Pemuda HKTI Optimis, Sektor Pertanian Masa Depan Ekonomi Nasional

Google News
Festival Petani Milenial
Rina Sa'adah dari Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) dalam Festival Petani Milenial dengan tajuk “Optimalisasi Peran Petani Milenial”, Senin (25/10).

Jakarta, Pewartanusantara.com – Pemerintah terus berupaya meningkatkan peran generasi muda dalam mengembangkan dan memajukan sektor pertanian di Indonesia. Salah satunya melalui program petani milenial.

Rina Sa’adah selaku Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menegaskan bahwa pertanian menjadi salah satu sektor yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan perekonomian keluarga, hingga nasional.

Namun, Rina tetap tidak memungkiri bahwa sektor pertanian dewasa ini merupakan salah satu tantangan sekaligus peluang bagi generasi muda.

“Tiap kali kami ke daerah untuk mempromosikan dan merekrut anak-anak muda untuk terjun ke sektor pertanian, mereka masih enggan. Karena mereka masih melihat sektor pertanian bukanlah sektor yang menguntungkan bagi mereka, terutama dalam hal ekonomi,” kata Rina, Senin (25/10).

Hal itu ia sampaikan  saat menjadi pembicara dalam Millenial Talk Seri 1: Optimalisasi Peran Petani Milenial sebagai rangkaian dari acara Festival Petani Millenial dengan tajuk “Ayo Kitorang Pulang Bangun Kampung; Jadi Petani, kembali bangun kampung.  Sudah saatnya!”.

Acara yang disiarkan secara langsung melalui kanal Youtube Beritabaru.co dan Asmat Papua Official itu diselenggarakan oleh The Asia Foundation (TAF) dan Perkumpulan Untuk Peningkatan Usaha Kecil (PUPUK) dan Beritabaru.co sebagai media patnernya.

“Tetapi di sisi lain pertanian juga sangat bisa menguntungkan apabila kita ada fashion dan mau menekuni sektor itu,” tambah Rina.

Rina mencontohkan betapa generasi muda kurang meminati sektor tersebut. “Sekarang di  lulusan kampus-kampus pertanian lebih banyak yang kerja di perbankan, perkantoran dan sebagainya. Mereka enggan untuk terjun ke pertanian karena melihat orang tuanya dan keluarganya yang menekuni sektor pertanian tidak mempunyai masa depan untuk meningkatkan ekonomi keluarganya,” jelasnya.

Untuk mengatasi persoalan itu, Rina menekankan pentingnya sosialisasi dan penyuluhan ke desa-desa, khususnya pemuda, membicarakan peluang besar sektor pertanian di masa depan.

“Menjadi petani bisa kaya, pasti kaya kalau ditekuni dan kita ada fashion disana,” ujarnya.

Stabilitas harga pertanian

Rina Sa’adah mengungkap, saat  Pemuda HKTI turun ke daerah tidak sedikit petani yang mengeluhkan soal harga yang tidak stabil, dimana biaya produksi lebih mahal dari pada harga hasil produksi pertanian.

“Produksi dari pertanian sangat mahal, tetapi ketika musim panen harga jatuh. Disini yang harus diperhatikan, bagaimana ketika panen harga tetap stabil dan sepadan dengan harga produksi,” ujar rina.

Menurut Rina, untuk menjaga stabilitas harga pangan hasil pertanian perlu sinergi dari hulu ke hilir, mulai dari penyediaan bibit, pupuk serta akses pasar sehingga memberikan akses harga yang stabil bagi petani.

“Dari sisi kebijakan harus ada political will dari pemerintah, bagaimana mensinergikan dan pemberian akses seluas-luasnya terhadap bibit, pupuk bersubsidi sehingga para petani di daerah tidak kesulitan,” jelasnya.

