Menag Sebut Pesantren Berkontribusi Penting Untuk Kemerdekaan

Google News
menag
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Suyitno saat mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas pada Seminar Hari Pahlawan yang diselenggarakan Dewan Eksektutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga pada Senin (8/11). (Foto: Zainul)

Yogyakarta, Pewartanusantara.com – Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas menyampaikan bahwa pesantren mempunyai peran yang sangat penting proses kemerdekaan Indonesia.

Hal ini disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Suyitno saat mewakili Menag Yaqut Cholil Qoumas pada Seminar Hari Pahlawan yang diselenggarakan Dewan Eksektutif Mahasiswa (DEMA) Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga pada Senin (8/11).

“Seminar sejarah menjelang Hari Pahlawan ini sangat penting, lebih-lebih mengangkat tokoh pahlawan yang sangat penting dan berpengaruh yaitu KH Hasyim Asyari,” kata Gus Yaqut sapaan akrab Menag.

Menag mengatakan Pondok Pesantren pada masa penjajahan berperan penting berkontribusi bagi kemerdekaan Indonesia, mereka berjuang tanpa pamrih yang tampil dalam mengantisipasi keadaan buruk.

“Peringatan Hari Pahlawan ini harus dimaknai secara mendalam bukan sebuah ritual biasa. Kita harus meletakkan teks yang utuh terlebug dahulu sebelum kita mengkontekstualisasikannya pada zaman sekarang,” tutur Gus Yaqut.

Teks sejarah, lanjut Gus Yaqut sangat penting untuk melawan upaya pengaburan sejarah peran pesantren dalam memperjuangkan kemerdekaan.

“Peninggalan penting KH Hasyim Asy’ari ada dua yang sangat bermanfaat bagi bangsa Indonesia, yaitu Nahdlatul Ulama dan fatwa resolusi jihad,” katanya.

Lebih lanjut, Gus Yaqut menyampaikan generasi muda saat ini mempunyai tantangan dalam menghadapi ideologi ekstremisme yang sangat mudah diakses di media sosial.

“Tantangan ideologi ekstremisme yang mudah diakses di medsos, oleh karena itu generasi muda dituntut mengkampanyekan islam rahmatan lil alamin,” tegas Gus Yaqut.

Gus Yaqut mengajak untuk selalu berdoa agar menjaga bangsa yang utuh dan bersatu dan mengampuni dosa pahlawan yang telah mendahului kita.

“Semoga kita mampu meneruskan perjuangan beliau khsususnya KH Hasyim As’ari. Karena beliau berkata ‘Barang siapa yang meneruskan perjuangannku maka ia akan aku anggap sebagai santriku’,” pungkasnya.