Pewarta Nusantara

Keberkahan Bukan Hardware, Melainkan Software yang Harus Terinstal!

Keberkahan Ahmad Ali Adhim
Keberkahan Ahmad Ali Adhim

Oleh : Ahmad Ali Adhim

Kehidupan tidak melulu tentang kesuksesan dan keberhasilan, ada kalanya dalam menjalani hidup ini manusia terpaksa harus terseret kepada dua arus, arus yang pertama adalah arus kebahagiaan, sedangkan arus yang kedua adalah arus kesedihan atau kegelisahan. Martin Seligman seorang Pakar Psikologi yang terkenal dengan nama “Father Of Positive Psychology” dalam karyanya yang berjudul learned optimism, what your change and what your cant, the optimistic child dan authenthic happiness menjelaskan, kebahagiaan merupakan konsep mendasar, mengacu pada emosi positif manusia serta aktifitas positif yang tidak mempunyai komponen perasaan sama sekali.

Sigmund Freud seorang pendiri aliran psikoanalisis dalam bidang ilmu psikologi berpendapat bahwa kegelisahan berasal dari kata gelisah, yang berarti tidak tenteram hatinya, selalu merasa khawatir, tidak tenang, tidak sabar, dan cemas. Sehingga kegelisahan merupakan hal yang menggambarkan seseorang yang tidak tenteram hati maupun perbuatan, merasa khawatir, tidak tenang dalam tingkah lakunya, tidak sabar ataupun dalam kecemasan.

Seperti itulah kedua gambaran tentang kebahagiaan dan kegelisahan yang seringkali datang begitu saja, juga terkadang pergi begitu saja dalam kehidupan manusia. Keduanya tidak pernah pilih-pilih dalam menjalani tugasnya sebagai hamba Allah yang diamanahi untuk mewarnai kehidupan manusia. Seseorang yang terlihat sukses dalam dunia bisnis pun bisa saja mengalami kegelisahan ketika bisnisnya mengalami kerugian. Begitupun dengan seseorang yang hidup serba pas-pasan, bisa saja ia selalu bahagia karena setiap hari hati dan fikirannya selalu sibuk mengingat Allah, selalu bersyukur atas pemberian Allah. Tidak menutup kemungkinan, bisa saja seorang jomblo, mempunyai hak untuk tersenyum lepas dalam menjalani hidupnya, padahal ia hidup seorang diri, tanpa ada yang perhatian dan peduli dengan kesehatan batinnya.

Rasa-rasanya hidup ini penuh misteri, sesuatu yang biasa dianggap kebahagiaan, ternyata justru mendatangkan kegelisahan. Begitupun sebaliknya. Lalu di manakah letak keberkahan hidup? Apakah segala sesuatu yang tidak berkah akan mendatangkan kegelisahan? Dalam kitab Mu’jam Maqaayisil Lughah disebutkan kata berkah memiliki satu makna asal, yaitu tetapnya sesuatu. Dalam kitab al-Mufradat, karya ar-Raghib al-Ashfahani disebutkan lafadz berkah berarti makna menetap di suatu tempat.  Sedangkan dalam perspektif yang lain kata berkah bisa juga diartikan berkembang, Az-Ziyadah atau bertambah hal itu telah tertulis jelas dalam kitab Mu’jam Maqaasyisil Lughah Jilid 1 Halaman 230 disebutkan, Al-Khalil berkata Berkah artinya bertambah dan berkembang.

Kembali kepada pertanyaan di atas tadi, apakah keberkahan bisa mendatangkan kebahagiaan? Al-Imam Abu Zakaria Yahya bin Ziyad bin Abdullah bin Manzhur bin Marwan al-Aslami ad-Dailami al-Kufi al-Farra seorang ulama’ Ahli bahasa Arab di Bagdad dalam karyanya Ma’anil Qur’an beliau berkomentar mengenai penggalan Surat Hud yang artinya seperti ini “…(itu adalah) rahmat Allah dan keberkahan-keberkahan-Nya dicurahkan atas kamu, hai ahlul bait….” (QS. Hud: 73). Al-Farra berkata “Keberkahan (dalam ayat ini) artinya kebahagiaan.”

Setelah menerangkan pendapat ini kepada para muridnya, Abu Manshur al-Azhari mengatakan dalam karyanya yang berjudul Tahzibul Lughah, Al-Azhari “Demikian pula dengan ucapan beliau dalam tahiyyat, Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabiyyu wa rahmatullahi wa barakaatuh, karena siapa saja yang diberi kebahagiaan oleh Allah dengan sesuatu yang Allah membahagiakan Nabi dengannya, maka dia telah memperoleh kebahagiaan yang diberkahi dan langgeng.”