Rina juga menyebut untuk mengatasi stabilitas harga hasil pertain diperlukan kesesuaian data antara kementerian pertanian dan perdagangan serta bulog. “Sehingga memerikan stabilitas harga pangan para petani,” tambahnya

“Dengan adanya center pertanian akan memberikan akses yang tepat sasaran terhadap para petani dalam hal penyaluran terkait pupuk, bibik dan akses lainnya,” tutur Rina.

Integrasi hasil pertanian ke produk olahan

Dalam Milenial Talk tersebut Rina juga menekankan adanya produktifitas lebih untuk meningkatkan hasil pertanian, salah satunya dengan mengintegrasikan hasil pertanian mentah ke dalam bentuk produk olahan.

Di sektor pertanian, Rina menilai, petani milenial dapat mengambil peran di on farm dari sisi inovasi sebagai agropreneur, supaya produk-produk dalam negeri memiliki nilai tambah dan bisa bersaing dengan produk yang lain.

“Sekarang, di data sektoral UMKM, inovasi makanan olahan banyak sekali dari sektor pertanian. Tinggal bagaimana memuat kelompok usaha bersama supaya nilai jual dari komoditi sektor pertanian yang sudah terolah mengalami peningkatan dan bisa mempunyai akses modal ke perbankan,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan, peluang inilah yang harus diisi pemuda dalam memajukan sektor pertanian dan petani-petani di Indonesia. “Disini upaya anak muda untuk memberikan ide kreatif terhadap para petani yang sudah ada,” jelasnya.

“Banyak sekali contohnya, misalnya ada komoditi dari pisang. Pisang sekarang sudah banyak rasanya, dengan dibuat kripik. Disini saya melihat dari kualitas luar biasa, hanya ketika kita melihat dari sisi kemasan, promosi dan lain sebagainya masih belum ada peningkatan,” kata Rina.

Sehingga, kata Rina, diperlukan adanya pembinaan packaging, “bagaiman cara kitamembranding dengan brand-bran yang menarik sehingga mampu bersaing dengan produk-produk luar negeri,” jelasnya.

“Saya rasa indonesia bisa, yang penting ada semangat dan kreatifitas. Sehingga yang menghiasi asi pasar dan supermarket di dalam negeri bukan produk dari negara lain. Saya optimis Indonesia mampu bersaing,” imbuh Rina.

Potensi petani milenial

Untuk mensukseskan potensi petani milenial diperlukan sinergi antar pemangku kepentingan strategis. Rina menyebut, salah satunya melalui sinergi dengan banyak pemangku kebijakan.

 “Salah satunya adalah kampus, karena bagaimanapun kampus adalah tempat dimana menumbuhkan SDM-SDM unggul yang memang konsen terhadap pembinaan sektor pertanian” ungkapnya.

Selain itu, lanjut Rina, juga perlu sinergi antara pemerintah dengan ormas terkait dalam pemberian program untuk meningkatkan regenerasi petani muda.

Sinergi pemerintah dengan para pengusaha, menurut Rina juga diperlukan, karena bagaimanapun pengusaha merupakan motor penggerak sektor perekonomian.

“Waktu itu saya mengusulkan adanya corporate university, dimana kampus bekerja sama dengan pemerintah dalam mencetak agropreneur di sektor pertanian,” tutur Rina.

“Harus ada kerjasama yang bersifat pentahelix baik itu pemerintah daerah, kampus pengusahanya lalu kita juga menggandeng ormas-ormas yang ada di masyarakat,” tambahnya

Sebagai salah satu negara terbesar pengguna internet, Rina melihat Indonesia dapat memanfaatkan sektor pertanian berbasis digital, dan ini menjadi peluang besar bagi petani milenial.

“Sekarang semuanya serba digital. Kita membeli, belanja sayuran melalui aplikasi digital, belanja makanan melalui aplikasi digital. Karena itu bisa diakses semua pihak dimanapun dan kapanpun. Untuk itu perlu adanya pelatihan atau bimbingan para petani di sektor digital, ini kesempatan petani milenial,” tukasnya.