EpistemicEsai

Gejala Perubahan di Era Disruption

Era DisrupsiEra Disrupsi
Views

Menurut Rhenald Kasali, ada enam perubahan yang terjadi di dunia saat ini. Pertama, teknologi, khususnya infokom, telah mengubah dunia tempat kita berpijak. Teknologi telah membuat segala produk menjadi jasa, jasa yang serba digital dan membentuk marketplace baru, platform baru dengan masyarakat yang sama sekali berbeda.

Kedua,  sejalan dengan itu muncullah generasi baru yang menjadi pendukung utama gerakan ini. Mereka tumbuh sebagai kekuatan mayoritas dalam peradaban baru yang menentukan arah masa depan peradaban. Itulah generasi millennials.

Ketiga, kecepatan luar biasa yang lahir dari microprocessor  dengan kapasitas ganda setiap 24 bulan menyebabkan teknologi bergerak lebih cepat dan menuntut manusia berpikir dan bertindak lebih cepat lagi. Manusia dituntut untuk berpikir eksponensial, bukan linear. Manusia dituntut untuk merespon dengan cepat tanpa keterikatan pada waktu (menjadi 24 jam sehari, 7 hari seminggu) dan tempat (menjadi di mana saja), dengan disruptive mindset.

Keempat, sejalan dengan disrupted society, muncullah disruptive leader yang dengan kesadaran penuh menciptakan perubahan dan kemajuan melalui cara-cara baru. Ini jelas menuntut mindset baru; disruptive mindset. Hal ini dapat dilihat pada para bupati dan gubernur yang dibesarkan dalam gelombang kedua internet, yang paham cara melakukan selt-desruption. Mereka justru mendorong semua aparatnya untuk masuk ke media sosial dan memberi layanan 24 jam sehari melalui smartphone. Para aparat itu dituntut untuk berubah dan keluar dari perilaku menjaga warung menjadi prilaku proaktif. Keluar dari tradisi yang membelenggu. Hidup dalam corporate mindset.

Kelima, bukan Cuma teknologi yang tumbuh, tetapi juga cara mengeksplorasi kemenangan. Manusia-manusia baru mengembangkan model bisnis yang amat disruptive yang mengakibatkan barang dan jasa lebih terjangkau (affordable), lebih mudah terakses (accesible), lebih sederhana dan lebih merakyat. Mereka memperkenalkan sharing economy, on demand economy dan segala hal yang lebih real time.

Dan keenam, teknologi sudah sudah memasuki gelombang ketiga: Internet of Things.  Hal ini berarti media sosial dan komersial sudah memasuki titik puncaknya. Duania kini memasuki gelombang smart device yang mendorong kita semua hidup dalam karya-karya yang kolaboratif. Telemedika, smart home, smart city dan smart shopping,  adalah realitas baru yang harus kita hadapi, termasuk dalam dunia pendidikan. hal ini menjadi peluan sekaligus ancaman bagi segala sektor kehidupan kita. Dan terjadilah disruption.

Apa itu Disruption?

Secara bahasa disruption bisa berarti kejutan, kacau dan gangguan. Disrupsi merupakan perubahan yang sangat mendasar sebagaimana telah terjadi di berbagai industri, seperti musik, surat-menyurat, media cetak, dan transportasi publik, seperti taksi. Sekitar 20 tahun yang lalu (1997), Clayton M. Christensen memperkenalkan teori yang dikenal sebagai disruption ini. Kata disruption  menjadi amat popular karena bergerak sejalan dengan muncul dan berkembangnya aplikasi-aplikasi teknologi informasi dan mengubah bentuk kewirausahaan biasa menjadi start up. Kata ini bergeser dari istilah yang dikenal setelah perang dunia, yaitu destruction yang diperkenalkan Schumpeter. Disruption betul-betul suatu revolusi. Sejak krisis ekonomi Asia (1997) dan Amerika Serikat (2008), anak-anak muda diseluruh dunia begitu bergairah membangun start up ketimbang mencari pekerjaan. Mereka bukan sekedar berwirausaha, melainkan mendisrupsi industri, meremajakan dan membongkar pendekatan-pendekatan lama dengan cara baru.

