<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Bencana | Pewarta Nusantara</title>
	<atom:link href="https://www.pewartanusantara.com/tag/bencana/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.pewartanusantara.com</link>
	<description>Portal Berita Indonesia</description>
	<lastBuildDate>Wed, 31 Dec 2025 05:48:09 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.1.3</generator>

<image>
	<url>https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2024/11/cropped-icon-pewarta-1-32x32.png</url>
	<title>Bencana | Pewarta Nusantara</title>
	<link>https://www.pewartanusantara.com</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Video, viral seorang ibu sholat di tengah reruntuhan tanah longsor</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/video-viral-seorang-ibu-sholat-di-tengah-reruntuhan-tanah-longsor/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 31 Dec 2025 05:48:09 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Ibadah]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=32956</guid>

					<description><![CDATA[Video viral seorang ibu sholat di tengah reruntuhan tanah longsor di jalur Bireuen-Takengon, Aceh, menjadi simbol keteguhan iman pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025. Di sekitarnya hanya puing-puing bangunan hancur dan material longsor, namun ia tetap sujud khusyuk, tunjukkan keyakinan lebih kokoh dari kehancuran fisik. Potret ini ramai di Instagram, inspirasi solidaritas nasional seperti infak Muhammadiyah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251219_182428_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Video viral seorang ibu sholat di tengah reruntuhan tanah longsor di jalur Bireuen-Takengon, Aceh, menjadi simbol keteguhan iman pascabencana hidrometeorologi akhir November 2025. Di sekitarnya hanya puing-puing bangunan hancur dan material longsor, namun ia tetap sujud khusyuk, tunjukkan keyakinan lebih kokoh dari kehancuran fisik. Potret ini ramai di Instagram, inspirasi solidaritas nasional seperti infak Muhammadiyah dan doa salat gaib.​</p>
<h2>Konteks Lokasi</h2>
<p>Longsor di jalur Bireuen-Takengon bagian dari bencana Aceh yang lumpuhkan infrastruktur, korban jiwa ratusan, dan ribuan mengungsi. Video dari akun @dmitvofficial_ abadikan momen emosional ini, soroti kontradiksi antara runtuhnya duniawi dan ketabahan spiritual. Mirip kisah pilu lain seperti ibu-anak berpelukan tertimbun di Sibolga.​</p>
<h2>Dampak Viral</h2>
<p>Gambar ini jadi ikon keteguhan, lengkapi narasi bencana Sumatera dengan #PrayForSumatra yang tembus jutaan tayang. Dorong aksi filantropi Lazismu-MDMC dan bantuan PBB-UNDP, tunjukkan iman jadi pondasi pemulihan. Postingan ini amplifikasi pesan spiritual di tengah sindiran Prabowo soal pencitraan.</p>
<p>Vidio:jejakaktual.id</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>55 Rumah Di Bogor Terhempas Angin Puting Beliung dan Tertimpa Sayap Pesawat</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/55-rumah-di-bogor-terhempas-angin-puting-beliung-dan-tertimpa-sayap-pesawat/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Dec 2025 13:12:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Jawab barat]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=34453</guid>

