Bolehkah saya menyebut perundungan di lingkungan sekolah sebagai sebuah keniscayaan?

Belum genap satu semester kalender akademik bekerja, pemberitaan kasus perundungan di lingkungan sekolah seakan mengantri jadi bahan pembicaraan. Masih basah luka MS, siswa korban perundungan di Malang yang jari tengahnya terpaksa diamputasi, kini disusul lebam yang harus diderita siswi di Purworejo.

Dari sederet fenomena perundungan, kita bisa bercermin bagaimana sesungguhnya lingkungan pendidikan kita berwajah. Bukannya membangun paradigma dan ekosistem belajar sebagai pencegahan, upaya penghapusan perundungan justru masih bersifat reaksioner, hanya dilakukan setelah kekerasan terjadi.

Lalu bagaimana seharusnya kita sebagai orang dewasa yang bahkan tanpa sadar juga pernah menjadi pelaku perundungan memahaminya?

Psikologi kepribadian menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan dalam memahami fenomena perundungan, tapi sebagian besar orang lebih memilih terfokus kepada psikologi para korban perundungan dan bukan pada pelaku.

Apakah benar bahwa pelaku kekerasan adalah hasil dari viktimisasi? Seperti dalam film joker yang memosisikan Arthur Fleck sebagai pelaku kriminal setelah melalui ketertindasan di lingkungan keluarga dan sosialnya.

Baughman (2012) dalam penelitiannya yang berjudul ‘Relationship Between Bullying Behaviours And The Dark Triad’ menunjukkan bahwa pelaku perundungan memiliki hubungan dengan dark triad personality yang dimilikinya. Konsep dark triad personality (karakter gelap) sendiri diperkenalkan oleh Paulhus dan Williams pada tahun 2002.

Dark triad memiliki tiga unsur yaitu Machiavellianisme, Narsisme, dan psikopati. Meskipun ketiganya memiliki akar teoritis yang berbeda, namun karakteristiknya sama, yaitu kurangnya rasa empati terhadap orang lain dan menjadi manipulatif.

Konsep Machiavellianism dalam dark triad terinspirasi oleh tulisan-tulisan ahli strategi politik Niccolo Machiavelli. Orang-orang Machiavellianism tidak menampilkan agresi terbuka tetapi menujukkan perilaku bermusuhan sehingga ia disebut sebagai manipulator.

Berbeda dengan konsep Machiavellianism yang dianggap bukan konsep klinis, psikopati adalah gangguan kepribadian yang diteliti dengan baik. Orang dengan psikopati tingkat tinggi memiliki sifat interpersonal yang tidak menyenangkan, menyimpang secara sosial, egois, tidak berperasaan, tanpa belas kasihan, kurang empati.

Psikopati berbeda dengan unsur dark triad lainnya, ditandai dengan impulsif disfungsional seperti melakukan sesuatu tanpa berpikir terlebih dahulu. Danderman dan Kristiansson (2004) dalam penelitian menyatakan bahwa seseorang yang memiliki unsur Machiavellianism memerlukan strategi perencanaan dalam melakukan perundungan dibandingkan tindakan jangka pendek seperti yang dilakukan oleh psikopati.

Sedangkan narsisme tidak mengindikasikan kekerasan fisik namun memiliki karakteristik yang sama dengan Machiavellianism dan psikopati yaitu manipulatif, tidak berperasaan, dan kurangnya empati.

Dalam meta analisis dark triad yang dikemukakan oleh Murris (2017) Seharusnya orang yang memiliki unsur narsisme yang tinggi memiliki kemungkinan untuk melakukan atau tidak melakukan perundungan karena sifat mereka yag lebih tertarik kepada diri mereka sendiri. Dalam hubungannya dengan perundungan, mereka akan memanfaatkan orang lain untuk tujuan mereka sendiri.

Temuan yang menarik dari penelitian ‘The personality traits of workplace bullies are often shared by their victims’ oleh Linton dan Power (2013) bahwa mereka yang menjadi korban perundungan bisa bertindak secara agresif—memunculkan dark personality—untuk balik merundung. Secara teoritis, korban kadang-kadang dapat berbalik menggunakan strategi perundungan untuk melindungi harga diri mereka.

Baughman pada hasil penelitian tersebut di atas menambahkan bahwa perilaku perundungan relatif stabil dari masa kanak-kanak hingga dewasa. Oleh sebab itu, temuan-temuan tentang hubungan antara dark triad personality ini kemudian digunakan sebagai literatur konselor untuk menangani kasus-kasus perundungan. Seorang konselor harus mengidentifikasi masalah secara hati-hati serta mampu menjadi pendengar aktif untuk mengatasi orang-orang dengan dark triad personality.

Selain memperbaiki sistem pendidikan, kita juga harus berperan aktif dalam menciptakan ekosistem belajar yang menyenangkan. Kita harus mulai sadar bahwa kiat sibuk memperbaiki sistem pendidikan yang lebih banyak mengedepankan pencapaian-pencapain dibandingkan dengan membangunan ekosistem belajar nir kekerasan justru diabaikan.

Sistem pendidikan mungkin bisa berjalan hanya dengan peranan sekolah, namun ekosistem terbangun atas dasar harmonisasi antara sekolah, orang tua, dan masyarakat. Membangun ekosistem belajar yang menyenangkan bisa ditempuh melalui dialogis antara siswa dan tri pusat pendidikan untuk mencapai kesepakatan tanpa banyak mengikutsertakan paksaan, aturan, dan hukuman.