Pewarta Nusantara

Pejuang Medis

Suasana di camp militer pagi ini sedikit berbeda, para peserta keluar dengan beberapa tentengan dikedua tangan mereka. Hari ini adalah hari keberangkatan mereka menuju lokasi kerja masing-masing. Para peserta dan para pelatih (baca: tentara-tentara) saling berjabat tangan, Para pelatih mengantarkan mereka hingga gerbang camp militer. Mereka mengayunkan tangan diudara tanda perpisahan.

Di perjalanan mereka sudah dibagi menjadi tim untuk lokasi kerja masing-masing. Cinta dan Lucy berada di tim yang sama, dalam tiap tim ada sekitar enam sampai sembilan orang dengan berbagai macam profesi. Di tim Cinta ada tujuh orang anggota yaitu Cinta, Lucy, Angga, Rika, Joe, Yuda dan Tian. Disana mereka melakukan program kerja sesuai dengan instruksi saat pembekalan.

Setelah menempuh perjalanan udara kemudian laut lalu darat, mereka tiba di tempat tujuan yaitu Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara. Mereka menghabiskan waktu lebih kurang 20 jam untuk sampai di lokasi. Malam sudah memuncak ditambah lagi perbedaan waktu antar daerah membuat malam itu semakin gelap. Suasana disana sangat berbeda, malam hari seperti kota mati, hanya jangkrik dan teman-temannya yang menyambut mereka disana. Semenjak perjalanan darat sore itu hanya beberapa orang warga yang terlihat masih berkeliaran diluar rumah. Kebiasaan warga disana saat sore datang semua sudah berkumpul dirumah tanda aktivitas hari itu sudah berakhir.

Rombongan  sudah berada di rumah dinas yang dikhususkan untuk mereka tinggali dua tahun kedepan. Rumah itu masih berada dilingkungan Puskesmas, tempat tugas mereka, letaknya bersebelahan jadi hanya berjalan beberapa menit mereka sudah sampai di lokasi kerja.

“Ini rumah dinasnya silahkan ditempati, yang perempuan disebelah sana yang laki-laki disini…” sahut bapak yang menyambut kedatangan kami disana, “Anggap saja seperti rumah sendiri, semoga kalian bisa menjalankan tugas dengan baik” lanjutnya yang kemudian berpamitan dengan rombongan itu.

“Terimakasih Pak” sahut Cinta yang kemudian juga diikuti yang lainnya.

“Aduhh… capek banget” Joe malah membaringkan badannya diruang depan rumah itu saat yang lain bekerjasama mengangkat barang-barang mereka.

“Ini tas siapa !?” Lucy yang pura-pura tidak tahu dengan barang yang dipegangnya, “Kita buang aja ya…!” Lanjutnya sedikit berteriak, menyindir Joe.

“Iya buang aja! Lagian ga guna juga!” timpal Yuda yang kemudian senyum-senyum menahan tawa.

“Woii, bantuin dong!!!” baru saja hendak menutup mata Joe sudah diteriaki Angga.

“Apaan sih” Joe mengelak, tulang-tulangnya butuh peregangan.

“Itu barang-barang banyak!” Angga kemudian menarik Joe keluar.

“Iya iya… gue bisa jalan sendiri” Joe kemudian jalan keluar dengan malasnya.

***

Pagi menjemput hari-hari yang telah dinantikan. Dingin hawa pegunungan menusuk tulang. Pukul 6 pagi, suasana sudah ramai, Lucy yang baru saja bangun, dia berdiri diluar pintu masuk rumah itu. Dia terlihat kaget dengan pemandangan yang dilihatnya pagi ini, matanya terbelalak lalu berlari balik kedalam rumah.

“Ta… Ta..!!!” Dia berlari menghampiri Cinta dan Rika. Lucy membangunkan dua teman sekamarnya itu.