					<description><![CDATA[Angin puting beliung yang menerjang Kemang, Kabupaten Bogor, pada Senin (29/12/2025) sore menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur warga. BPBD Kabupaten Bogor mencatat 55 rumah rusak, dengan satu rumah hancur total dan lainnya mengalami kerusakan atap serta dinding.[1][2] &#160; ## Dampak Utama Angin kencang menerbangkan potongan sayap bangkai pesawat dari lokasi penampungan pesawat bekas, sejauh sekitar [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Salinan-dari-Sumber-inilah.com_20251230_193939_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Angin puting beliung yang menerjang Kemang, Kabupaten Bogor, pada Senin (29/12/2025) sore menyebabkan kerusakan signifikan pada infrastruktur warga. BPBD Kabupaten Bogor mencatat 55 rumah rusak, dengan satu rumah hancur total dan lainnya mengalami kerusakan atap serta dinding.[1][2]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>## Dampak Utama</p>
<p>Angin kencang menerbangkan potongan sayap bangkai pesawat dari lokasi penampungan pesawat bekas, sejauh sekitar 300-500 meter, hingga menimpa dua hingga tiga rumah warga. Selain itu, beberapa pohon tumbang dan lapangan pedagang rusak, tapi tidak ada korban jiwa atau luka-luka.[4][5][6][1]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>## Respons Penanganan</p>
<p>23 warga mengungsi ke rumah kerabat karena rumah rusak berat. Pihak desa dan BPBD sedang berkoordinasi untuk evakuasi bangkai pesawat dan perbaikan, meski rumah rusak sedang belum sepenuhnya ditangani per 30/12/2025. Kepala Desa Pondok Udik, M. Sutisna, memimpin upaya ini.[2][9][4]</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>[1](https://bandung.kompas.com/read/2025/12/29/204446878/angin-puting-beliung-terjang-pondok-udik-bogor-30-rumah-rusak)</p>
<p>[2](https://www.instagram.com/p/DS4AgWgklOe/)</p>
<p>[3](https://www.instagram.com/p/DS4y7LxE7e2/)</p>
<p>[4](https://bogor.tribunnews.com/bogor-raya/307722/kemang-bogor-porak-poranda-akibat-angin-puting-beliung-rumah-warga-tertimpa-bangkai-pesawat)</p>
<p>[5](https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251229220621-20-1311715/puting-beliung-di-bogor-bangkai-sayap-pesawat-timpa-2-rumah-warga)</p>
<p>[6](https://www.cnnindonesia.com/nasional/20251229183702-20-1311671/hujan-angin-di-kemang-bogor-pohon-tumbang-rumah-warga-rusak)</p>
<p>[7](https://sulsel.fajar.co.id/2025/12/30/terjangan-puting-beliung-di-kemang-bogor-puting-beliung-seret-bangkai-pesawat-300-meter-55-rumah-hancur/)</p>
<p>[8](https://www.youtube.com/watch?v=NgrwWTk6oAA)</p>
<p>[9](https://bogor.tribunnews.com/bogor-raya/307741/jumlah-rumah-rusak-akibat-puting-beliung-di-kemang-bogor-bertambah-bpbd-43-bangunan-terdampak)</p>
<p>[10](https://bogor.viva.co.id/kabar-bogor/2773-angin-kencang-terjang-kemang-pohon-tumbang-dan-rumah-warga-rusak)</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Update Terkini Korban Bencana Sumatera Per 26 Desember 2025: 1.137 Meninggal, 163 Masih Hilang</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/update-terkini-korban-bencana-sumatera-per-26-desember-2025-1-137-meninggal-163-masih-hilang/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seka one]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 26 Dec 2025 14:53:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Korban]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<category><![CDATA[Update]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33941</guid>

					<description><![CDATA[Hingga 26 Desember 2025, BNPB mencatat total 1.137 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, dengan penambahan dua jiwa dari hari sebelumnya. ​ Korban Hilang dan Pengungsi 163 orang masih hilang dan terus dicari oleh Basarnas di tiga provinsi tersebut. Jumlah pengungsi turun menjadi 457.255 jiwa dari [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Update-c1.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Hingga 26 Desember 2025, BNPB mencatat total 1.137 orang meninggal dunia akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, serta Sumatera Barat, dengan penambahan dua jiwa dari hari sebelumnya.</p>
<p>​</p>
<h2>Korban Hilang dan Pengungsi</h2>
<p>163 orang masih hilang dan terus dicari oleh Basarnas di tiga provinsi tersebut. Jumlah pengungsi turun menjadi 457.255 jiwa dari sebelumnya 489.864, seiring pemulihan akses jalan.​</p>
<p>​</p>
<h2>Upaya Penanganan</h2>
<p>Operasi SAR gabungan berlanjut, fokus pada pencarian korban hilang dan distribusi logistik. Pemerintah daerah prioritaskan rehabilitasi infrastruktur pascabencana.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Langkah Pemerintah KLH Menutup Delapan Perusahaan Terduga Picu Banjir Bandang Aceh dan Sumatera</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/langkah-pemerintah-klh-menutup-delapan-perusahaan-terduga-picu-banjir-bandang-aceh-dan-sumatera/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 15:20:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Banjir]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33583</guid>

