Resensi Buku

Engkus, Laki-Laki dengan Cinta Abu-Abu

Dari Ranjang ke RanjangDari Ranjang ke Ranjang
Views

Judul        : Dari Ranjang ke Ranjang
Penulis    : Fathul H. Panatapraja
Penerbit : Monkey Publisher
Cetakan  : Pertama, Desember 2019
Isi                : 138 Halaman
ISBN         : 978-623-9058-6-2

Presensi: Mochamad Fahmi
Membaca “Dari Ranjang ke Ranjang” membuka pintu baru bahwa ada hal-hal tabu yang harus diungkap, seperti perilaku mahasiswa kampus Islam yang belum tentu mencerminkan “Islam”, dan kondisi-kondisi dalam dunia pesantren. Begitulah, penulis paham betul bahwa salah satu fungsi sastra adalah membongkar hal yang dianggap tabu, dan dengan sastra kebenaran-kebenaran itu diungkapkan. Penulis sangat mampu menunjukkan cerita-cerita yang bersifat tabu itu dengan kemasan yang sangat ringan.

Tidak perlu waktu lama menyelesaikan novelet ini, dalam waktu singkat saja kita akan dengan mudah mencerna isi dan mengerti apa yang ingin disampaikan oleh penulis. Walau pada beberapa bagian cerita nampak cukup jelas bahwa penulis sedikit terburu-buru dalam mengakhirinya.

Cerita si Engkus dimulai dari bagaimana dia terlahir dari keluarga baik-baik. Memiliki bakat yang cukup bisa dibanggakan sampai hal-hal yang boleh dikatakan sebuah tragedi yang merubah jalan hidup si Engkus dan memiliki akhir yang bisa dikatakan sebuah ‘balas dendam’.

Nasib si Engkus cukup mulus, memiliki wajah tampan dan pengetahuan agama yang baik. Hanya saja keadaan-keadaan di luar akal sehat lah yang merubah Engkus menjadi ‘korban’. Masa kecilnya yang mulai tertarik dengan lawan jenis, bertemu dengan orang yang salah seperti Mang Asep yang mengajarinya hal-hal buruk, sampai penyimpangan seksual yang dialami si Engkus. Salah satu orientasi seksual yang salah adalah karena dampak lingkungan yang sangat berpengaruh. Dan itu adalah pesan moral yang ingin penulis sampaikan pada isi buku ini.

Yang menarik, saat si Engkus mondok di pesantren. Tragedi itu dimulai hanya karena sebuah pementasan drama. Hanya karena si Engkus berperan sebagai perempuan, sudah cukup membangkitkan berahi santri-santri lain. Sampai hitam putih dunia pesantren menjadi keseharian si Engkus.

Pada bagian cerita lain, kisah cinta remaja yang cukup sensual. Perjalanan safari seks Engkus yang boleh dikatakan karena sebuah pembalasan dendam di masa lalunya. Semacam buah simalakama, pada satu sisi masa lalunya di pesantren cukup menyakitkan, di sisi yang lain membuatnya cukup menikmati setiap kenikmatan seksual yang dia alami.

Membaca si Engkus, membaca buku dari ranjang ke ranjang seperti menikmati sebungkus makaroni pedas. Pembaca dipaksa berimajinasi liar, pedas namun ogah untuk menyelesaikannya. “Mandhek pait”.

Pembaca juga dibuat sebal oleh akhir-akhir bagian cerita yang cukup mengambang, sehingga membuat pembaca sangat ingin tahu bagaimana kisah lengkap si Engkus.

Bisa anda bayangkan, bagaimana kita disuguhi cover buku yang sangat bagus, judul buku yang menggairahkan, isi buku yang mampu membongkar tabu, dan dibuat sebal oleh akhir cerita yang cukup menggantung dan membuat penasaran. Kombinasi yang cukup baik dalam mengaduk isi kepala pembaca.

Selamat membaca novelet dari ranjang ke ranjang, dan selamat berkenalan dengan Engkus yang bisa jadi itu adalah diri kita.