EsaiOpini

Jadi Mahasiswa itu tidak enak, lulus juga mau jadi apa

Views

PEWARTANUSANTARA.COM – Di zaman now, mahasiswa lulus lebih dari empat tahun seolah menjadi “Aib”. “Aib” bagi keluarga, dosen, teman, dan adek kelas. Tidak hanya sebatas prinsipal, kuliah 4 tahun ini menjadi tuntutan dengan munculnya aturan PERMENDIKBUD No 49 tahun 2014 yang mewajibkan kuliah sarjana hanya maksimal lima tahun. Waktu yang dirasa sangat singkat untuk seseorang dianggap sebagai ilmuwan yang mumpuni di bidangnya.

Jika ingin mengikuti trend lulus sebelum 4 tahun, mahasiswa dalam beberapa semester harus mengambil 24 SKS. Kuliah serasa “full day school” yang sama sekali tidak produktif. Dari 24 SKS tersebut, hampir semuanya membebankan tugas, bisa berupa mingguan ataupun tugas akhir. Realitanya, bagi mahasiswa yang kewalahan, mereka hanya akan memprioritaskan beberapa mata kuliah saja. Sebaliknya, bagi mahasiswa yang “sok” tangguh, dia pasti mabuk berhadapan dengan sistem semacam ini.

Mencari ilmu seharusnya memang membutuhkan waktu yang lama. Para santri zaman now pasti juga masih ingat ini: “Masa belajar itu sejak manusia berada di buaian hingga masuk keliang kubur. Hasan bin Ziyad waktu sudah berumur 80 tahun baru mulai belajar fiqh, 40 tahun berjalan tidak pernah tidur di ranjangnya, lalu 40 tahun berikutnya menjadi mufti.” (Bab 8 tentang Masa Belajar dalam kitab Ta’lim Muta’allim)

Memang, menyandang gelar sarjana merupakan sebuah kebanggaan. Terlepas dari lulus tepat waktu, mendapat IPK tinggi, hingga lulus susah payah, rasa bahagia pasti dirasakan. Namun, ada dilema yang sudah menjadi rahasia umum bagi para mahasiswa yang lulus. Dilema bisa datang dari internal maupun eksternal. Dari sisi internal, ada keinginan untuk lanjut studi, menikah, kerja, dan lain sebagainya. Faktor internal ini menjadi benar-benar dilema ketika dihadapkan pada faktor eksternal yaitu lingkungan sekitar.

Lingkungan sekitar menjadi faktor penentu apa yang harus dan akan dilakukan seorang sarjana baru. Sebagai contoh, banyak mahasiswi yang punya cita-cita studi lanjut dan berkarir yang terhalang karena harus menikah. Sudah hal yang lumrah bagi perempuan untuk menikah saat lulus S-1 lantaran jika dia terlanjur berpendidikan lebih tinggi, akan lebih sulit untuk bertemu jodohnya. Laki-laki akan banyak berpikir untuk mendekati wanita bergelar master ataupun doktor. Kenyataan ini disisi lain menjadi sebuah ketakutan bagi mahasiswi untuk tidak sesegera mungkin lulus karena takut dijodohkan.

Dilema lain pasca lulus adalah berbaur di masyarakat. Ada sebuah pepatah terkenal: “In college you’re taught a lesson, then given a test, But in life, you’re given a test that teaches you a lesson.” Di kampus, kita diajarkan beragam sisi problematika keilmuan secara logis dan teori-teori yang “wah“. Sementara ketika terjun di masyarakat, kita tidak mungkin mengeluarkan itu semua. Dari sini kita tahu bahwa semua ilmu, teori, praktikum, dan skil mahasiswa tidak begitu saja bisa relevan di masyarakat. Masak iya ketika ada acara Rw kita membicarakan Das kapital Karl Max, Filsafat Ibnu Rusyd, Silogisme, dan lain-lain.

Menjadi mahasiswa memang terkesan keren bagi sebagian orang, tapi tuntutan dan tanggung jawab yang dihadapi juga tidak mudah. Semasa masih mahasiswa gelisah dengan tugas mingguan, makalah, praktikum, kkn, skripsi, organisasi, dsb. Setelah lulus, pusing memikirkan apakah mau kerja, lanjut kuliah, menikah, atau menganggur saja. Nah, pilihan terakhir bisa jadi paling membuat stress. Stress karena kurang kerjaan dan stress karena jadi bahan omongan tetangga.