					<description><![CDATA[Delapan Perusahaan di Sumatera Disanksi Usai Diduga Picu Banjir Bandang DAS Batang Toru &#160; Jakarta — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menjatuhkan sanksi administratif berupa penghentian sementara operasi terhadap delapan perusahaan di Sumatera yang diduga berkontribusi terhadap banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru. Aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut dinilai merusak lingkungan dan memperparah daya rusak [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251223_221719_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Delapan Perusahaan di Sumatera Disanksi Usai Diduga Picu Banjir Bandang DAS Batang Toru</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta — Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) menjatuhkan sanksi administratif berupa penghentian sementara operasi terhadap delapan perusahaan di Sumatera yang diduga berkontribusi terhadap banjir bandang di Daerah Aliran Sungai (DAS) Batang Toru. Aktivitas perusahaan-perusahaan tersebut dinilai merusak lingkungan dan memperparah daya rusak banjir.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyatakan, keputusan sanksi diambil setelah tim kementerian melakukan pemeriksaan lapangan, pengambilan sampel lingkungan, serta analisis citra satelit. Hasil kajian awal menunjukkan adanya perubahan tutupan lahan dan aktivitas usaha yang memperburuk kondisi hidrologi di kawasan DAS Batang Toru.</p>
<p>“Temuan awal mengindikasikan adanya kontribusi aktivitas usaha terhadap meningkatnya risiko banjir bandang,” kata Hanif dalam keterangan resminya.</p>
<p>Adapun perusahaan yang dikenai sanksi administratif meliputi PT Agincourt Resources (pertambangan emas), PT Toba Pulp Lestari (industri pulp dan kertas), Sarulla Operations Ltd (panas bumi), PT Sumatera Pembangkit Mandiri Telukualui, PT Sumatera Hydro Energy atau PT North Sumatera Hydro Energy (pembangkit listrik tenaga air), PT Multi Sibolga Timber (industri kayu), serta PT Perkebunan Nusantara IV Kebun Batang Toru (perkebunan). Dari jumlah tersebut, tiga perusahaan dilaporkan telah lebih dahulu dihentikan sementara operasionalnya sejak awal Desember 2025.</p>
<p>KLH menegaskan sanksi ini bersifat awal dan dapat ditingkatkan. Tahap selanjutnya, kementerian akan melakukan audit lingkungan secara menyeluruh dengan melibatkan para ahli independen. Hasil audit tersebut akan menentukan langkah penegakan hukum lanjutan, mulai dari sanksi administratif paksa, gugatan perdata, hingga proses pidana apabila terbukti ada hubungan kausal langsung dengan korban jiwa.</p>
<p>Selain di DAS Batang Toru, KLH juga melanjutkan verifikasi lapangan di wilayah Sumatera Barat. Pemeriksaan difokuskan pada aktivitas pertambangan, perikanan, dan perkebunan sawit yang diduga berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan dan bencana hidrometeorologi.</p>
<p>Data hingga Desember 2025 mencatat jumlah korban meninggal akibat rangkaian banjir di sejumlah wilayah Sumatera mencapai ratusan orang. Kondisi tersebut menegaskan urgensi penanganan tegas terhadap aktivitas usaha yang berdampak pada lingkungan, sekaligus memperkuat pengawasan terhadap pengelolaan sumber daya alam di kawasan rawan bencana.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Media ditengah-tengah Pemberitaan Bencana Aceh dan Sumatera</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/media-ditengah-tengah-pemberitaan-bencana-aceh-dan-sumatera/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2025 10:36:50 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33487</guid>

