EpistemicEsai

Disruption Era dan Pemetaan Kebutuhan Fundamental

Disruption Era - Diskusi Epistemic YogyakartaDisruption Era - Diskusi Epistemic Yogyakarta
Views

“ Today domination perpetuates and extends itself not only through technology but a technology, and the latter provides the great legitimation of the expanding political power which absorbs all spheres of culture…. Technological rationality thus protects rather than cancels the legitimacy of domination and the instrumentalist horizon of reason opens on a rationality totalitarian society.” – Herbert Marcuse.

Dominasi, saat ini tidak hanya melampaui dan menjadi teknologi itu sendiri, tetapi juga sebagai legitimasi atas perluasan kekuatan politik yang menyedot segala ranah kebudayaan. Rasionalitas teknologi menjadi pelindung  terhapusnya legitimasi dominasi dan sebagai kontrol atas cakrawala pemikiran yang terbuka pada sebuah rasionalitas masyarakat totalitarian. Jelas bahwa menurut Marcuse, kehati-hatian dan sikap kritis atas teknologi harus menyala. Untuk alsan inilah Marcuse melihat perlunya meluruskan kembali ilmu pengetahuan dan teknologi agar dapat melayani kebebasan manusia. Iptek harus dipersepsi sebagai alat, bukan tujuan. Ia harus digunakan untuk tujuan pembebasan dan bukan sebagai instrumen penindasan dan dehumanisasi. Sikap kritis dan hati-hati inilah sebagai landasan pijak atas kemajuan teknologi yang sangat cepat saat ini, percepatan teknologi yang oleh Clayton M. Christensen sebut sebagai disruption era.

Pernyataan Marcuse di atas jelas bukan merupakan bentuk suatu ketakutan atas perubahan, karena mau tidak mau pergeseran sejarah adalah hal yang niscaya. Begitu juga dalam ranah apapun, pergeseran dan inovasi harus dilakukan. Saya sebut harus, karena ini merupakan kebutuhan fundamental bagi semua lini, pilihannya ada dua; menjadi obselete atau progres-inovatif (self-disruption) dan adaptif terhadap perkembangan teknologi di era disrupsi.

Baca juga: Kyai di era disruptif: Gus Mus

Nonton Streaming TV Online.
Ulil Abshor
the authorUlil Abshor
Aktivis lingkar diskusi Epistemic Yogyakarta