam respons stres dan memperkuat koneksi emosional, sehingga individu cenderung merasa lebih tenang dan nyaman saat bersama orang yang dicintai. Efek tersebut menjelaskan mengapa kedekatan emosional sering kali diikuti perasaan damai dan stabil secara psikologis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dampaknya tidak berhenti di otak. Secara fisik, oksitosin memperlambat detak jantung, menurunkan tekanan darah, serta melebarkan pembuluh darah. Proses ini meningkatkan sirkulasi darah dan mengurangi ketegangan otot. Tubuh pun beralih ke mode rest-and-digest, kondisi fisiologis yang mendukung relaksasi, rasa kantuk, serta penurunan peradangan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Penelitian juga menemukan bahwa cinta romantis, terutama pada fase awal hubungan, berkaitan dengan perubahan pada sistem kekebalan tubuh. Aktivitas gen tertentu mengalami penyesuaian, yang berdampak pada penurunan reaktivitas emosional otonom. Pola ini serupa dengan mekanisme biologis pada ikatan antara ibu dan anak, yang melibatkan interaksi oksitosin dan dopamin di area otak yang mengatur rasa senang dan penghargaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Temuan-temuan tersebut menegaskan bahwa cinta bukan sekadar pengalaman emosional, melainkan proses biologis yang kompleks. Melalui kerja hormon dan sistem saraf, cinta terbukti mampu memengaruhi kesehatan tubuh, memperkuat ikatan sosial, serta membantu manusia beradaptasi secara fisik dan psikologis.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Tenyata Bencana Banjir Aceh Lebih parah dari dampak Tsunami yang terjadi di tahun 2004.!</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/tenyata-bencana-banjir-aceh-lebih-parah-dari-dampak-tsunami-yang-terjadi-di-tahun-2004/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 10:36:21 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[akses]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[Mental]]></category>
		<category><![CDATA[Perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[psikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33481</guid>

					<description><![CDATA[Pengungsi banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang mengalami beban psikologis berat, seperti peningkatan sensitivitas emosi, mudah marah, sering melamun, hingga mimpi buruk dikejar air. Psikolog klinis Yulia Direzkia menyatakan trauma ini lebih parah daripada tsunami Aceh 2004 karena keterlambatan pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih dan layanan kesehatan. Kondisi tenda pengungsian yang sempit, lembap, [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251223_171530_0000-scaled.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Pengungsi banjir bandang dan longsor di Aceh Tamiang mengalami beban psikologis berat, seperti peningkatan sensitivitas emosi, mudah marah, sering melamun, hingga mimpi buruk dikejar air. Psikolog klinis Yulia Direzkia menyatakan trauma ini lebih parah daripada tsunami Aceh 2004 karena keterlambatan pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih dan layanan kesehatan. Kondisi tenda pengungsian yang sempit, lembap, dan minim fasilitas memperburuk stres fisik serta mental para penyintas.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Cerita Pengungsi</p>
<p>Ratnawati (54 tahun) dari Desa Suka Jadi sering emosional karena kesulitan akses air dan ketidakadilan bantuan sembako, sementara cucu-cucunya rewel dan menangis berjam-jam. Warno (56 tahun) mengaku sering melamun dan berharap malam tiba agar tak kepikiran kehancuran rumahnya. Nursahati (30 tahun) menyoroti kebutuhan konseling bagi anak-anak yang trauma.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dampak Psikologis</p>
<p>Pengungsi merasa lelah fisik dan mental, dengan gejala acute stress disorder yang berisiko jadi PTSD kronis jika tak ditangani, termasuk kilas balik dan ledakan emosi. Psikolog merekomendasikan Psychological First Aid (PFA) sejak fase darurat: amati, dengar, dan hubungkan ke bantuan dasar. Korban juga takut hujan turun, menandakan kecemasan tinggi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Upaya Pemulihan</p>
<p>Polda Aceh telah berikan trauma healing ke 350 pengungsi di Posko Desa Sriwijaya, fokus anak, perempuan, dan lansia. TNI AL lakukan pemulihan emosional di Posko Dusun Rantau Pauh via Dinas Psikologi. BKKBN Aceh prioritaskan kelompok rentan untuk pulihkan kondisi normal p</p>
<p>ascabencana.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Viral: Jarang Orang Tua Memastikan Mental Anak Sejak Dini</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/viral-jarang-orang-tua-memastikan-mental-anak-sejak-dini/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 21 Dec 2025 14:55:16 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Mental]]></category>
		<category><![CDATA[peduli]]></category>
		<category><![CDATA[Pendidikan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33240</guid>