					<description><![CDATA[Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik publik dengan menyatakan agar tidak menggiring opini seolah pemerintah tidak bekerja. Situasi ini kontras dengan kondisi warga di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer melewati jalan berlumpur untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, gas, dan BBM. Latar Belakang Krisis Krisis pangan di wilayah [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251223_173333_0000-scaled.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menanggapi kritik publik dengan menyatakan agar tidak menggiring opini seolah pemerintah tidak bekerja. Situasi ini kontras dengan kondisi warga di Aceh Tengah dan Bener Meriah yang terpaksa berjalan kaki puluhan kilometer melewati jalan berlumpur untuk membeli kebutuhan pokok seperti beras, gas, dan BBM.</p>
<p>Latar Belakang Krisis</p>
<p>Krisis pangan di wilayah tersebut dipicu banjir bandang dan longsor yang merusak akses jalan utama sejak awal Desember 2025. Ribuan warga, termasuk anak-anak dan lansia, memikul barang dagangan atau sembako demi bertahan hidup, karena stok lokal habis dan distribusi bantuan belum merata. Pedagang dari Aceh Utara dan Lhokseumawe menjadi tujuan utama, meski medan terjal membuat perjalanan berjam-jam.</p>
<p>Respons Pemerintah</p>
<p>Pemerintah pusat klaim sedang memperbaiki infrastruktur dengan alat berat, tapi warga merasa proses lambat dan mengancam panen seperti cabai yang bisa membusuk. Pernyataan Teddy menekankan upaya yang sedang dilakukan, meski viral video warga berjuang memicu tudingan kelalaian. Harapan masyarakat tertuju pada pemulihan akses jalan ke Takengon-Aceh Utara untuk normalisasi ekonomi.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Pemerintah Atur Pemanfaatan Kayu Pascabencana untuk Percepat Rehabilitasi</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/pemerintah-atur-pemanfaatan-kayu-pascabencana-untuk-percepat-rehabilitasi/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 11:18:03 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[GUBERNUR]]></category>
		<category><![CDATA[Kayu]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33122</guid>

					<description><![CDATA[**Pemerintah Atur Pemanfaatan Kayu Pascabencana untuk Percepat Rehabilitasi** &#160; Jakarta — Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemanfaatan kayu pascabencana kini telah memiliki payung hukum yang jelas. Kebijakan ini ditetapkan untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo dalam [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251220_173034_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>**Pemerintah Atur Pemanfaatan Kayu Pascabencana untuk Percepat Rehabilitasi**</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jakarta — Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan bahwa pemanfaatan kayu pascabencana kini telah memiliki payung hukum yang jelas. Kebijakan ini ditetapkan untuk mendukung percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi wilayah terdampak bencana, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi masyarakat dan pemerintah daerah.</p>
<p>Pernyataan tersebut disampaikan Prasetyo dalam konferensi pers pemulihan pascabencana yang digelar di Pangkalan Udara TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta. Konferensi pers itu membahas langkah penanganan dampak banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.</p>
<p>Menurut Prasetyo, Kementerian Kehutanan telah bergerak cepat dengan menerbitkan surat edaran kepada pemerintah daerah, mulai dari tingkat provinsi hingga kabupaten/kota, tidak lama setelah bencana terjadi. Surat edaran tersebut menjadi dasar hukum pemanfaatan kayu gelondongan yang ditemukan di lokasi terdampak bencana.</p>
<p>“Kayu pascabencana dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan mendesak, seperti pembangunan hunian sementara (huntara), hunian tetap, serta berbagai keperluan rehabilitasi lainnya,” ujar Prasetyo.</p>
<p>Ia menjelaskan, masyarakat diperbolehkan menggunakan kayu tersebut sepanjang dilakukan secara tertib dan berkoordinasi dengan pemerintah daerah sesuai kewenangan masing-masing. Koordinasi ini dinilai penting untuk mencegah penyalahgunaan, menjaga ketertiban, serta menghindari potensi persoalan hukum di kemudian hari.</p>
<p>Prasetyo menekankan bahwa kebijakan ini dirancang untuk menjawab kebutuhan cepat masyarakat terdampak, tanpa mengabaikan aspek tata kelola sumber daya alam. Pemerintah ingin memastikan bahwa proses pemulihan berjalan efektif, namun tetap berada dalam koridor hukum yang berlaku.</p>
<p>“Tujuan utamanya adalah mempercepat pemulihan masyarakat terdampak bencana, sekaligus memberikan rasa aman secara hukum bagi semua pihak yang terlibat,” katanya.</p>
<p>Lebih lanjut, Prasetyo menyampaikan bahwa aturan tersebut telah disosialisasikan ke seluruh pemerintah daerah agar implementasinya di lapangan berjalan selaras dan tidak menimbulkan tafsir berbeda. Pemerintah pusat berharap, dengan adanya regulasi ini, proses rehabilitasi pascabencana dapat berlangsung lebih cepat, terkoordinasi, da</p>
<p>n berkelanjutan.</p>
<p>Sumber: indotoday</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/ada-aja-gebrakannya-warga-konoha-tim-sar-turun-tangan-anak-indigo-ikut-dilibatkan/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Pole Vox]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 20 Dec 2025 08:23:33 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[BNPB]]></category>
		<category><![CDATA[Cilacap]]></category>
		<category><![CDATA[Timsar]]></category>
		<category><![CDATA[Viral]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=33079</guid>