“Ehh, Ka.. Ta..” bangun dong… Kalian musti liat diluar kayak apa” Lucy gigih membangunkan keduanya. Cinta yang duluan bangun lalu ditarik Lucy menuju beranda rumah itu. Dia terlihat sama kagetnya dengan Lucy tadi. Puskesmas itu hanya dikelilingi oleh hutan, perbukitan panjang yang dibatasi oleh pagar-pagar beton yang tidak cukup tinggi, banyak kera-kera yang bersantai dipagar-pagar beton itu. “Kita benar-benar berada di hutan” ujar Cinta yang masih tidak percaya dengan penglihatannya.

***

Beberapa minggu disana mereka hanya disibukkan dengan perkenalan-perkenalan dan juga penyesuaian diri dengan lingkungan sekitar. Banyak hal yang membuat mereka menganga saat berada disana juga kenyataan-kenyataan yang harus mereka hadapi seperti komunikasi, warga disana kebanyakan menggunakan bahasa lokal dan hanya sedikit yang paham bahasa persatuan. Itu seperti tantangan baru bagi mereka untuk lebih giat lagi belajar dan memahami tiap kondisi yang datang. Hal lain yang juga membuat mereka tak kalah kagetnya, saat warga lokal  mengobrol, mereka pikir telah terjadi percek-cokan tapi itu hanya obrolan biasa antar sesama.

“Ta, ayo cepet berangkatnya, ntar keburu sore” Cinta bergegas keluar mengikuti Lucy.

“Eh, Cuma kita berdua doang? Yang lain mana?” Cinta celingak-celinguk melihat sekitarnya.

“Angga ama Yuda udah duluan pake motor. Lu aja yang kelamaan” Kemudian Lucy menarik Cinta. Cinta, Lucy, Angga dan Yuda, mereka melakukan penyuluhan kepada masyarakat sekitar tentang kesehatan sedangkan Tian, Rika dan Joe mereka berjaga di Puskesmas.

“Ta, lu ama Tian kok ga pernah ngobrol ?” di perjalanan menuju lokasi Lucy penasaran bertanya pada Cinta.

“Hmm… ga tau?” Cinta tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan Lucy.

“Kok ga tau sih, lu ama yang lainnya pada akrab banget tapi kok beda ama Tian? Emang waktu lu dipanggil ama bapak jendral itu lu diapain?” Lucy mulai mengintrogasi Cinta. Cinta tahu Lucy memang orang yang seperti itu. Dia tidak akan berhenti sampai mendapatkan jawaban yang menurutnya benar.

“Gua ga diapa-apain, cuma diceramahin doang” sahut Cinta.

“Beneran? Gua ga percaya???”

***

Tiga minggu yang lalu.

Malam mulai mengejar, matahari mengistirahatkan diri dan jam makan malam pun dipenuhi oleh para peserta pelatihan. Ruangan yang tampak seperti aula itu disulap sedemikian rupa bak kantin yang laris manis. Para peserta pelatihan berbaris rapi, mereka mengantri makanan untuk santapan malam terakhirnya di camp militer ini. Cinta, Lucy dan beberapa teman sekamar lainnya juga ikut mengantri makanan. Mereka terlihat bersemangat untuk urusan yang satu ini.

“Wahh… itu kayaknya enak deh” Lucy yang berada tepat dibelakang Cinta terlihat tidak sabar untuk menyicipi makanan yang dihidangkan.

“Cy, jangan gitu. Lu kayak jarang liat makanan enak-enak deh, maluin tau!” ujar Cinta berbicara pelan pada Lucy. Mereka kemudian mengambil nasi beserta lauk-pauknya.

“Ga apa-apa kali, ini juga malam terakhir jadi bebas dikit ya gapapalah” Mereka kemudian berjalan mencari tempat duduk.

“Brukk…” Cinta tidak sengaja menabrak seseorang, untung saja makanannya tidak berserakan hanya minumannya membasahi baju orang yang ditabraknya.

