Pewarta Nusantara

Kekuatan Cinta Adam dan Hawa

Kekuatan Cinta adam dan Hawa
Kekuatan Cinta adam dan Hawa

Kekuatan Cinta Adam dan Hawa

Oleh :Ahmad Ali Adhim

***

Di suatu malam, ketika aku hendak pulang ke Lamongan bersama kawanku anak Grobogan; Niamul Qohar. Kami sepakat berangkat Malam hari, melangkahlah kaki kami menuju parkiran motor, kami menaiki sepeda—hanya sekitar tiga puluh menit dan sampailah kami di terminal Giwangan Yogyakarta.

Kebetulan bis yang kami tumpangi sama, yaitu bis menuju Surabaya. Kami duduk dengan nyaman dan sempat beberapa menit tertidur, rupanya tidur yang singkat itu terhitung cukup lama, mungkin yang kami rasakan itu beda tipis dengan apa yang dirasakan oleh tujuh pemuda yang melarikan diri dari kekejaman Raja Dikyanus, mereka tidur terlelap di dalam gua[1] selama 309 tahun. Tidur kami itu membuat kami tak sadar bahwa perjalanan kami telah sampai di terminal Tirtonadi-Solo.

Kami turun dari bus, meski ngantuk dan keadaan itu tak menyulitkan mata kami jelalatan lirik sana-sini. Apa yang kami cari? alhamdulillah ternyata masih ada warung kopi yang buka. Sampailah kami di warung kopi itu, kami memesan kopi dan memakan gorengan ala kadarnya, di tengah penantian kami yang lumayan panjang, tak sadar bahwa kawanku Niam yang hendak menuju ke Grobogan itu kehabisan kuota internet, ya tentu sebagai kawan yang kebetulan punya kuota internet, saya menawarkan thetering gratisan—meski kecepatan koneksi agak lemot, kami menikmatinya, masing-masing dari kami mulai khusyuk berselancar di media sosial, tak lama kemudian kopi yang kami pesan akhirnya datang jua.

Tentu keadaan ini semakin nikmat. Bukankah kenikmatan di masa revolusi Industri 4.0  ini terkadang amat sederhana? “Seumpama, khusyuk menghadap smartphone, ditemani secangkir kopi?” Kopi yang sedari tadi tabah menunggu kami cumbu, nampaknya mulai lelah, warna nya semakin lekat dan sedikit pucat.

“Ayo kang, disruput.” Ucapku

“Monggo Cak.” Jawab Niam.

Setelah beberapa kecupan kami berlabuh di bibir gelas, ku lihat mata Niam sedikit segar, lalu diikuti wajahnya yang mulai memancarkan cahaya. Selang beberapa detik, wajah yang tadinya sumringah itu meleleh dan lesu. Berkatalah Niam kepadaku.

“Waduh, pulsaku habis Cak.”

“Memangnya kamu tak bisa hidup tanpa pulsa?” Tanyaku menghibur

“Bukan begitu, bagimana nanti ketika aku sampai di terminal Grobogan? Itulah yang dikhawatirkan Niam. “Bagaimana orang tuaku tau kalau aku sudah sampai di Terminal?”

“Kamu tidur di Terminal aja,” jawabku sambil ketawa “lagipula apa mungkin ada bencong yang tergoda dengan ketampananmu? Belum lagi kalau bencong itu tau betapa dampetmu terlalu tipis untuk dicintai? Kupastikan bencong itu akan jijik.” Tukasku

Kami tertawa cekakakan, “hahahaha”

Selepas tawa itu mengembang dari mulut kami yang berbau kopi, kamipun pamit undur diri dari medan warung kopi yang telah menunda perjalanan kami untuk menebus kerinduan kepada kampung halaman.

“Berapa buk?” Tanya kami kompak. Disusul jawaban Ibu yang ramah itu “Sepuluh Ribu Mas.” Kami membayarnya dengan uang receh, ibu itu tersenyum, kami pun tersenyum.

“Makasih ya Buk. Kopinya enak.”

“Ah, mas bisa aja.”

Kamipun terbebas dari jeratan warung kopi, tentu keadaan setelah ini adalah kami akan bertemu dengan jeratan yang lebih berat untuk dilawan, yaa.. sebentar lagi kami akan dijerat sunyi dan sepi. Aku naik bus Solo-Surabaya, sementara Niam akan naik bus Solo-Purwodadi. Kuantar Niam ke bis yang dituju, di sanalah kami mulai berpisah, otomatis koneksi internet Niam akan segera mati.