					<description><![CDATA[Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan Warga Konoha—sebutan satir yang kerap dipakai untuk menggambarkan Indonesia di jagat media sosial—kembali menghadirkan cerita yang bikin geleng kepala sekaligus mengundang perdebatan. Di tengah operasi pencarian korban bencana, tim SAR gabungan disebut melibatkan seorang anak indigo untuk membantu menunjuk lokasi korban yang [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Sumber-inilah.com_20251220_142749_0000.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p><strong>Ada Aja Gebrakannya Warga Konoha: Tim SAR Turun Tangan, Anak Indigo Ikut Dilibatkan</strong></p>
<p>Warga Konoha—sebutan satir yang kerap dipakai untuk menggambarkan Indonesia di jagat media sosial—kembali menghadirkan cerita yang bikin geleng kepala sekaligus mengundang perdebatan. Di tengah operasi pencarian korban bencana, tim SAR gabungan disebut melibatkan seorang anak indigo untuk membantu menunjuk lokasi korban yang tertimbun. Tiga langkah, selesai. Praktis, cepat, dan tentu saja viral.</p>
<p>Peristiwa ini mencuat dari operasi pencarian korban longsor di Cilacap, Jawa Tengah. Setelah berhari-hari pencarian menggunakan alat berat, metode manual, hingga anjing pelacak, tim SAR menghadapi jalan buntu. Medan ekstrem, cuaca buruk, dan keterbatasan teknologi membuat proses evakuasi berjalan lambat. Di titik inilah, tekanan warga muncul—mendorong langkah yang dianggap “di luar buku panduan”.</p>
<p>Seorang anak bernama Rifal, yang oleh warga disebut memiliki kemampuan indigo, dilibatkan dalam proses pencarian. Anak tersebut diklaim mampu “melihat” atau merasakan keberadaan korban di bawah timbunan tanah. Informasi yang disampaikan kemudian dijadikan referensi tambahan bagi tim SAR di lapangan. Keputusan ini sontak memicu pro dan kontra.</p>
<p>Di satu sisi, warga melihat langkah ini sebagai bentuk ikhtiar terakhir. Dalam situasi darurat, apa pun dicoba demi menemukan korban. Narasi gotong royong ala Konoha pun menguat: ketika teknologi modern mentok, kearifan lokal—atau bahkan hal supranatural—dianggap layak dicoba. Di sisi lain, banyak pihak mempertanyakan legitimasi dan dasar ilmiah dari pelibatan anak indigo dalam operasi penyelamatan resmi.</p>
<p>Tim SAR sendiri menegaskan bahwa prosedur standar tetap menjadi acuan utama. Pelibatan anak indigo disebut bukan bagian dari metode resmi, melainkan respons terhadap dorongan masyarakat dan kondisi lapangan yang serba terbatas. Operasi tetap mengandalkan alat berat, pemetaan lokasi, serta teknik pencarian konvensional. Informasi non-teknis hanya diposisikan sebagai pelengkap, bukan penentu.</p>
<p>Fenomena ini kembali menegaskan wajah Konoha yang paradoksal: antara rasionalitas dan kepercayaan, antara sains dan mitos, antara standar profesional dan tekanan sosial. Bagi sebagian orang, ini adalah potret kegigihan warga di tengah krisis. Bagi yang lain, ini alarm keras tentang lemahnya kesiapsiagaan bencana dan minimnya teknologi pencarian yang memadai.</p>
<p>Satu hal yang pasti, gebrakan ala warga Konoha selalu punya daya tarik tersendiri. Viral, kontroversial, dan memantik diskusi publik. Pertanyaannya kini bukan lagi soal percaya atau tidak pada anak indigo, melainkan sejauh mana negara benar-benar siap menghadapi bencana—tanpa harus mengandalkan “jalan pintas” yang terus berulang setiap tragedi datang.</p>
<p>Video: infiviral.news</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Warga Aceh Jalan Kaki Ribuan Kilometer Pikul Cabai-Kopi Demi Tukarkan Dengan Beras</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/warga-aceh-jalan-kaki-ribuan-kilometer-pikul-cabai-kopi-demi-tukarkan-dengan-beras/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seka one]]></dc:creator>
		<pubDate>Fri, 19 Dec 2025 13:32:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Aceh]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[Sembako]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=32985</guid>