“Aduh maaf, maaf…” Cinta memberikan baki makanannya pada Lucy lalu dia berusaha membersihkan minuman yang menumpahi baju orang tersebut. Dia kemudian melihat wajah orang yang tanpa sengaja disiraminya, dia tampak terkejut dan malu. Dia langsung menghentikan kegiatannya.

“Tii…” Omongan Cinta terputus. Seorang petugas yang melihat kerumunan itu langsung mendekati mereka.

“Ada apa ini? Kenapa rame-rame disini?”

“Saya ga sengaja nabrak dia pak” Pria yang ditabrak Cinta malah menyalahkan dirinya sendiri.

“Ahh, ga pak saya yang ga sengaja nabrak pak. Ini minuman saya tumpah” Cinta yang merasa bersalah kemudian membalikkan pernyataan pria itu.

“Kalian gimana sih? Siapa yang salah?” Cinta dan Pria itu serentak menunujuk dirinya masing-masing, petugas itu terlihat kebingungan.

“Ahh… jawabnya yang benar! Kalian semua! Yang liat kejadian ini siapa yang salah?”

Lucy dan beberapa teman lainnya hanya bisa diam, menundukan kepala. Mereka berada dibelakang Cinta saat kejadian itu jadi, mereka hanya melihat samar-samar.

“Apa disini tidak ada yang punya mata!?” petugas itu mulai terlihat marah. Juga tidak ada jawaban, ruangan hening.

***

Cinta dan pria itu kemudian dibawa ke ruangan bapak yang memiliki banyak bintang itu. Mereka diintrogasi dan diceramahi. Permasalahan mereka hanya sepele tapi mereka seperti tidak mau menjadi korban, mereka sama-sama merasa bersalah. Hampir setengah jam didalam sana, Cinta dan pria itu kemudian keluar dari ruangan itu. Mereka pergi tanpa sepatah kata pun.

***

“Cinta, lu jadi gimana? Lu diceramahin apa sama bapak jendral itu? Cinta… Ta… Ta…” Lucy berbicara sendiri, Cinta tak sadar dengan ucapan Lucy, dia melamun dengan pikirannya sendiri.

Sebenarnya Cinta sudah mengenal Tian lama, mereka dulu bersekolah ditempat yang sama. Lalu kemudian berpisah untuk melanjutkan pendidikan masing-masing. Mereka sempat bertemu setelah beberapa tahun kemudian tepatnya di acara reuniun sekolah hingga mereka bersatu menjadi pasangan kekasih setelah itu. Cinta memang menyukai Tian sejak awal bertemu dengannya. Masalah bermula semenjak mereka mulai pergi ke melanjutkan perkuliahannya kembali. Mereka menjalin hubungan hanya beberapa minggu saja, saat itu tidak ada kata putus dari mereka berdua, hari-hari yang pernah mereka jalani berdua seperti lenyap begitu saja, hilang ditelan bumi.

“Ta… Ta… !!!”

“Ohh… Ya..” Cinta terbangun dari lamunannya.

“Lu kenapa? Lu ngelamun?” Lucy yang berada disebelah Cinta terlihat khawatir.

“Ahh, ngga.. gu..gu..gua cuma inget sesuatu ya cuma inget sesuatu” Cinta tergagap menjawab pertanyaan lucy.

“Lu, ada yang lu sembunyiin dari gua ya?”

“Hmm… sembunyiin apa? Ga ada kok” Cinta mengelak.

“Ihh, gua ga yakin, pasti ada sesuatu ya” Lucy masih ingin mengulik hal tentang Cinta dan Tian, “Pokoknya ntar malem Lu musti cerita ama gua”.

“Ya ya terserah lu mau bilang apa, gua ga ada apa-apa kok…”

***

Acara penyuluhan berlangsung dengan baik, meskipun bahasa masih menjadi kendala mereka. Cinta dan tiga teman lainnya kadang juga berkomunikasi lewat bahasa tubuh agar warga lokal dapat memahami maksud yang hendak disampaikan namun, hal itu juga menjadi ajang lelucon bagi warga lokal itu.

