Integrasi Pengarusutamaan Gender di KLHK

Google News
KLHK
Dwi Astuti Nurhaeni saat mengikuti podcast seri ke-3 yang diselenggarakan oleh The Asia Foundation (TAF), Kelompok Kerja (Pokja) PUG KLHK, dan Beritabaru.co dengan tajuk Implementasi Gender dalam Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat (24/12).

Jakarta, Pewartanusantara.com – Praktek baik Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam pengarusutamaan sudah terintegrasi dalam perencanaan. Salah satu bentuk konkritnya tertuang di dalam dokumen Renstra KLHK yang Responsif Gender.

“Jadi responsif gender sudah tertuang di dalam dokumen Renstra KLHK. Terus dari KLHK itu sendiri masuk ke Renstra unit-unit eselon satu,” kata pakar gender (gender expert) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Ismi Dwi Astuti Nurhaeni.

Pernyataan tersebut ia sampaikan dalam podcast seri ke-3 yang diselenggarakan oleh The Asia Foundation (TAF), Kelompok Kerja (Pokja) PUG KLHK, dan Beritabaru.co dengan tajuk Implementasi Gender dalam Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Jumat (24/12).

Ismi juga menyampaikan bahwa komitmen KLHK dalam pengarusutamaan gender adalah dengan mengadakan lomba pengarusutamaan gender bidang lingkungan hidup dan kehutanan di tahun 2020 lalu, dan di tahun ini dikenal sebagai festival gender.

Sebagai gender eksport, bersama KLHK dirinya terus berupaya mengimplementasikan gender hingga level tapak. “Kalau sudah sampai di level tapak maka keterbukaan aksesibilitas untuk memanfaatkan hutan atau mengelola hutan lestari itu harus membuka peluang seluas luasnya bagi perempuan dan laki-laki,” imbuhnya.

“Sekarang ini gender (di KLHK) sudah sampai di apa yang didefinisikan sebagai nature Gender. Dari netral gender menuju nature gender,” ungkap Ismi, dalam acara yang dipandu oleh Davida Ruston Khusen.

Ismi juga melihat selama melakukan pendampingan terkait dengan gender liders di KLHK, banyak eselon II dan beberapa III memiliki kapasitas yang luar biasa. Banyak sekali perempuan pemimpi yang cara pandangnya sangat inovatif dan progresif.

“Dan sudah mulai bermunculan mereka pasti bisa untuk masuk ke eselon 1. Tinggal dibuka peluang seluas-luasnya untuk mereka. Kalau perlu ada affirmative actions bahwa saat ada peluang jabatan-jabatan di unit eselon 1, calonnya sekian persen merepresentasikan perempuan hebat. Kalau itu bisa dilakukan insyaallah ke depan representasi perempuan di eselon 1 akan semakin baik,” tukasnya.

Namun demikian, di akhir sesi Ismi menegaskan bahwa membicarakan gender buka hanya terkait dengan  perempuan, tetapi juga menyeluruh. “Keterbukaan ruang dan kesempatan yang sama bagi perempuan, laki-laki, difabel, kelompok marjinal itu harus mendapatkan keadilan sosial,” tukasnya.