					<description><![CDATA[Ribuan warga dari Aceh Tengah dan Bener Meriah berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari sambil memikul cabai, kopi, atau hasil bumi lainnya untuk ditukar atau dijual guna membeli beras akibat akses jalan putus pasca-banjir bandang dan longsor. Perjalanan ekstrem ini melewati jalur berlumpur setinggi lutut menuju Lhokseumawe, Aceh Utara, atau Bireuen, dengan beban 23-35 kg [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Aceh-C2-1.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Ribuan warga dari Aceh Tengah dan Bener Meriah berjalan kaki puluhan kilometer setiap hari sambil memikul cabai, kopi, atau hasil bumi lainnya untuk ditukar atau dijual guna membeli beras akibat akses jalan putus pasca-banjir bandang dan longsor. Perjalanan ekstrem ini melewati jalur berlumpur setinggi lutut menuju Lhokseumawe, Aceh Utara, atau Bireuen, dengan beban 23-35 kg per orang dan memakan waktu hingga 4 jam.​​</p>
<h2>Penyebab Krisis</h2>
<p>Bencana alam sejak akhir November 2025 merusak jalan utama dan jembatan, memutus distribusi logistik sehingga harga beras melonjak hingga Rp400-500 ribu per karung sementara stok menipis. Harga cabai di luar daerah lebih tinggi (Rp50-60 ribu/kg), mendorong petani nekat berjualan demi kebutuhan keluarga.​</p>
<h2>Upaya Bantuan</h2>
<p>Skema barter logistik Ferry Irwandi dengan Rumah Tani dan Kitabisa mengirim 30,2 ton beras via pesawat ke Bandara Rembele sambil membeli 65,2 ton cabai dari petani lokal untuk dipasarkan di Jakarta. Warga juga memikul tabung gas atau sembako lain, termasuk anak-anak dan lansia, karena bantuan belum merata.​​</p>
<h2>Dampak Sosial</h2>
<p>Kondisi ini berlangsung tiga pekan pasca-bencana, dengan warga saling bantu dan berharap perbaikan jalan cepat agar ekonomi normal kembali. Video viral menunjukkan pemandangan pilu harian ini di media sosial.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) Terus Menyalurkan Bantuan Tanggap Darurat Bagi Masyarakat Yang Terdampak Banjir Bandang di Sumatera.</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/pt-bank-rakyat-indonesia-persero-tbk-bri-terus-menyalurkan-bantuan-tanggap-darurat-bagi-masyarakat-yang-terdampak-banjir-bandang-di-sumatera/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seka one]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2025 16:43:02 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[BRI]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=32725</guid>