“Kang, nanti berkabar ya kalau sudah sampai di Rumah.” Pintaku pada Niam.

“Beres Cak, fii amanilah.”

“Oke.”

Aku dan Niam berpisah. Niam menjadi sunyi di kedalaman bis itu, dan akupun menjadi sepi di permukaan kursi bis. Ahirnya kami terjerat kesunyian yang lumayan abadi. Sunyi dalam perjalanan, rawan terombang-ambing kenangan masa lalu.

***

Pagi hari saat aku sampai di terminal Kepuhsari Jombang, aku melihat ada plang bertuliskan tujuan kota ini dan itu. Diantaranya adalah plang (petunjuk arah) ke Lamongan. Berjalanlah aku ke arah itu, meski sebenarnya sudah hafal. Tapi rupanya fungsi dari sebuah pertanda memang salah satunya adalah sebagai pengingat. Baik bagi penumpang pemula maupun bagi perantau yang sudah tau kemana ia harus pulang.

Di tengah kebisingan Terminal Jombang, tiba-tiba aku teringat sebuah keyakinan lama yang sering disadur oleh banyak penyair dan direpost admin-admin sosmed “sejauh apapun engkau berjalan, engkau akan pulang pada apa yang engkau rindukan.”

Sambil berjalan menuju bis yang hendak berangkat ke Tuban, aku bermaksud cuci muka di toilet, sayang sekali toilet nya rusak, akhirnya aku menuju Mushola. Setelah mengambil air wudhu, aku menyempatkan diri untuk menghadap kepada-Nya, eh setelah itu malah tertidur.

Di sanalah, perjalanan yang tak terduga itu terjadi…

di hadapanku muncul wujud Nabi Adam…

Lalu kami ngobrol ke sana-sini…

Dan aku bertanya begini…

“Eh, sampeyan kan pernah tersesat saat diturunkan tuhan dari Surga?”

Nabi Adam pun tersipu malu, “Ah, itu masa lalu. Lupakan saja.”

“Lho, jangan begitu dong kanjeng Nabi.”

“Memangnya kenapa le.?”

“Begini loh njeng Nabi. Sampeyan dan Siti Hawa waktu itu kan belum pakai smartphone, tentu gak saling ‘share lokasi’ kan? Kok bisa-bisanya ketemu di bukit berbatu di bagian timur Padang Arafah?”

“Maksudmu?” Nabi Adam bertanya.

“Aku heran, waktu itu kan masih primitif dan belum berkemajuan, tentu waktu itu belum ada penunjuk arah (plang jalan) seperti sekarang. Eh sampeyan bisa berpelukan mesrah dengan istri tercinta di Jabal Rahmah begitu saja.?”

“Begitu saja gundulmu.!”

“Hahaha, ampun Njeng Nabi. Ampun, Just Kidding”

Nabi Adam pun tertawa terbahak-bahak.

Aku dan Nabi Adam berjalan kompak, sang Nabi rupanya mengantar aku ke Lamongan.

“Ini toh bis jurusan Lamongan?” Tanya Nabi Adam.

“”Sampeyan kok tau?” Jawabku menggoda

Nabi adam menunjuk ke arah kaca Bis yang bertuliskan tujuan perjalanan Tuban. “Itu kan ada tulisan.”

“Nggih kanjeng Nabi. Kukira sampeyan gak perlu petunjuk arah macam begitu”

“Ayo naik.” Ahirnya, aku dan Nabi Adam naik bis menuju Lamongan.

Setelah melewati beberapa lagu dangdut ala pengamen, Nabi Adam mengeluarkan Smartphone nya. Dan menunjukkan sesuatu kepadaku.

“Baca ini le.”

“Apa itu njeng Nabi?”

“Sudah, baca dulu aja.”

Kubaca tulisan yang ditunjukkan Nabi Adam itu. Rupanya dalam tulisan itu Nabi Adam beropini bahwa penemu Aplikasi Google Maps hasil temuan dua bersaudara asal Denmark; Lars dan Jens Eilstrup yang telah tesinkronasi dengan kecerdasan GPS (Global Positioning System) temuan tiga pemuda cerdas; Roger Lee Easton, Bradford Parkinson, dan Ivan A. Getting itu meniru kecerdasan spiritual manusia. Akupun kaget.

“Sudah hatam?” Tanya nabi Adam.

“Sudah kanjeng.”

“Bagus. Itu tulisanku yang kusimpan di memory internal telepon, sengaja tidak kukirim ke media manapun”

“Kenapa begitu kanjeng, wah aku jadi tersanjung”

“Inilah salah satu kebodohanmu, kamu terlalu PD, aku ngasih tau tulisan itu karena kamu ini terlalu bergantung sama samrtphone.” Lanjut Nabi Adam “Bukan karena kamu manusia spesial yang berkesempatan ngobrol dan duduk berdekatan di bis bersamaku.”

