Nasional News

Rayakan Hari Santri 2021, RMI-PBNU Adakan Webinar Internasional

Hari Santri 2021
Ahmad Sholahuddin Kafrawi Hobart and William Smith Colleges New York, Eva Fachrunnisa Dosen Kajian Islam dan Asia ANU Colleges Canberra, Abdul Ghofur Maimoen Rektor Sekolah Tinggi Al-Anwar Rembang, dan Nadhirsyah Husein Monash University Australia dalam Webinar Internasional untuk merayakan Hari Santri Nasional 2021 selama dua hari, Rabu (20/10)

Jakarta, Pewartanusantara.com – Rabithah Maahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU) menyelenggarakan Webinar Internasional untuk merayakan Hari Santri Nasional 2021 selama dua hari, 20 dan 21 Oktober. 

Webinar yang dibuka secara resmi oleh Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas ini dihadiri oleh Wakil Presiden KH. Ma’ruf Amin hadir dan Ketua Lembaga RMI-PBNU Abdul Ghofar Rozin.

Sebagaimana disampaikan oleh Abdul Ghofar Rozin, webinar ini diinisiasi untuk mendorong agar santri memiliki semangat lebih untuk turut berproses di bidang akademik dan intelektual.

“Agar para santri itu tergugah dan lantas bangun secara akademik di samping agar mereka juga bisa menjadi driver atas transformasi digital di pesantrennya masing-masing,” kata Gus Rozin, sapaan akrabnya, Rabu (20/10)

“Jangan sampai, transformasi digital di lingkaran pesantren dikendalikan oleh pihak lain,” imbuhnya dalam webinar bertajuk Santri Membangun Negeri: Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi ini.

Karena arah yang dibidik adalah elan santri di bidang akademik, maka pembicara yang hadir di sini lebih banyak dari kalangan diaspora santri yang sudah aktif di universitas.

Mereka meliputi Ahmad Sholahuddin Kafrawi Hobart and William Smith Colleges New York, Eva Fachrunnisa Dosen Kajian Islam dan Asia ANU Colleges Canberra, Abdul Ghofur Maimoen Rektor Sekolah Tinggi Al-Anwar Rembang, dan Nadhirsyah Husein Monash University Australia.

Kafrawi mendiskusikan tantangan yang harus diselesaikan oleh para santri, yakni bagaimana mereka bisa merespons kenyataan zaman yang sudah sangat berbeda sekaligus beragam ini dengan tetap mempertahankan tradisi.

Kafrawi menceritakan tentang perjalanan intelektual Imam Syafi’i, Pendiri Mazhab Syafi’i, sebagai contoh.

Menurut Kafrawi, adanya pendapat lama (qaul qadim) dan pendapat baru (qaul jadid) yang dimiliki Imam Syafi’i menunjukkan bahwa pada dasarnya Islam memang selalu bisa digunakan untuk merespons zaman.

“Bahkan, jika Imam Syafi’i masih hidup sekarang, ia akan punya qaul ajdad,” ungkapnya dalam diskusi yang dipandu oleh Ali Munhanif ini.

Tentang Islam dan perkembangan zaman ini, Kafrawi membagi Islam menjadi dua: Islam sebagai tradisi dan Islam sebagai metodologi.

Melalui yang kedua, para santri bisa menyelam sambil minum air: merespons zaman sekaligus mempertahankan tradisi.

Evolusi pesantren

Berbeda dengan Kafrawi, Eva lebih pada ulasan tentang bagaimana pesantren sebagai sebuah sistem pendidikan telah dengan sangat baik merespons dinamika zaman. 

Di awal abad ke-20, Pesantren kurang diminati, kata Eva. Sebab di dalamnya tidak menyediakan materi-materi umum.

“Para orang tua kala itu enggan memasukkan anaknya ke pesantren. Soalnya tidak ada pelajaran umum di pesantren,” ungkapnya.

Selain soal materi pendidikan, ada dua alasan lain mengapa demikian. Pertama, pesantren dinilai tidak bisa menyediakan pekerjaan yang bagi anak didiknya.

Kedua, di waktu yang sama berkembang pula pendidikan model barat yang menurut masyarakat lebih menjanjikan secara pekerjaan.

Akibatnya, adalah wajar mengapa pesantren tidak diminati. “Namun, ini tidak berlangsung lama,” kata Eva.

Pada kisaran tahun 1980, pesantren mulai melakukan negosiasi. Sejak saat ini, tegas Eva, beberapa pesantren mulai memasukkan kurikulum sekuler dengan sistem klasikal. 

Satu dekade selepasnya, upaya pesantren tersebut menuai buahnya. Pada sekitar tahun 1991, pesantren semakin diminati.

“Dan pada 2009, Indonesia punya lebih dari 21.000 pesantren. Angka ini meningkat 4 kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Ini adalah peningkatan yang signifikan,” jelas Eva.

Pesantren dan politik

Dalam webinar yang besok (21/10) dilanjutkan dengan narasumber lainnya—meliputi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim, Sumanto Al-Qurtubi, Miftakhul Huda, Sidrotun Naim, Rodlin Billah, dan Novi Basuki—ini, dibahas juga seputar agama dan politik.

Abdul Ghofur memaparkan bahwa antara agama dan politik siapa pun tidak perlu mempertentangkannya.

Dari segi bahasa, istilah politik merujuk pada upaya untuk memperbaiki sesuatu agar semua berjalan dengan baik.

“Apa yang dituju politik itu keseimbangan masyarakat. Tujuannya baik,” jelas Gus Ghofur, sapaan akrabnya.

Untuk menguatkan pandangannya, Gus Ghofur menunjukkan bahwa di kitab-kitab fikih dan sejarah, banyak ditemukan di dalamnya konsep-konsep politik, seperti imamah dan syura.

“Ini saya kira cukup membuktikan bahwa agama dan politik saling melengkapi. Jadi, jadi aneh ketika ada orang mempertentangkan keduanya,” katanya.

Tentang Penulis

Zainul Abidin

Wartawan Beritabaru.co