Pewarta Nusantara
Add Post Menu

Krisis BBM

Seka one Seka one
1 minggu yang lalu

Harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi di SPBU Pertamina, Shell, BP, dan lainnya memang naik mulai 1 Maret 2026, tapi hanya Rp 400–500 per liter, bukan melonjak hingga Rp 20.000 per liter seperti spekulasi viral. Di Jabodetabek, Pertamax RON 92 kini Rp 12.300–12.350/liter (naik dari Rp 11.800–12.000), Pertamax Turbo RON 98 Rp 13.100/liter, dan Dexlite Rp 14.200/liter, sementara Pertalite subsidi tetap Rp 10.000/liter. Kenaikan ini mencerminkan gejolak harga minyak dunia pasca-penutupan Selat Hormuz oleh Iran, tapi pemerintah kuasai stok subsidi untuk jaga stabilitas.

Jusuf Kalla (JK) memperingatkan risiko Krisis BBM nasional akibat perang AS-Iran, karena Indonesia impor 60% kebutuhan minyak dari Timur Tengah via Hormuz yang kini tertutup. Ia sebut penutupan ini bisa picu kelangkaan global, dorong harga Brent melejit di atas USD 100/barel, dan beban subsidi BBM RI membengkak hingga triliunan rupiah. JK sarankan diversifikasi impor dari Rusia atau AS, plus efisiensi energi, agar tak timbul antrean panjang seperti krisis 1998.

Penutupan Hormuz ancam 20-30% pasokan minyak dunia, potensial naikkan harga BBM nonsubsidi Rp 2.000–5.000/liter lebih lanjut jika berlarut, plus inflasi 1-2% dan pelemahan rupiah. Pemerintah siapkan cadangan strategis 77 juta barel untuk 20 hari konsumsi, tapi JK khawatir ketergantungan impor pertahankan defisit APBN. Sektor transportasi, industri, dan UMKM paling terpukul, dengan proyeksi biaya logistik naik 15-20%.

Prabowo perintahkan Pertamina percepat blending biofuel hingga 5% dan impor LNG tambahan, sementara Kemkesra koordinasi bantuan sosial untuk 18 juta KPM. JK desak mundur dari Board of Peace agar RI bebas tekanan AS, fokus diplomasi netral seperti tawaran mediasi ke Teheran. Hingga malam 1 Maret 2026, stok BBM aman tapi Pemilu pantau harga harian untuk intervensi subsidi tambahan jika eskalasi berlanjut.