Aku hanya menunduk, lalu nabi Adam meneruskan pembicaraannya.

“Tadi malam, aku juga menemani perjalanan temanmu yang polos itu.”

Aku kaget, kemudian bertanya “Loh, Serius?”

Nabi Adam dengan segera menjawabnya. “Iya, aku bilang ke dia, tirulah perjalananku saat mencari Siti Hawa. Kamu hanya butuh ‘yakin’ dan ‘mantab’, tak usah risau jika kuota Internetmu habis, kamu masih punya koneksi kepada Tuhan.”

Aku hanya membisu seribu kata. Nabi Adam masih saja berbicara. “Sayangnya, dia keburu bangun, sebelum aku mengajarkan sesutu yang lebih penting dari keduanya itu.”

“Apa itu?”

Belum tertutup mulutku setelah mengucapkan pertanyaan itu, Nabi Adam tiba-tiba menghilang. Dalam lamunan yang panjang aku terhanyut.

***

Di Lamongan, ada satu kecamatan yang bernama Babat, sampailah aku di sana. Itu artinya sebentar lagi perjalananku akan sampai di Sumelaran. Kulihat batrai HP ku semakin menipis, sementara waktu itu aku belum punya power bank. Kacau sudah suasana hatiku. “Bagiaman caranya aku berkabar untuk minta jemput orang rumah? Masak mau pinjem HP orang? Atau ke wartel, tapi bukankah wartel sudah gulung tikar?” Pertanyaan-pertanyaan itulah yang muncul.

Bis terus melaju, datanglah penumpang perempuan yang cantik dan anggun. Terlihat dari wajahnya sih sudah ibu-ibu. Ia semakin dekat, kemudian duduk di dekatku.

“Permisi mas. Boleh saya duduk?” tanya ibu itu.

“Silahkan Bu.” Aku menggeser sedikit posisi dudukku, “dengan senang hati.”

“terimaksih mas.”

Beberapa menit kemudian, kami hanya diam. Ibu itu kemudian mengeluarkan makanan ringan dari tasnya dan menawarkan nya kepadaku.

“Monggo mas.” Tangan kanan nya menjulur ke hadapan ku. “Ini namnya buah Quldi. Enak, dicoba mas.”

Aku kaget dong, “hari gini masih ada buah Quldi? Bukankah buah itu hanya ada di Surga?” Cuman dalam hati saja sih.

Diikuti senyumnya yang ramah. “Serius mas, inilah buah yang membuat saya dan suami saya dibuang dari Surga, kami sangat menyesal dan kamipun bertaubat.[2]

“Suami Ibu?” tanyaku

“Iya mas. Tadi suami saya menemani Mas bukan?”

“Allahu akbar, drama macam apa lagi ini?” Sekonyong-konyong hati kecilku berkata.

Wanita itu melanjutkan pembicaraannya. “Suami saya tadi berpesan begini Mas. Bilang sama anak Lamongan yang sedang perjalanan mudik itu, yang lebih penting dari keyakinan dan kemantapan hati adalah jangan mudah tergiur dengan kenikmatan belaka.”

“Jadi…. sampeyan ini Siti Hawa?” posisi duduk ku menjadi serius dan panik.

“Tidak penting siapa saya, saya hanya ingin menyampaikan pesan suami saya itu.” Sembari menunjukkan buah Quldi yang tadi ditawarkan.  “Lihatlah buah ini Mas.”

Aku melihatnya, “Boleh saya pegang?”

“Jangan, kamu gak akan kuat, biar kami saja.”

Dalam diam hatiku berkata “Hmmmm rupanya Siti Hawa ini gaul juga, bisa niru gombalan anak cucunya.”

“Buah ini yang membawa kami turun ke Bumi Mas. Waktu itu kami tergiur, dan besryukur sekali setelah itu kami mendapat pelajaran penting dari Allah.”

“Pelajaran penting Bu?” “Pelajaran Menahan Rindu ya?” hahaha

“Bukan mas, tapi pelajaran kekuatan cinta. Ya. Kekuatan cinta lah yang mempertemukan kami di Jabal Rahmah.”

“So sweet sekali Bu.” Aku berseloroh.

