Pewarta Nusantara

Membedakan Antara Tafsir Dengan Al-Qur’an

tafsir alquran
Ilustrasi/Feri Setiaji

PEWARTANUSANTARA.COM – Saat ini kita dihadapkan pada masa depan era digital. Lompatan masa ini terjadi antara 2016 – 2017 salah satunya dengan peristiwa pilkada DKI Jakarta. Pertarungan ini menguras begitu banyak tenaga bangsa dengan berbagai isu yang dimainkan. Sebagai akademisi jurusan Ilmu al-Qur’an dan Tafsir, kita dituntut bisa menjelaskan perbedaan antara al-Quran dan tafsir.

Salah satu pemicu pertengkaran yang ada saat ini adalah karena “tidak mau” dan “tidak bisa” membedakan mana yang tafsir dan mana yang Qur’an. Perbedaan tafsir yang ada merupakan sebuah keniscayaan dan harus saling dihargai dalam batasan-batasan tertentu. Fenomena saat ini, ketika ada seorang ahli yang berbeda penafsiran, langsung diklaim kafir dan salah.

Menyikapi hal ini, bpk Indal Abror menyebutkan tipologi manusia sebagaimana pesan Prof. Amin Abdullah ketika mengantarkan IAIN menuju UIN Sunan Kalijaga. Disebutkan bahwa mahasiswa UIN jangan sampai menjadi tipe pertama yakni Part of problem (Bagian dari masalah). Dalam bahasa jawa yang keras, tipe ini disebut “ndase koplak”. “Ndase koplak” kurang lebih berarti orang yang otaknya tidak beres.

Tipe kedua adalah Troublemaker (biang kerok). Sarjana tafsir jangan sampai tidak bisa membedakan antara tafsir dan Qur’an, apalagi malah terlibat dalam masalah. Sarjana tafsir diharapkan menjadi tipe ketiga yaitu Problem solver (pemecah masalah). Langkah terkecil untuk melakukannya adalah bisa menjelaskan antara Qur’an dengan tafsir, hadis dengan fahmil hadis, dan seterusnya.

Untuk menjadi seorang Problem solver, kita harus menggunakan narasi yg shoft (lembut), tetapi berprinsip. Dalam bahasa psikologi, narasi ini disebut gaya bahasa asertif berupa kalimat suruhan yang didahului kalimat tolong dan sebagainya. Hal ini penting karena saat ini sudah jarang orang yang menggunakan gaya asertif dan mereka lebih banyak mencaci (agresif).

Kita adalah generasi yang berhadapan dengan “perang asimetris” (teman tapi seperti musuh) terutama di dunia sosmed. Pengguna sosmed dirasa sulit untuk menjadi cerdas karena kecenderungan menggunakn bahasa yang agresif. Tantangan saat ini sangat berat seperti dicontohkan bpk Indal Abror adalah sebuah grup WhatsApp yang terdiri dari sama-sama alumni pesantren kemudian ada yang berbeda pendapat, lantas dicap liberal..

Faktor terbesar perang asimetris di sosmed adalah merebaknya berita HOAX. Ditambahkan bpk Indal bahwa Ketika ada yang diingatkan untuk tidak sembarangan copas, mereka marah. Ini artinya pencipta perang asimetris telah sukses dengan adanya sesama alumni yang saling menyalahkan.

Baca juga: Kyai di era disruptif: Gus Mus

Di era digital ini, kita harus menggunakan media untuk hal yang positif, jangan sekedar untuk mencari hiburan. Contoh nyata adalah orang yang begitu sibuk sehingga tidak sempat ngaji / belajar nilai keagamaan secara langsung di masjid, pesantren, dll, mereka mencari kajian agama di internet. Sayangnya, yang memenuhi internet sekarang adalah bahasa-bahasa tekstualis yang keras. Para santri dan akademisi trlalu sibuk dengan urusan keilmuannya sehinga kurang perhatian pada sosmed. Harus diakui, ini adalah salah kita sendiri sebagai akademisi yang tidak akrab dengan media. Maka, akrablah dengan media untuk menjadi sang problem solver.

Tulisan ini disarikan dari Dr. Indal Abror
Dosen Ilmu al-Qur’an Tafsir UIN Sunan Kalijaga

Nonton Streaming TV Online.
Luthfi Muhammad

Luthfi Muhammad

Advertisement