Sosok

Lucius Annaeus Seneca (4-65M) Sang Penulis Produktif dan Penasehat Imperial

Lucius Annaeus Seneca
It is not that we have so little time but that we lose so much. ... The life we receive is not short but we make it so; We are not ill provided but use what we have wastefully.”― Lucius Annaeus Seneca

Pewartanusantara.com – Seneca Merupakan salah satu tokoh filsuf terkemuka, Lucius Annaeus Seneca  lebih dikenal sebagai Seneca Muda atau Seneca saja. Ia lahir di Cordoba, Spanyol. Termasuk ke dalam daftar pemikir besar, berikut ini adalah ulasan tentang biografi Lucius Annaeus Seneca dari kelahiran hingga karya-karyanya.

Seneca, Keluarga dan Riwayat Pendidikan

Keluaga Seneca berasal dari Hispania, Cordoba atau saat ini dikenal dengan Semenanjung Iberia. Meskipun lahir di Cordoba, Spanyol, namun Seneca muda menghabiskan masa kecilnya di Roma karena dibawa oleh bibinya.

“True happiness is to enjoy the present, without anxious dependence upon the future, not to amuse ourselves with either hopes or fears but to rest satisfied with what we have, which is sufficient, for he that is so wants nothing. The greatest blessings of mankind are within us and within our reach. A wise man is content with his lot, whatever it may be, without wishing for what he has not.”

Seneca quotes

Di roma, ia didik dengan filsafat dan retorika. Seneca muda sendiri merupakan anak dari Seneca  Tua dan merupakan saudara dari gubernur Akhaya, yaitu Galio.

Pendidikan filsafatnya banyak dipengaruhi oleh doktrin Stoik Helenistik  (Attalus) dan Sotion yang kemudian ia kembangkan. Seneca Muda diperkirakan sempat mengunjungi Mesir atau tinggal disana beberapa waktu dan kembali ke Roma pada 31 M untuk melakukan kampanye jabatan pertamanya, yaitu Magistrat Romawi.

Lucius Annaeus Seneca Merupakan Penulis Produktif

Sebagai seorang pemikir besar, Seneca menuangkan pemikirannya dalam sebuah tulisan. Ia termasuk seorang filsuf yang penting dan aktif dalam menulis dan membuat karya baik syair maupun prosa.

Setidaknya, ia telah menulis sepuluh buku tentang esai etika. Buku-buku yang ditulisnya banyak membahas tentang keteguhan di atas kebijaksanaan stonik, amarah dan ketentraman pikiran.

Ketiga subjek pembahasan tersebut adalah penghiburan terhadap kedukaan. Buku berjudul De Dementia (On Clemency) merupakan tulisan yang ia sajikan pada Nero di awal kekuasaannya. Buku ini memberikan banyak pembahasan mengenai ujian pada para penguasa atau otokrat.

Selain itu, ia juga menulis Naturales Quaestiones (Studies into Nature) yang membuatnya mendapatkan popularitas. Buku ini ditulis dalam delapan volume dan membahas tentang ilmu pengetahuan alam.

Karya-karya tulisan lainnya adalah De Beneficiis (On Benefits) sebanyak tujuh buku dan Moral Epistles atau The Epistolae Morales yang berisi tentang moral dan petuah filosofis pada sahabat.

Dalam biografi Lucius Annaeus Seneca, ia juga tercatat sebagai penulis the Pumpkinification of the Emperor Claudius atau Apocolocyntosis yang berisi satir pahit pengkultusan Claudius. Selain karya-karya tersebut, Seneca Muda juga menulis Sembilan tragedi dalam mitologi Yunani. Tulisan tentang tragedi tersebut sangat melodramatis.

Seneca
You act like mortals in all that you fear,
and like immortals in all that you desire”
― Lucius Annaeus Seneca

Seneca merupakan orang yang maju di zamannya dan banyak mengutuk kesesatan dari kekayaan, kekejaman dan kebodohan. Ia juga memiliki keprihatinan dan menolak perbudakan. Meskipun begitu, tidak ada tindakan nyata darinya untuk menghapus perbudakan tersebut.

Menjadi Penasehat Imperial, Skandal dan Bunuh Diri

Selain dikenal sebagai penulis penting dan produktif di zamannya, Seneca juga menempati posisi penting dalam kekuasaan. Ia merupakan kepala petugas pendapatan pada masa Claudius (kaisar sebelum Nero) dan menjadi seorang penasehat imperial pada masa kaisar Nero.

Ini tepatnya terjadi dari tahun 54 hingga 62 M. Namun, ia dianggap tidak memiliki banyak pengaruh pada politik Nero.

Bahkan, pada saat ia pensiun, tepatnya pada tahun 65 M ia dinyatakan terlibat dalam rencana konspirasi untuk membunuh Nero. Sebelum itu, ia juga dituduh atas skandal percintaan gelap dengan putri Germanius, yaitu Julia dan diasingkan pada tahun 41 M ke Corsica.

Sementara itu, atas tuduhan keterlibatanya dalam konspirasi. Ia diperintahkan Nero untuk melakukan bunuh diri.  Bunuh diri tersebut dilakukan sesuai dengan tradisi, yaitu memotong sejumlah nadi pada tubuhnya agar mengalami pendarahan.

Meskipun perjalanan dan biografi Lucius Annaeus Seneca diakhiri dengan bunuh diri, Tacitus mencatat bahwa Seneca mengakhiri hidupnya dengan penuh martabat dan tenang. Di samping itu, nama dan karyanya pun abadi hingga saat ini.

Baca juga: Philo dari Alexandria dan Pengaruhnya bagi Pemikir Kristen

Tentang Penulis

Nurul Hidayat

Nurul Hidayat

Pegiat media sosial dan aktif dalam Persatuan Pemuda Kreatif.
Editor di Pewarta Nusantara dan aktif sejak 2018.