					<description><![CDATA[Sebuah unggahan viral di Instagram menyoroti langkah tak biasa seorang ibu yang membawa anaknya ke rumah sakit jiwa (RSJ) untuk menjalani pemeriksaan kesehatan mental sebagai bagian dari persiapan masuk sekolah dasar. Tindakan tersebut menuai beragam respons publik dan memicu diskusi luas di media sosial. &#160; Video yang diunggah akun @kanya_nareswari dan dibagikan ulang oleh sejumlah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Salinan-dari-Sumber-inilah.com_20251221_190903_0000-1.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Sebuah unggahan viral di Instagram menyoroti langkah tak biasa seorang ibu yang membawa anaknya ke rumah sakit jiwa (RSJ) untuk menjalani pemeriksaan kesehatan mental sebagai bagian dari persiapan masuk sekolah dasar. Tindakan tersebut menuai beragam respons publik dan memicu diskusi luas di media sosial.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Video yang diunggah akun @kanya_nareswari dan dibagikan ulang oleh sejumlah akun lain memperlihatkan seorang anak berusia sekitar enam tahun tengah menjalani pemeriksaan di RSJ. Sang ibu disebut ingin memastikan anaknya memenuhi persyaratan administratif sekolah yang mensyaratkan surat keterangan sehat mental sebelum diterima sebagai peserta didik baru.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Unggahan tersebut mendapat banyak perhatian warganet. Sejumlah komentar memuji langkah sang ibu sebagai bentuk kepedulian dan kesiapan orang tua terhadap masa depan anak. Ungkapan seperti “Ibunya cerdas, anaknya cerdas” menjadi representasi apresiasi publik terhadap pendekatan yang dinilai proaktif dalam memastikan kesiapan anak mengikuti pendidikan formal.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dari sisi latar belakang, persyaratan surat keterangan kesehatan mental diketahui kerap diterapkan di beberapa sekolah, terutama dalam proses seleksi tertentu atau pada jalur pendidikan khusus. Hal ini membuat sebagian orang tua memilih langkah preventif dengan melakukan pemeriksaan sejak dini.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Secara sosial, tindakan tersebut dinilai berdampak positif karena mendorong kesadaran akan pentingnya kesehatan mental anak, yang selama ini kerap terabaikan. Pemeriksaan dini dipandang dapat membantu mencegah potensi masalah psikologis, sekaligus mengurangi risiko stigma, perundungan, atau diskriminasi di lingkungan sekolah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun demikian, tidak sedikit pula kritik yang muncul. Sebagian warganet mempertanyakan akses layanan RSJ yang belum merata serta kekhawatiran adanya pelabelan berlebihan terhadap anak. Perdebatan pun berkembang, apakah langkah tersebut merupakan bentuk kehati-hatian yang bijak atau justru berlebihan di tengah sistem pendidikan yang dinilai kaku dalam persyaratan administratif.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlepas dari pro dan kontra, peristiwa ini membuka ruang diskusi publik mengenai peran orang tua, sekolah, dan negara dalam menjamin kesehatan mental anak sejak dini sebagai bagian integral dari dunia pendidikan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Video: @kanya_nareswari</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mengapa Emosi Perlu Dikelola?</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/mengapa-emosi-perlu-dikelola/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 17 Dec 2025 12:45:18 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Mental]]></category>
		<category><![CDATA[sikologi]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=32664</guid>

					<description><![CDATA[Emosi seperti marah, kecewa, atau merasa tidak dihargai memang bagian alami dari kehidupan manusia yang dialami semua orang.​ Mengapa Emosi Perlu Dikelola Emosi negatif jika tidak ditangani bisa memicu kekerasan atau konflik, tapi dengan kesadaran diri, kita bisa mengenali pemicunya seperti stres atau ketidakadilan untuk merespons lebih bijak. Mengelola emosi bukan berarti menekannya, melainkan mengarahkannya [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251217_190920_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Emosi seperti marah, kecewa, atau merasa tidak dihargai memang bagian alami dari kehidupan manusia yang dialami semua orang.​</p>
<h2>Mengapa Emosi Perlu Dikelola</h2>
<p>Emosi negatif jika tidak ditangani bisa memicu kekerasan atau konflik, tapi dengan kesadaran diri, kita bisa mengenali pemicunya seperti stres atau ketidakadilan untuk merespons lebih bijak. Mengelola emosi bukan berarti menekannya, melainkan mengarahkannya ke aksi positif agar hubungan sosial tetap harmonis.​</p>
<h2>Cara Praktis Tanpa Kekerasan</h2>
<ul>
<li>Tarik napas dalam: Hitung 1-10 sambil hembuskan pelan untuk menenangkan sistem saraf sebelum bereaksi.​</li>
<li>Curhat di jurnal: Tulis perasaanmu untuk memahami akar masalah tanpa melukai orang lain.​</li>
<li>Olahraga atau meditasi: Aktivitas fisik lepaskan endorfin, sementara mindfulness bantu fokus pada saat ini.​</li>
<li>Komunikasi asertif: Ungkapkan perasaan dengan &#8220;Aku merasa&#8230;&#8221; daripada menyalahkan, untuk solusi damai.</li>
</ul>
<p>Sumber: balikpapanku</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
