Pewarta Nusantara

Perjumpaan dengan Putri binti Kasturi

kupret bertemu putri
kupret bertemu putri

Saat masih SD, Bulan Juni (baca: liburan) adalah bulan yang paling menyenangkan, karena tidak perlu memikirkan PR, karena mandi pagi jam 11.30 sembari persiapan shalat Dzuhur, karena setiap pagi tidak perlu mencari sepatu yang entah tersangkut dimana, dan karena penggaris bu Sarmijah tidak pernah mendarat di telapak tangan. Semua itu hanya terjadi selama bulan juni. Kesenangan saya sejak TK 0 kecil pada bulan Juni bukan identitas pemalas, melainkan karena betapa adilnya saya, bahkan pada diri sendiri.

Bayangkan, hampir satu tahun penuh, jantung saya dipaksa berdetak kencang saat melihat penggaris kayu bu Sarmijah sepanjang 1 meter. Otak saya yang konon terdiri dari kanan dan kiri dipaksa berpikir dari pagi sampai malam karena bu Sarmijah selalu menitipkan PR. Telinga saya yang kata teman sebangku selalu menyisakan buih sampo setiap pagi, dipaksa mendengarkan pelajaran sejarah yang entah zaman nenek moyang angkatan berapa. Kedua kaki emas saya yang tidak lebih mahal dari kaki Cristiano Ronaldo, terkurung seharian di dalam kaos kaki bercitarasa terasi nenek. Itu semua jelas bentuk intimidasi yang tersistem. Mental saya dihancur leburkan oleh pihak yang mengatasnamakan lembaga pendidikan. Dan lebih parahnya, mereka mengaku mengemban tugas negara, guna mencerdaskan anak bangsa.

Untungnya saya adalah nasionalis sejati sejak TK O kecil. Mana mungkin negara yang saya cintai dituduh sebagai biang kerok dari bau terasi nenek di kaki saya. Saya meyakini keruwetan ini adalah “kahanan” dalam istilah Jawa dan dipopulerkan Didi kempot yang berarti keadaan. Seberapapun kuat, berduit, ganteng, mencuci kaos kaki setiap Minggu, Sekolah tidak mungkin kita hindari dan aroma terasi adalah keniscayaan, yang bisa kita lakukan adalah menunggu bulan juni tiba.

Setelah memasuki bulan Juni saya sadar, betapa Bulan Juli dan seterusnya sangat berarti. karena Bulan Juni adalah bulan penuh adrenalin, kita dipaksa memikirkan aktifitas sekolah yang sebentar lagi dijalani. Bulan Juni adalah bulan yang penuh kerinduan, rindu teman, bahkan rindu guru galak, meja yang penuh coretan dan setelah menginjak masa SMA kerinduan saya bertambah pada sosok pujaan hati satu kelas dan ekskul musik. Dia adalah Putri binti Kasturi. Primadona sekolah si cantik bersuara emas.

Ada baiknya juga bulan Juni berlalu, jika saya terkurung selamanya di bulan Juni (baca: liburan), tentu saya tidak pernah melihat keagungan tuhan yang terlukis pada wajah cantik Putri. Perjumpaan saya dengan putri binti kasturi tidak pernah bisa dilupakan. Tepatnya pada bulan Juli dalam perekrutan kegiatan ekskul musik, satu Minggu setelah sejarah mencatat si nasionalis sejak TK 0 kecil ini masuk SMA untuk pertama kalinya.

Pada masa perkenalan, saya datang terlambat memasuki ruangan ekskul, karena harus berurusan dengan pak Johan guru killer reingkarnasi bu Sarmijah.

Memasuki ruang ekskul, mata saya terhipnotis pada sosok cantik yang membukakan pintu. “Silahkan mas,”.

Benar jika nabi Musa tidak mampu melihat Tuhan secara langsung, bahkan cahayaNya. Melihat putri binti Kasturi membukakan pintu, untung saja saya tidak hilang kesadaran seperti nabi Musa melihat cahaya Tuhan. Karena wajah putri seolah sangat bercahaya kala itu.

Dia menjulurkan tangan, spontan langsung saya gapai dan jabat erat tangan putri, agar dia tau betapa perkasanya saya jika dilihat dari eratnya genggaman tangan.
“Saya putri” katanya memperkenalkan diri.

Saya tidak mendengarkan apa yang keluar dari mulut putri selain namanya. Saya hanya diam memandang wajah putri dengan senyuman, dan membatin “Tuhan, kau ciptakan makhluk seindah ini, dan Kau pertemukan dia dengan saya, apa yang Kau rencanakan?” Seperti salah satu artikel di pewarta Nusantara “kenapa tidak husnudzon saja pada Tuhan?” Sebelum membaca artikel itupun dari dulu saya selalu husnudzon pada Tuhan. Saat itu saya meyakini, Putri adalah bentuk kepedulian dan kasih sayang Tuhan pada saya yang jomblo.., maksud saya single sejak TK 0 kecil.

Saya hanya membatin, “secepat itu dia memperkenalkan diri. Tidak mungkin kalau tidak punya motif dibalik perkenalannya yang cepat. Di dalam gumam, saya sempat menggumam lagi “dia jatuh cinta sama kamu pret”. Oo.., pantas saja baru ketemu langsung minta kenalan, ternyata menyebutkan namanya cuma pancingan, supaya saya mau memperkenalkan diri juga. Kamu memang pintar, cantik, sangat pantas jadi ibu untuk anak anak saya kelak”

Perkenalannya hanya saya balas dengan senyuman, agar dia tau ada harga untuk cinta, bukan sekedar menyetorkan nama untuk mendapatkan cinta.

Saya tidak menyebutkan nama, tentu saja karena saya berusaha mendewasakan Putri, calon ibu dari anak-anak saya haruslah tegar, tidak semua yang diinginkan di dunia ini bisa begitu saja didapat dengan mudah, baik harta maupun jabatan perlu proses untuk mendapatkannya, begitu juga dengan cinta. “Sabar putri, tidak usah terburu-buru” kataku dalam hati.

Sebagai pemuja anak kasturi, saya merasa harus punya nilai lebih dibanding teman teman satu kelas dan satu ekskul untuk menarik perhatian Putri, khususnya pesaing terkuat saya, Saryogi bin Sarjohan. Si tampan anak musuh bebuyutan, Borjuis paling bersinar di sekolah, pemilik rambut klimis yang tidak mungkin rusak jika terkena badai tropis selatan, jelas dia menggunakan lem kayu untuk melapisi rambutnya.

Saya tidak mungkin kuat membeli lem kayu meskipun cuma satu kilo. Untuk itu saya sadar, point ketampanan dan kekayaan sudah mutlak milik Yogi yang memiliki trah darah PNS. Tapi cinta tidak mungkin dimenangkan hanya dengan garis keturunan berdarah PNS, paras tampan, maupun kualitas lem kayu yang mampu ia beli. Karena cinta adalah anugrah dan kisah perjuangan yang dimainkan dua insan, dengan Tuhan sebagai sutradara yang Maha melankolis. Alur cerita cinta tentu bukan sekedar milik pemodal, melainkan kesungguhan dan perjuangan dari pemeran utama. Dan saya percaya, bahwa pemeran utama drama ini adalah saya dan putri binti kasturi.

#KupretPart3

Nonton Streaming TV Online.
Kholid Al Afghani

Kholid al Afghani

Anggap saja tokoh fiksi, pemuja Putri binti Kasturi.

Advertisement

Advertisement