“Terimakasih bapak ibu semua atas kehadirannya. Kami juga mengadakan acara senam bersama di Puskesmas, silahkan bapak ibu datang dan mengikuti acara tersebut…” Angga menutup acara hari itu.  Mereka kemudian kembali ke Puskesmas, tempat mereka bekerja.

“Kita pulang pake apa?” Cinta tertegun ketika melihat hanya satu kendaraan yang ada disana, itu pun kendaraan roda dua yang dipinjam Angga dan Yuda. Kebetulan Cinta dan Lucy tadi diantar dengan mobil yang kebetulan juga melewati daerah itu.

“Ya udah biar gua yang jadi tukang ojek hari ini, siapa yang duluan mau dianter?” Yuda berbaik hati mengantarkan teman-temannya.

“Yang cewek aja duluan gua bisa ntar belakangan” sahut Angga dengan gayanya.

“Bonceng tiga aja gimana?” Yuda memberi saran pada Cinta dan Lucy.

“Ahh gila lu motor orang nih, rusak ntar lu mau ganti?” jawab Cinta, “Gua ntar aja belakangan, Cy lu aja yang duluan” lanjut Cinta.

Lucy kemudian menaiki motor itu.

“Ta, gua duluan, Lu ga apa-apa kan ?”

“Ya gua mau ambil dokumentasi dulu” Cinta, mengangkat tangan dengan kamera yang dipegangnya. Yuda kemudian melajukan motornya meninggalkan Cinta dan Angga.

“Bang lu kuat jalan ga?”

“Ya, Kenapa?”

“Ga… kita jalan aja dulu ntar biar Yuda jemputnya ga kejauhan” saran Cinta dia masih memainkan lensa kameranya.

“Ya udah, ayo…” Mereka lanjut jalan kaki pulang sembari menunggu jemputan Yuda.

“Ta, lu suka foto-foto ya?” Cinta menghiraukan pertanyaan Angga dia hanya menjepret-jepret pemandangan yang ada disekitarnya.

“Bang lu coba berdiri disana” Cinta mengarahkan Angga. “Disana… kiri dikit, dikit lagi, oke” Cekrek, kemudian Cinta membidikan lensanya kearah Angga.

            “Bang lu kenapa jadi anak kesehatan? Padahal lu cocok loh jadi model, badan lu tinggi, wajah lu juga kinclong, ga jelek-jelek amat” gumam Cinta melihat hasil jepretannya.

“Hahaha…hahaha..hhh” Angga ketawa mendengar ucapan Cinta, “Banyak yang bilang gitu sih, tapi gua sukanya ini terus mau diapain?”

Mereka terus melanjutkan perjalanan pulang perlahan. Sepanjang jalanan yang mereka lewati tidak banyak orang yang lewat, disana benar-benar sepi.

“Sama aja kayak lu, lu kenapa suka foto-foto?”

“Yahh.. gimana ya. Gua suka aja, liat-liatnya. Kayak lu ga bakal ngulangin hal itu dua kali. Ntar waktu lu tua lu bisa inget-inget, eh gua pernah kesini. Eh dia lucu ya, ini temen gue dulu waktu sekolah. Simpelnya gitu sih” jawab Cinta panjang.

Cinta berbicara sendiri, dia tersadar tidak ada Angga disampingnya. Ia kemudian melihat kebelakang. Angga ternyata jauh tertinggal dibelakangnya. Cinta lalu mendekati Angga.

“Bang, lu kenapa?” Angga seperti kesakitan, dia memegangi perutnya.

“Perut gua sakit nih. Gua mau pup.. Aduh…” Keringat-keringat bercucuran di kepalanya.

“Waduh… jangan pup disini…” Cinta kebingungan, “Tunggu gua telpon Yuda dulu” sahutnya lagi.

