Rehabilitasi Mangrove: Investasi Masa Depan Jaga Keutuhan Lahan

Google News
KLHK
Sekretaris Utama Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Ayu Dewi Utari dalam Podcast Seri 9 : Pengelolaan Mangrove dan Pesisir yang Responsif Gender, Sabtu (12/3).

Jakarta, Pewartanusantara.com – Sekretaris Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM) Ayu Dewi Utari menegaskan bahwa rehabilitasi kawasan lindung (RHL) khususnya mangrove merupakan investasi masa depan yang dapat menjaga keutuhan lahan masyarakat dari degradasi yang disebabkan air laut.

Hal tersebut disampaikan Ayu saat menjadi pembicara pada seri Podcast ke-9 Publikasi dan Diseminasi Praktik Baik: Perempuan dan Pengelolaan Sumber Daya Alam Berkelanjutan, yang bertajuk ‘Pengelolaan Mangrove dan Pesisir yang Responsif Gender’, yang tayang di Channel YouTube Beritabaruco, Sabtu (12/3).

“Saya selalu katakan kepada masyarakat dan pemerintah daerah, ketika orang melihat RHL merupakan investasi yang tidak ada gunanya, namun kami tetap berkampanye bahwa RHL adalah tabungan surga,” tutur Ayu.

Dalam pelaksanaan kegiatan BRGM, menurut Ayu, pihaknya selalu memperhatikan kepentingan masyarakat sekitar, pasalnya BRGM bekerja di luar hutan negara.

“Di situ ada kelompok taninya, di situ kita melakukan pendekatan dengan mereka. Ini tambak anda harus diperbaiki, karena ketika tidak diperbaiki tambaknya hasil tambaknya berkurang karena kondisi lain-lain,” jelas Ayu.

Ketika sudah melakukan pendekatan dengan masyarakat, Ayu mengaku melaksanakan program penanaman mangrove yang disesuaikan dengan kebutuhan biofisik yang ada pada daerah tersebut.

“Dalam pelaksanaannya itu semua biaya langsung masuk ke rekening masyarakat.  Mereka bilang kami betul-betul keberadaan pemerintah kehadiran pemerintah bersama kami. Itu yang luar biasa,” katanya.

Ayu mengatakan, pihaknya juga bekerjasama dengan pemerintah daerah, NGO, perguruan tinggi, dan juga banyak lembaga lainnya untuk mensukseskan program rehabilitasi mangrove tersebut.

“Karena tugas kami dengan jumlah personel yang sangat terbatas. Sehingga kita bekerjasama dengan perguruan tinggi, NGO, dan pemerintah daerah,” tuturnya.

“Yang namanya kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan apalagi menanam mangrove rehabilitasinya itu menanam, itu kan tidak mungkin pendek dampak yang diterima,” imbuhnya.

Ayu menceritakan, di daerah yang dulunya menolak untuk dilakukan penanaman mangrove pada saat ini mereka sangat merasakan dampak langsung dari keberadaan mangrove di daerahnya.

“Di daerah-daerah yang dulu kami bekerja, waktu itu kami ditolak, ngapain menanam, sempat ditolak, sempat diacungi golok, ternyata sekarang mereka sudah membuat usaha ekowisata, piknik disitu, itu yang saya lihat langsung di Brebes dan Pemalang,” kata Ayu.

“Mereka juga cerita tambaknya ternyata hasil ikannya lebih bagus,  yang menarik lagi di Demak, karena daerah situ pada saat kami masuk pada tahun 1995 lagi seru-serunya bikin tambak, ketika tahun 2020 kemarin kami terima video dari volunter , itu mereka cerita kami bersyukur tahun 1995 kami mau mengikuti program menanam mangrove, sekarang kami mengalami manfaatnya karena desa kami utuh dan desa lainnya kehilangan lahan dan sumber daya pendapatan,” imbuh Ayu.