Sedangkan makna sa’adah (kebahagiaan) adalah mendapatkan taufik untuk melakukan kebaikan. Dalam kitab lisanul ‘arab  Jilid 3 Halaman 214 disebutkan “Jika ada yang mengatakan Allah telah membahagiakan seorang hamba, maka maksudnya adalah Allah telah memberinya taufik untuk melakukan sesuatu yang diridhai-Nya, sehingga karenanya dia memperoleh kebahagiaan.”

Adapun makna berkah secara istilah adalah tetap dan langgengnya kebaikan. Makna ini sesuai dengan definisi pertama secara bahasa, yaitu tetap dan selalu melekat. Ar-Raghib Al-Ashfahani mengatakan dalam kitabnya Al-Mufradat fi Gharibil Qur’an, “Al-Barakah adalah tetapnya kebaikan Ilahi pada sesuatu.

Setelah mengkaji beberapa hakikat tentang keberkahan dan kebahagiaan di atas apakah kita masih secara buru-buru menganggap bahwa keberkahan atau kebahagiaan yang sejati bisa dilihat? Atau bisa diibaratkan sebuah benda? Tidak memungkiri kenyataan bahwa keberkahan hidup adalah keadaan yang dikehendaki oleh mayoritas hamba Allah yang beriman, karena itu orang bakal memperoleh limpahan kebaikan dalam kehidupannya. Berkah tidaklah bermakna pada kata cukup dan memenuhi kebutuhan saja, akan tetapi berkah adalah rasa syukur dan kelapangan hati kita dengan semua kondisi yang ada, baik pada situasi berlimpah ataupun pada situasi sebaliknya.

Hidup yang berkah tidak cuma sehat, namun terkadang sakit justru mendatangkan keberkahan sebagaimana Nabi Ayyub, sakitnya membuatnya semakin taat kepada Allah. Berkah itu tidak senantiasa panjang usia, ada yang umurnya pendek namun semakin dahsyat ketaatnya seperti Musab Ibn Umair. Tanah yang berkah bukanlah lantaran subur dan panoramanya yang indah, tanah tandus seperti Makkah yang miliki keutamaan di hadapan Allah tidak ada yang menandingi keberkahannya. Makanan berkah bukanlah makanan yang memiliki komposisi gizi komplit, namun makanan itu dapat mendorong dan memberi energi orang yang mengkonsumsi sehingga ia berubah menjadi lebih patuh sesudah makan. Ilmu yang berkah bukanlah ilmu banyak kisah dan catatan kakinya, bukanlah predikat dan angka yang tinggi, namun ilmu yang berkah adalah ilmu yang dapat menjadikan seseorang meneteskan keringat dan darahnya untuk beramal dan berjuang demi agama Allah. Penghasilan berkah juga tidak melulu soal upah yang besar dan menjadi bertambah semakin banyak, namun sejauh mana penghasilan itu menjadi jalan rizqi untuk yang lain dan makin banyak orang yang terbantu dengan penghasilan itu. Anak-anak  yang berkah tidaklah anak yang banyak, waktu kecil mereka lucu serta imut kemudian sesudah dewasa mereka berhasil meraih bergelar dan memiliki pekerjaan, jabatan tinggi. Namun anak yang berkah adalah yang selalu patuh pada Tuhan-Nya dan nantinya diantara mereka ada yang lebih shalih, tidak henti-hentinya mendo’akan kedua Orang tuanya.

Wallahu a’lam, begitulah keberkahan hidup, ia adalah sistem yang harus terinstal dalam hati dan fikiran kita, ia merupakan software, bukan benda, bukan hardware.! Setelah sistem itu terinstal dalam hidup kita, masih adakah ruang kegelisahan yang patut kita sikapi dengan hati yang sempit? Jika konsep keberkahan ini kita letakkan kepada konteks nasib seorang jomblo, menurut Anda bagaimanakah konsep keberkahan jomblo yang paling tepat?

Happy Weekend, Selamat berbahagia Mblo 🙂

Nonton Streaming TV Online.
Ahmad Ali Adhim

Ahmad Ali Adhim

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta - Pegiat Sastra di Pesantren Kreatif Baitul Kilmah

Advertisement