“Aduh.. ga ada sinyal lagi” Cinta mengangkat ponselnya diudara, mencari sinyal.

“Lu bego ato gimana sih, kan disini emang ga ada sinyalnya”

“Ohh, iya. Lu udah sakit masih aja ngatain orang! Lu bisa jalan ga bang?” ujar Cinta kemudian.

Mereka kemudian melanjutkan perjalanannya. Cinta masih berusaha mencari sinyal, tapi tetap saja tanda silang tertera di ponselnya itu.

“Lu beneran sakit perut mau pup? Ga bisa tahan bentar apa?”

Tak lama Cinta melihat Yuda datang dengan motor pinjamannya. Cinta melambaikan tangannya pada Yuda.

“Cepetan…!!!” Cinta berteriak. Yuda berhenti tepat didepan Cinta dan Angga.

“Bang Angga kenapa?” Yuda tampak bingung.

“Bang Angga sakit perut, dia mau pup katanya” sahut Cinta kemudian, “Bang lu duluan aja”

“Ahh jangan, lu sendirian disini. Bahaya”

“Ga apa-apa. Ntar kalau kelamaan gua nunggu dirumah warga deket sini aja” ujar Cinta.

Akhirnya Yuda mengantarkan Angga duluan ke rumah dinas. Cinta kembali melanjutkan perjalanannya sambil menjepret sana-sini.

***

“Yuda… Lu beneran udah nyari dia ke tempat tadi?” Lucy terlihat khawatir, ia sedari tadi mondar-mandir diruangan itu.

Suasana malam itu terlihat kalut, mereka berkumpul di satu ruangan dalam puskesmas itu. Disana hanya terlihat enam orang, Lucy, Angga, Yuda, Rika, Joe dan Tian. Wajah mereka semua tampak cemas.

“Lu udah cari ke tempat penyuluhan tadi?” tanya Joe.

“Udah, gua udah berulang kali kesana, juga nanya ama ibu-ibu disana. Juga ga ada yang ngeliat. Katanya udah pergi” sahut Yuda.

“Sinyal juga ga ada lagi, ga bisa ngapa-ngapain”

“Gua tadi juga udah lapor ama kepala desa, kata bapaknya bentar lagi kesini” Rika yang tak kalah khawatirnya.

“Aduhh… gua ngerasa bersalah, seharusnya tadi pupnya gua tahan aja” gumam Angga, ia kemudian menundukan kepalanya.

“Udah Bang ga usah ngerasa bersalah gitu, kita juga ga tau Cinta bakal ilang kayak gini?” Rika berusaha menenangkan kondisi.

“Ehh, Ka! Jangan bilang Cinta ilang dong!” sewot Lucy. Dia terlihat marah juga khawatir.

“Cy, bukan gitu maksudnya, maksud gue kan.. kita ga bakal tau apa yang bakalan terjadi” Rika mencoba menyusun kata-katanya dengan hati-hati.

“Ya, karena itu kita ga tau apa yang akan terjadi ama Cinta. Lu mending diem deh!!!”

“Udah-udah ga usah pake ribut!” Tian akhirnya angkat bicara, “Sekarang kita cari Cinta sama-sama” lanjutnya.

Tian kemudian tampak mengatur rencana, “Lucy ama Rika lu tunggu disini sapa tau ada yang datang. Joe ama Angga lu lapor lagi ama bapak kepala desanya. Gua ama Yuda nyari ke tempat tadi. Oke” Mereka mengangguk paham dengan perintah Tian itu.

“Ya udah ayo, cepet!” Joe dan Angga langsung berlari menuju rumah kepala desa.

“Yud, kunci motornya mana?” tanya Tian pada Yuda.

Kemudian seseorang datang dari arah luar Puskesmas, dia terlihat ngos-ngosan seperti habis berlari jauh.

“Dek, kenapa?” tanya Tian yang hendak mengendarai motor.