“Ya begutilah mas, kerinduan kami begitu besar, Allah memisahkan kami begutu lama, kami nyaris menyerah, lelah dan gelisah sering kali membuat kami limbung. Saat dalam keadaan pasrah itu, Allah ‘mengaktifkan intuisi[3] kami, hati kami tergerak dan sepontan kaki kami melangkah menuju Jabal Rahmah. Di sanalah kami bertemu dan menangis. Betapa dahsyat ciptaan Allah yang terbuat dari tanah seperti kita ini Mas.”

“Boleh saya rekam Bu.”?

“Wah Jangan. Dengarkan saja! Saya lanjutkan ya?”

“Nggeh Bu.” Akupun semakin fokus mendengarkan.

“Mas,….. saya tau, mas seorang penulis. Jangan bertanya saya tau dari mana. Itu tidak penting. Apa yang saya sampaikan ini apakah akan sampeyan kirimkan ke media agar dimuat?”

“Enggak Bu.” Jawabku singkat

“Lho kenapa begitu?”

“Gapapa Bu. Kebetulan kemaren ada kawan saya yang minta tulisan, katanya mau buat sovenir untuk acara pernikahannya.”

“Wah bagus itu.”

“Bagus apanya, lhawong dia belum punya calon tapi sudah minta saya untuk nulis dalam rangka hal yang konyol itu.”

“Hehee, mas, mas, itu bukan konyol, itulah sikap mukmin sejati. Kamu harus berguru kepada kawanmu itu, sebab seperti itulah keyakinan kami sebelum bertemu di Jabal Rahmah, saya dan Nabi adam sama-sama yakin suatu hari pasti bertemu. Ndilalah Allah mempertemukan Juga toh :)”

“Tapi sampeyan sama Nabi Adam kan memang sudah menikah? Beda dong dengan kasus teman saya yang jadi asisten nya Sujiwo Tejo itu?”

Aku melanjutkan “Dia hanya menyadur prinsip yang diajarkan Sujiwo Tejo, bahwa menghina tuhan tak harus membakar kitab sucinya, khawatir gak dapet jodoh aja itu sudah termasuk menghina Tuhan.”

“Sama aja mas. Yang ada di dalam dadamu itu—, sapalah ia, ajaklah ia bekerja sama. Kalau kamu dan hatimu sudah kompak, rasakan sendiri betapa Allah Maha kuasa, banyak sekali kejutan-keajutan dari Allah, Mas.”

Aku menghela nafas panjang……….”Baiklah Bu. Terimakasih.”

“Saya pamit ya Mas. Nitip salam buat kawanmu yang mau menikah itu, bilang sama dia, wanita itu lembut, dan segala sesuatu yang lembut hanya ingin disentuh oleh kelembutan pula.”

“Baik Bu, pasti saya sampaikan.” Kulihat Siti Hawa memasukkan buah Quldinya ke dalam tas. “Gak nitip Kado bu?”

“Huss..Oh iya ada lagi, suamiku juga nitip salam ke istrinya. Beruntung dan bersyukurlah, karena telah mendapatkan suami yang rasa percaya kepada tuhan nya begitu besar. Jika kelak dianugerahi anak, jangan biarkan mereka bertarung dan berebut bahkan saling membunuh karena kekuatan cinta yang disalah artikan seperti anak kami Habil dan Qobil”.[4]

“Siap Bu.”

“Saya Pamit Mas.” Seketika, Perempuan itu lenyap dari penglihatan ku.

Bis berhenti di pertigaan Kampus Unisda Lamongan. Sementara aku masih mencari-cari kemanakah sosok yang barusan pamit dan menyampaikan pesan Nabi Adam itu? Percakapanku dengan Kedua manusia yang menurutku Nabi Adam dan Siti Hawa itu ternyata hanya dalam Mimpi. Aku baru sadar ketika ada seseorang yang membangunkanku “Mas, bangun Mas!. Sudah Adzan Dhuhur.”

“Astaghfirullah, Makasih Pak.”

Barulah aku sadar, ternyata aku tertidur begitu nyenyak di Mushola Terminal Kepuhsari Jombang. Wallahu A’lam…

 

Gubuk Baca Baitu Kilmah

Yogyakarta, 15 Oktober 2018

[1] Baca Qur’an Surat Al Kahfi ayat 11-12

[2] Baca Qur’an Surat Al-A’raaf Ayat 23.

[3] Daya atau kemampuan mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan atau dipelajari. Bisa diartikan bisikan hati atau gerak hati.

[4] Baca Qur’an Surat Al Ma’idah ayat 30

Nonton Streaming TV Online.
Ahmad Ali Adhim

Ahmad Ali Adhim

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta - Pegiat Sastra di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah

Advertisement