Eva Fahrun Nisa: Transformasi Pesantren Jawab Tantangan Modernitas

Google News
Hari Santri 2021
Dosen Australia National University (ANU) College, Eva Fahrun Nisa saat menjadi pemateri dalam Webinar Internasional Peringatan Hari Santri 2021 yang diadakan oleh Rabithah Ma'ahid Islamiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (RMI-PBNU), Rabu (20/10).

Jakarta, Pewartanusantara.com – Dosen Australia National University (ANU) College, Eva Fahrun Nisa mengatakan bahwa wajah identitas pesantren terus bertransformasi untuk menjawab tantangan modernitas yang terus berkembang.

Hal ini disampaikan Eva saat menjadi pembicara pada Webinar Internasional Peringatan Hari Santri 2021 yang diselenggarakan RMI-PBNU dengan tajuk Sudut Pandang Politik, Ekonomi, Budaya, dan Revolusi Teknologi secara daring melalui Zoom Meeting dan YouTube TV9 Official, Rabu (20/10).

“Banyak sekali ulama pesantren yang berkontribusi besar terhadap perkembangan pendidikan di Indonesia. Terbukti pada abad ke 20 pesantren adalah satu-satunya institusi pendidikan di Indonesia dengan fokus ke pelajaran-pelajaran agama,” tutur Eva.

Selain itu, Eva mengatakan kekuatan pesantren juga ditakuti oleh penjajah Belanda yang pada masa sebelum kemerdekaan pesantren secara aktif ikut berjuang melawan penjajahan Belanda.

Eva menjelaskan, pesantren dalam perkembangan masa juga terus bertransformasi guna menjawab tantangan modernitas. Pada awalnya pesantren hanya mengajarkan ilmu agama saja sehingga banyak orang tua di perkotaan enggan memasukkan anaknya ke pesantren.

“Kemudian, di awal abad ke 20 pesantren mulai tumbuh, kendati demikian pesantren juga terus bersaing dengan pendidikan modern,” kata Eva.

Setelah masa kemerdekaan, lanjut Eva, pada tahun 1950 an peneliti memprediksi bahwa pesantren tidak akan mampu untuk menjawab kebutuhan pendidikan bagi modernisasi Indonesia. Namun, prediksi tersebut sepenuhnya tidak benar, karena pesantren menunjukkan kekuatannya yang justru semakin banyak orang berbondong-bondong masuk ke pesantren.

“Awal 1980 an pesantren juga menggiring santrinya ke kelas formal, pesantren mulai mengajarkan bahasa inggris,” katanya.

Eva mengatakan jumlah pesantren terus meningkat, tahun 2009 Indonesia memiliki lebih 21 ribu pesantren dan di tahun 2019 sudah ada 27 ribu pesantren.

“Menurut data Kementerian Agama hingga saat ini jumlah santri mukim dan tidak mukim sudah lebih dari 24 juta,” tutur Eva.

Keberadaan santri yang tengah mengenyam pendidikan tinggi di berbagai belahan dunia, menurut Eva merupakan produk dari transformasi yang terus berkelindan yang dilakukan oleh pesantren.

“Saat ini keberadaan santri sudah mendunia, santri sudah banyak mengenyam pendidikan di timur dan di barat, ini merupakan produk dari transformasi yang terus berkelindan di pesantren,” jelasnya.

Diketahui, acara itu dihadiri juga oleh Wakil Presiden Ma’ruf Amin, Ketua RMI- PBNU Abdul Ghofar Rozin, Rois Syuriah PCI NU Amerika Serikat Ahmad Sholahuddin Kafraw, PCI NU Australia Eva Fachrunnisa, Pengasuh Pesantren AL- Anwar Sarang Abdul Ghofur Maimoen, dan Nadhirsyah Husein atau Gus Nadir.