“Hmm… itu…” dia berbicara dengan bahasa lokal yang tidak ada seorang pun dari mereka mengerti.

“Kenapa…?” Ambil napas dulu” ujar Tian mencoba memahami bahasanya.

Anak yang kira-kira berumur 15 tahun itu kemudian berbicara dengan bahasa tubuhnya. Dia menggambarkan orang yang sedang hamil dengan kedua tangannya juga gerakan-gerakan lain yang tampaknya lucu. Anak itu kemudian memberikan sobekan kertas yang sudah lusuh. Tian kemudian melihat isinya dan membacanya.

“HELP!” ujarnya sedikit ragu dengan tulisan yang sudah mulai hilang itu. “Ini dari Cinta?” tanya Tian pada anak itu. Anak itu hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

Yuda yang ikut penasaran, dia merebut kertas dari genggaman Tian dan kemudian membacanya.

“Ya udah kita ikutin anak ini aja?” ujar Yuda.

“Iya tapi gimana caranya? Kita rame”

“Ga usah semuanya ikut, salah satu aja yang pergi ama dia”

Tian tanpa pikir panjang dia langsung pergi dengan motor yang sedang dinaikinya itu.

“Lu yang pergi?” tanya Lucy. Tian hanya mengangguk dan kemudian pergi sambil memboncengi anak kecil itu.

***

Enam jam yang lalu.

            “Aduh… Yuda mana sih lama banget lagi” gumam Cinta yang masih berusaha berjalan. Dia sudah mulai terlihat lelah. Kakinya sudah sekitar kurang lebih dua kilo berjalan. Cinta kemudian melihat sebuah rumah, yang didepannya kebetulan ada beberapa orangtua dan anak-anak kecil, dia kemudian berkunjung kerumah itu sekalian beristirahat disana sebentar.

            “Ibu… permisi boleh saya duduk disini sebentar?” Cinta dengan ramahnya menyapa warga itu. Namun, sepertinya mereka tidak begitu paham dengan ucapan Cinta.

            “Saya lagi nunggu teman menjemput jadi saya numpang nunggu disini..” Cinta menjelaskan. Perkumpulan ibu-ibu itu hanya tersenyum-senyum seperti kurang paham dengan ucapan Cinta. Disana Cinta mengobrol banyak dengan para ibu-ibu yang bisa dibilang sudah lansia itu meskipun, hanya beberapa kata yang bisa mereka pahami.

            Hari sudah mulai gelap, beberapa jam Cinta menunggu disana, Yuda belum juga terlihat. Cinta sebenarnya sangat kesal tapi apa boleh buat. Ponselnya pun juga tidak berguna karena sinyal tidak ada disana. Minta diantarkan ke rumah dinas pun hari sudah terlanjur malam. Untungnya pemilik rumah itu berbaik hati menampung Cinta hingga matahari terbit besok.

            Tak lama kemudian, seseorang datang berlari dia menunjuk kearah luar rumah itu. Anak itu menarik-narik tangan Cinta. Dia kemudian mengikuti anak itu kearah yang ditunjuknya. Anak itu membawa Cinta kesebuah rumah, sekitar lima rumah dari tempat Cinta berada tadi. Disana ternyata ada seorang ibu hamil yang hendak melahirkan. Ibu itu sudah tidak bisa berjalan lagi, dia tampak sangat kesakitan. Cinta sangat kaget, dia belum pernah berada di situasi ini, dia tidak ahli dalam hal ini, dia bukan dokter atau bidan atau pun perawat yang paham akan hal ini. Dia memang tenaga kesehatan tapi bukan ini bidangnya.

“Apa yang harus gue lakuin?” gumam Cinta dalam hati. Dia terlihat shock, badannya mematung, tangannya membeku juga gemetar, ia kemudian berusaha tenang, mengambil napas dalam-dalam hingga menelan ludahnya.

“Gua bisa, tapiii… gua ga tau apa yang harus dilakuin? Hmmm… tunggu tunggu…” Cinta tampak bergulat dengan pikirannya.

