EsaiSosok

Sikap Politis Mbah Mahrus Ali Menjelang Pemilu

Mbah mahrus ali lirboyoMbah mahrus ali lirboyo
Views

Menjadi kiai yang berpengaruh dan mempunyai banyak santri tentu masuk dalam daftar nama-nama yang ‘harus’ dikunjungi calon presiden hingga calon anggota legislatif tingkat daerah. Hal ini sudah menjadi lazim, sebab para calon itu pasti membutuhkan nasehat, doa restu, dan yang tak kalah penting adalah mendapat dukungan dari seorang kiai beserta santri dan jamaahnya.

Pada Pemilu tahun 1971-1977, Mbah Mahrus Ali Lirboyo pernah berusaha membebaskan beberapa kiai NU dan Muhammadiyah yang ditahan, dalam kisah yang ditulis oleh KH. An’im Falahuddin Mahrus (Putra Mbah Mahrus Ali) berjudul Pelajaran Berharga dari Mbah Mahrus itu tidak disebutkan mengapa beberapa kiai itu ditahan. Bukan hanya berusaha membebaskan, bahkan Mbah Mahrus Ali mengancam jika tahanan tersebut tidak dikeluarkan maka beliau akan mengembalikan mobil yang diberikan oleh pejabat.

Menurut Gus An’im Falahuddin Mahrus, memang pada waktu itu Mbah Mahrus Ali pernah diberi hadiah sebuah mobil oleh seorang pejabat, yaitu Pak Domo. Tapi bagi Mbah Mahrus pemberian dari pejabat bukanlah suatu kebanggan dan bukan pancingan untuk menundukkan beliau, melainkan suatu strategi untuk membantu orang lain. Masih menurut Gus An’im, hal itu dilakukan oleh Mbah Mahrus Ali sekedar untuk menunjukkan bahwa beliau dekat dengan atasan orang-orang yang telah menahan beberapa kiai yang ditahan tadi.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Pada perkembangannya, listrik masuk ke pesantren Lirboyo, pada momentum yang sama, ada peresmian Alam Sejahtera. Ketika hari H peresmian tersebut, tiba-tiba bendera Golkar dipasang di pinggir jalan dari Lirboyo sampai Kota.

Mengetahui hal itu, Mbah Mahrus Ali tidak hanya diam, beliau langsung mendatangi Kamtib serta menjelaskan kemudian berkata, “Pemasangan Listrik adalah sumbangan sedekah, maka dari itu bendera Golkar harus dicopot!. Kalau ternyata memang tidak sanggup mencabut, biar santri-santri yang akan mencabut. Lagipula kalau memang listriknya tidak jadi disumbangkan, pesantren Lirboyo gak patheken, tapi tolong pohon-pohon yang telah ditebang karena pemasangan listrik silahkan dikembalikan seperti semula.”

Pohon yang sudah ditebang apakah mungkin bisa dihidupkan kembali? Mbah Mahrus Ali memang luar biasa, selain mempunyai karomah beliau juga seorang diplomat ulung. Di Ahir cerita, Gus In’am menegaskan, “Seperti itulah salah satu keteguhan beliau dalam menjalankan prinsip.”

Di sisi yang lain, Mbah Mahrus Ali memang mempunyai komitmen yang kuat, beliau memposisikan diri sebagai kiai yang tidak mudah menerima pemberian dari pejabat-pejabat jika tanpa tujuan yang jelas untuk kemaslahatan umat, hal itu tercermin dari kata-kata beliau, “Diharamkan menyimpan uang di Almari.”

Sesuatu yang jarang dimiliki oleh kebanyakan orang, Mbah Mahrus Ali sangat tawakal terhadap rizqi yang diberikan Allah, seakan-akan beliau ingin mengajarkan kepada kita semua, bahwa seseorang yang punya keyakinan terhadap Allah dan pernah belajar tidak sepatutnya khawatir terhadap rizqi, pasti rizqi tersebut akan datang dari mana saja, dari arah yang tak terduga, dari sesuatu yang tidak kita ketahui, min haitsu laa yahtasib, min haitsu laa ya’lamun.

Mendekati pemilu 17 April 2019 ini, semoga kita semua bisa meneladani Mbah Mahrus Ali, baik dalam hal ketegasan sikap maupun dalam keteguhan prinsip, minimal kita dapat kembali meneladani dalam hal kepercayaan terhadap rizqi Allah, tanpa mendapat ‘sesuatu’ dari calon pejabat negara ketika menjelang pemilu digelar pun, kita tetep bisa hidup!
Wallahu a’lam.

Ahmad Ali Adhim
the authorAhmad Ali Adhim
Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta - Pegiat Sastra di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah