Cerpen

Psikologi Maling

Views

Yog, jujursaja.. Kamu suka kan sama putri?” pertanyaan itu meletup begitu saja dari mulutku waktu kami duduk berdua di kantin saat istirahat sekolah. Entah kenapa bibirku gatal sekali ingin menanyakan itu sama Yogi, bahkan sejak pertama kali aku melihat rambut klimisnya yang selalu menarik perhatian, bukan aku takut perhatian Putri juga direnggut sama lem kayu di rambut Yogi, hanya saja peta politiknya harus diperjelas.

“mana mungkin pret, Kalau aku naksir putri, harusnya dia sudah jadi pacarku 2 menit 30 detik setelah dia masuk kelas kita pertama kali”. Yogi jawab songong pertanyaan sederhanaku sambil memakan kuwaciku tanpa bilang terimakasih. Aku baru ingat, maling mana ada yang ngaku, kecuali dia kena OTT.
Pertanyaan terbuka itu tentu akan sia-sia, wasting time dan buang-buang dahak tenggorokan.

Tersangka harus dipancing dengan pertanyaan sistematis. Bangkai tidak akan tercium baunya kalau ditimbun dengan kopi. Yogi harus bercerita sendiri, kalau tidak dengan perkataan songongnya, dia harus bercerita dengan sikap dan ekspresi tubuhnya.

“Kamu tau Surya, Yog?” “Kenapa?” “Nama belakang Surya itu Sukarta, dan kamu tau Sukarta kan? Dia kaya, dia bisa beli siapa saja apa lagi orang utara, termasuk Putri” Pertanyaan itu harusnya sangat mengusik kening Yogi, seberapa kuat kening itu untuk tidak ia kerutkan. Aku tatap Yogi tanpa kedipan, penasaran dengan ekspresi si-maling saat mulai terendus.

“hmmm.. sudah kuduga..” kutahan seringaiku sekuat mungkin, melihat alis yogi mulai menyatu saat ku sebut nama Sukarta. Siapa yang tidak kenal Sukarta, pohon uang berbentuk manusia, lahan basah bagi orang Baning Utara mendapat recehan penyambung hidup. Sampai sekarang diwariskan pada anak pertamanya, Eka Sukarta.

Putra mahkota Sukarta sekarang menjadi pemegang kendali pertanian baning selatan, pekerjanya tentu orang-orang Utara. hampir 30% kios di pasar juga tidak lain adalah milik pak Eka, 30% lainnya dikuasai saudara dan kerabat dekatnya. berjualan di pasar baning tentu saja harus seizinnya.

Seperti ikan lele kelaparan di kolamnya, pancinganku disambar ganas dengan ekspresi yogi yang tidak lazim. Ia kerutkan keningnya, diikuti dengan kebengongan dan wajah bodoh yang baru pertama kali kulihat dari Saryogi si tampan putra bapak Sarjohan Guru Matematika.

Aku terus memandangi Yogi yang kelihatannya bingung sekali jika dilihat dari diamnnya. Sengaja aku diam menunggunya merenung sejenak dan seperti apa klarifikasi selanjutnya.

Jika tebakanku benar, Yogi akan membela diri dengan merendahkan Surya. Kepopuleran yang dia miliki harus dipertahankan, meskipun hanya tampan dan berdarah PNS, itu sudah cukup prestis kalau hanya sekelas pemuda Baning Utara.

“Surya memang keturunan Sukarta, tapi Sukarta yang mana? Dia bukan anak Sukarta, bukan juga anak Eka Sukarta. Kamu tau sendiri, keturunan sukarta menggurita di Baning Selatan. Tapi aku yakin dia bukan salah satu keturunan generasi emas Sukarta. Surya culun, Pret, pakai kaca mata dan sulit bergaul, Putri mana mau sama Surya”. Kegugupan itu semakin terlihat disemua eksprisi dan mimik muka Yogi saat bicara.

“hmm… dasar lemah..” Kumaki dia dalam hati sambil kutumpuk tangan diatas meja, kuperhatikan terus kegagapan Yogi yang berlarut-larut. Ikan lele itu jelas berontak kesakitan karena tidak bisa lepas dari kail pancingku.

Semabari memperhatikan omongan Yogi yang mbulet, diam-diam tanganku mengetik pesan dibawah meja, meminta Surya datang ke kantin. “Surya, sini ke kantin, penting, Yogi lagi nraktir aku..”.

Tidak lama kemudian Surya datang, dia tidak tau, barusaja Yogi melucutinya habis-habisan di depanku. Tanpa rasa bersalah Surya salami kami berdua dengan senyum polos ala Spons Bob. Yogi-pun menatapnya penuh kedengkian dengan tatapan sok tangguh. “Kamu mau traktir aku apa, Yog?” Mendengar kalimat pertama yang keluar dari mulut Surya, aku merasa tegang dan takut akan makian yang sebentar lagi keluar dari mulut Yogi.

Tatapan tangguh Yogi semakin dalam, alis dan keningnya sudah membentuk busur panah dengan sempurna. “Traktir?,,, Coret nama Sukarta di belakang namamu! Pesan satu kopi buat ku!!!”
Kali ini aku benar-benar merasa kasihan, melihat Yogi yang seperti ikan lele kelabakan menggigit kail pancingku. Bahkan untuk bertahan dan bersikap tenang dia tidak sanggup lagi, untuk sekedar menutupi kebohongannya kalau dia suka sama Putri Binti Kasturi. “hmmm… Dasar Maling!”

Nonton Streaming TV Online.
Kholid Al Afghani
Anggap saja tokoh fiksi, pemuja Putri binti Kasturi.