“Lakuin seperti dalam drama-drama… Lakuin seperti dalam drama-drama…” kalimat itu terlintas dalam benak Cinta, dia masih berusaha tenang, “Cinta, ini nyawa tantangannya. Lu harus selamatin ibu itu” berbagai bisikan datang ketelinga Cinta.

“Oke… Oke…” Cinta bergumam sendiri, “Dek kamu pergi ke Puskesmas, panggil Dokter atau kakak-kakak yang ada disana” Cinta memberi perintah pada anak yang membawanya tadi. Cinta menjelaskan dengan hati-hati pada anak itu. Ia kemudian mencoba membantu ibu yang sedang berjuang itu.

***

“Cinta!!!”

Ada suara yang memanggil namanya. Cinta kemudian menoleh kebelakang. Seseorang datang menghampirinya, dia kemudian langsung mendekati Cinta lalu memeluknya erat. Cinta kaget berlipat ganda. Tian yang selama ini hanya diam padanya hari ini memeluknya erat, seperti ada rindu yang sudah tumpah-tumpah dihatinya juga Cinta, dia tak dapat berkata apa-apa. Tian tampak khawatir dengan Cinta, dia seperti tak bisa menjelaskan dengan kata-kata tapi semua itu tersirat dari wajahnya. Cinta kemudian langsung melepaskan pelukan itu, ia menunjuk kearah ibu yang sedang menahan sakit itu. Tian kemudian mengambil alih.

Beberapa jam menunggu proses persalinan ditempat itu, disana sudah ada Pak kepala desa, Angga, Lucy, dan Yuda yang ikut membantu persalinan. Mereka datang tak lama setelah Tian datang. Mereka datang menggunakan mobil pinjaman warga disekitar Puskesmas. Cinta terlihat cemas dan takut. Setengah jam kemudian suara tangisan bayi mengisi ruang-ruang rumah itu.

“Ibu dan bayinya selamat” ujar Tian yang keluar dengan senyum lebar dari balik tirai kamar. Rasa bahagia, haru dan syukur terucap. Mereka terlihat gembira juga Cinta dia yang tadinya gemetar ketakutan kini terharu atas apa yang telah terjadi padanya.

***

Seminggu kemudian.

Hari kejadian hilangnya Cinta yang berbuah kebahagiaan itu sudah berlalu. Mereka semakin hari semakin bisa beradaptasi dengan warga lokal. Mereka juga terlihat semakin kompak juga Cinta dan Tian, mereka tidak menyangka akan dipertemukan kembali disini.

“Benar kata Rika, tak ada yang tau apa yang akan terjadi selanjutnya” suara Tian terdengar dari ujung pintu ruangan Cinta. Cinta menoleh lalu tersenyum melihat Tian.

“Kenapa”

“Ga, gua sebenarnya liat lu waktu di camp, tapi ga tau harus ngapain” Cinta cuma mengangguk-angguk. Tian mendekati Cinta dia duduk dihadapan Cinta.

“Jujur gua takut. Silahkan lu bilang gua pengecut” Tian berkata jujur, “Tapi waktu lu ilang itu jujur gua takut, rasanya, gua bego… banget”

“Jadi, kalo gua udah ilang. Lu baru sadar?”

“Ya.. ga gitu”

Cinta dan Tian akhirnya bersama lagi setelah beberapa tahun berpisah dan kemudian bertemu kembali. Sebelumnya mereka seperti sama-sama tidak menganggap apa yang telah mereka jalin adalah nyata, mereka sendiri yang membuat hubungan itu seperti permainan. Cinta dan Tian seperti mendahului keputusan-keputusan yang telah tertulis di langit padahal, kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi sedetik kemudian.

TAMAT

 

 

Nonton Streaming TV Online.
DESILFIA PUTRI

DESILFIA PUTRI

Simple but perfect...

Advertisement