					<description><![CDATA[PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang di Sumatera, meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.​ Cakupan Penyaluran Bantuan disebar ke lebih dari 40 lokasi, termasuk 4 titik dan 2 posko di Aceh, 24 lokasi di Sumatera Utara, serta 12 lokasi di Sumatera [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/BRI-c2.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menyalurkan bantuan tanggap darurat bagi masyarakat yang terdampak banjir bandang di Sumatera, meliputi Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.​</p>
<h2>Cakupan Penyaluran</h2>
<p>Bantuan disebar ke lebih dari 40 lokasi, termasuk 4 titik dan 2 posko di Aceh, 24 lokasi di Sumatera Utara, serta 12 lokasi di Sumatera Barat, melibatkan puluhan unit kerja BRI secara bertahap.​</p>
<h2>Jenis Bantuan</h2>
<p>Barang-barang tersebut meliputi posko darurat, makanan siap saji, sembako, survival kit, kasur, selimut, air bersih, obat-obatan, fasilitas kesehatan, peralatan kebersihan, hingga perahu karet untuk mobilitas di area yang sulit dijangkau. Sekretaris Perusahaan BRI Dhanny menegaskan komitmen BRI Peduli untuk ketahanan sosial dan pemulihan pascabencana.​</p>
<p>&nbsp;</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Anggota DPR Larang Warga Memanfaatkan Kayu Gelondongan Sisa Bencana.</title>
		<link>https://www.pewartanusantara.com/berita/anggota-dpr-larang-warga-memanfaatkan-kayu-gelondongan-sisa-bencana/</link>
		
		<dc:creator><![CDATA[Seka one]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 18 Dec 2025 16:39:57 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Bencana]]></category>
		<category><![CDATA[DPR]]></category>
		<category><![CDATA[Sumatera]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://www.pewartanusantara.com/?p=32847</guid>

					<description><![CDATA[Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menyoroti pemanfaatan kayu gelondongan sisa banjir di Sumatra oleh warga sebagai fenomena yang tak bisa dibiarkan bebas.​ Isi Respons Alex menegaskan penanganan kayu tersebut harus mengikuti UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP No 27 Tahun 2020, di mana sampah spesifik akibat bencana [&#8230;]]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<figure><img decoding="async" src="https://www.pewartanusantara.com/wp-content/uploads/2025/12/Kayu-c2.jpg" alt="" /></figure>
<div class="block-text">
<p>Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Alex Indra Lukman menyoroti pemanfaatan kayu gelondongan sisa banjir di Sumatra oleh warga sebagai fenomena yang tak bisa dibiarkan bebas.​</p>
<h2>Isi Respons</h2>
<p>Alex menegaskan penanganan kayu tersebut harus mengikuti UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah dan PP No 27 Tahun 2020, di mana sampah spesifik akibat bencana seperti kayu gelondongan harus dikelola negara melalui pengurangan atau pemanfaatan bernilai ekonomis oleh pemerintah, bukan warga secara swadaya. Ia mendesak pemerintah pusat dan daerah segera bersihkan tumpukan kayu yang mengganggu nelayan serta libatkan pihak ketiga untuk penanganan efektif.​</p>
<h2>Konteks Fenomena</h2>
<p>Kayu berkualitas tinggi ini bernilai ekonomis tinggi dan diminati warga untuk diolah jadi papan, tapi Alex ingatkan risiko hukum jika asalnya dari illegal logging yang memicu banjir. Respons ini disampaikan pada 16 Desember 2025 pasca-kunjungan lapangan di Sumatera Utara.​</p>
<h2>Implikasi Lebih Lanjut</h2>
<p>Alex sebut pengalaman Sumbar 2019 menangani puing gempa bisa jadi teladan, agar kayu tak jadi beban masyarakat tapi dimanfaatkan secara terstruktur oleh negara.</p>
</div>
]]></content:encoded>
					
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