Teori ini memang muncul dari kajian ekonomi, berawal dari kesulitan ekonomi global saat menghadapi krisis. Menurut Rhenald Kasali, krisis yang datang bertubi-tubi belakangan ini telah menyulitkan banyak orang. Krisis semakin sering menghampiri, jarak antar krisis pun semakin pendek. Waktu untuk memulihkan diri menjadi semakin lama karena krisis telah tersebar secara bertahap. Krisis ekonomi Asia pada 1997 dan merobek-robek perekonomian Indonesia pada 1998, tetapi kita baru mulai mengalami pemulihan ekonomi pada 2006. Pada tahun itulah kita mulai menyaksikan perusahaan-perusahaan Indonesia melakukan investasi kembali, merekrut tenaga-tenaga kerja baru dan melakukan ekspansi. Namun, begitu proses itu dimulai, dua tahun kemudian (2008) Amerika mengalami krisis yang sangat berat: subprime mortgage crisis. Kita di asia pun terkena dampaknya.

Dari subprime mortgage crisis, efek berantai terjadi di Eropa. Krisis mata uang mengganggu Yunani, Italia, Portugal, Spanyol dan Prancis pada awal 2011 dan kemudian membuat ekonomi hina melambat pada 2013 dan perekonomian Asia terganggu kembali, melambat dan terancam resesi. Belum lagi masalah ini selesai, terjadilah tragedi Brexit (2016) yang kembali mengancam kestabilan mata uang, lapangan pekerjaan, dan perdagangan dunia. Eropa dan Amerika Serikat semakin protektif.

Krisis yang datang susul-menyusul tentunya menimbulkan dorongan-dorongan perubahan. Masyarakat dan para pelaku ekonomi mencari pegangan baru. PHK, ekonomi biaya tinggi, spekulasi dan idle economy  terjadi di mana-mana. Bukannya semakin terjangkau, harga-harga malahan semakin mahal. Harga energi pada tahun-tahun itu begitu tinggi, begitupula harga aneka komoditas, perumahan, jasa-jasa penginapan serta keuangan, transportasi, farmasi dan sebagainya.

Perlahan anak-anak muda merevolusi, mencari cara untuk mendisrupsi segala jenis produk dan jasa, serta membuatnya lebih murah. Kesimpulan Rhenald Kasali mengenai ini adalah apa yang dilakukan kaum muda ini sesuai dengan saran Christensen dan bermunculanlah usaha-usaha baru.

Dalam era disrupsi dikenal dengan istilah incumbent dan pendatang baru. Incumbent adalah para pelaku usaha yang selama ini mempertahankan pola dan cara yang lama. Sedangkan pendatang baru adalah para pelaku usaha yang berskala lebih kecil tetapi menggunakan cara yang disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan percepatan informasi.

Ada beberapa point penting mengenai disrupsi ini, yaitu:

  1. Disruption adalah suatu proses. Ia tidak terjadi seketika. Dimulai dari ide, riset atau eksperimen, lalu proses pembuatan, pengembanga business model, ketika berhasil, pendatang akan mengembangkan usahanya pada titik pasar terbawah yang diabaikan oleh incumbent, lalu perlahan-lahan menggerus ke atas, ke segmen yang sudah dikuasai incumbent.
  2. Inovasi, Memasuki pasar dengan busines model baru, yang berbeda dengan yang sudah dilakukan pemain-pemain lama. Karena itu, inovasi business model menjadi penting.
  3. Tidak semua disruption sukses menjadi pelaku disruption atau menghancurkan posisi
  4. Incumbent tidak harus selalu berubah menjadi disruptor. ada banyak strategi yang bisa ditempuh incumbent, termasuk meneruskan sustainable innovation dan membentuk unit lain yang melayani
  5. Teknologi bukanlah disruptor, tetapi enabler. Selain TI, alat-alat baru lain dibutuhkan untuk mendukung keberhasilan.

Kemudian ada beberapa point yang dijanjikan oleh disruption, yaitu:

  1. Pemain lama atau cara lama menjadi obselete (usang).
  2. Tercipta jenis pasar baru dan lapangan kerja baru; a) low-end market b) new-market c) termasuk bisnis dan tawaran baru.
  3. Kesempatan self-desruption bagi incumbent.
  4. Elektronifikasi dan digitalisasi.

Baca juga: Disruption Era dan Pemetaan Kebutuhan Fundamental

Ulil Abshor
the authorUlil Abshor
Aktivis lingkar diskusi Epistemic Yogyakarta