Desa Sugiharto dan Misteri Virus Anoroc

cerpen tentang corona
Ilustrasi: id.wikipedia.org/

Ini kisah tentang Desa Sugiharto. Ada apa dengan desa Sugiharto? Desa Sugiharto adalah sebuah perkampungan yang letaknya kurang lebih 2 kilo meter sebelah timur dari desa kami. Desa itu termasuk perkampungan yang bisa disebut Gemah Ripah Loh Jinawe. Setiap hari ramai didatangi wisatawan dari luar daerah bahkan luar negeri.

Maka tidak heran bila desa Sugiharto ini menjadi desa yang produktif, masyarakatnya tidak perlu menjadi tenaga kerja di luar daerah, cukup bekerja kreatif di rumah sendiri, mereka akan menjadi kaya raya, meraup rupiah dari para wisatawan.

Belum lagi bila mengingat desa Sugiharto ini mempunyai makanan khas bernama onde-onde, konon onde-onde ini merupakan sumber perekonomian desa Sugiharto paling penting selain sektor wisata yang ada.

Barangkali karena kondisi desa Sugiharto yang subur dan basah untuk mengais rejeki, maka desa Sugiharto menjadi buah bibir banyak desa di luar daerah, banyak pendatang baru di desa itu, banyak juga desa yang diam-diam menaruh dendam, sebab desa Sugiharto selalu unggul di bidang pariwisata dan ekonomi kreatif dengan produk unggulan onde-onde.

Dulu, sebelum desa Sugiharto ini berkembang dan maju, desa itu sempat menjadi desa yang miskin, tidak ada satupun bangunan megah yang berdiri di sana, yang ada hanya gubuk reot dan kumuh. Namun seiring berjalannya waktu, desa itu mengalami perubahan, terhitung semenjak kang Kafi pulang dari perantauan pada tahun 2007.

Konon, kang Kafi itulah yang pertama kali menggagas konsep desa wisata dan mengajak masyarakat untuk berjualan onde-onde. Pada awalnya, tak ada satupun orang yang percaya dengan kang Kafi, bahkan tidak jarang usahanya untuk mengajak masyarakat malah menuai hinaan dan cibiran, bahkan sempat juga kang Kafi dikatakan sesat oleh orang tuanya sendiri.

Pemikiran kang Kafi, tidak begitu saja diterima oleh masyarakat desa Sugiharto, mengingat kang Kafi bukan murid lulusan sekolah ekonomi kreatif dan tata kelola desa. Tapi kang Kafi tak pernah menyerah, ia masih saja menekuni membuat  dibarengi mempromosikan onde-onde dan memulai membangun tempat wisata dengan beberapa sahabat dekat semasa kecilnya.

Hasil tak pernah menghianati proses, onde-onde yang dibuat oleh kang Kafi itu kian gemilang, brand nya dikenal oleh banyak orang, desa wisata yang dimunculkan pun menjadi ramai pengunjung, maka kang Kafi menjadi terhormat, banyak masayarakat desa Sugiharto yang meniru bisnis onde-onde dan membuka kios di sepanjang jalan menuju tempat wisata yang digagas oleh kang Kafi.

Desa Sugiharto berjaya, barangkali itulah yang menjadi sebab hancurnya desa itu secara singkat, karena tidak mempunyai penjagaan dan kewaspadaan terhadap serangan dari desa pesaing yang diam-diam mendendam tadi. Kemegahan mempunyai jarak yang sangat tipis dengan kelemahan, itulah yang terjadi di desa Sugiharto. Tiba-tiba desa itu sepi pengunjung, onde-onde yang diproduksi oleh masyarakat desa Sugiharto pun tidak lagi diterima oleh pelanggan setianya.

Kemarin, kang Kafi datang ke rumah saya, saya sudah mengira pasti dia mau bicara mengenai desanya yang mendadak lumpuh, perekonomian macet, aktivitas beku dan parahnya korban jiwa semakin banyak.

Itulah sebagian keistimewaan kang Kafi, meski dia seorang tokoh terpandang, tapi dia punya waktu untuk bersilaturrahmi dengan banyak orang, termasuk datang ke rumah saya yang kebetulan menjadi penasehat desa wisata Sugiharto.

Kang Kafi biasanya datang ke rumah dengan membawa amplop, amplop itu biasa dia berikan kepada orang-orang desa saya yang dianggap kurang mampu. Untuk pengusaha sukses seperti kang Kafi, mengeluarkan uang 10 Juta tiap bulan untuk bantuan sosial bukanlah hal yang sulit dan hal yang patut dibangga-banggakan, dia selalu menyembunyikan aktivitas ibadah sosilanya itu.

Kang Kafi biasa duduk berhadapan dan wajahnya berseri-seri bila datang ke rumah saya, namun kali ini berbeda, wajahnya berantakan dan kacau.

“Pak, saya sudah mentok, tidak punya solusi lagi untuk mengatasi wabah penyakit yang menyebar di desa saya,” kata kang Kafi dengan suara lirihnya

“Jangan menyerah dulu, Kang. Sudah kami konsultasikan dengan ahli medis dari luar Negeri.”

“Korban jiwa semakin banyak, Pak. Sepertinya ini ahir dari kehidupan desa kami.”

“Tenang dan sabar, Kang. Sembari tetap mengamalkan doa-doa dari Kiai”

“Doa untuk menyembuhkan Virus apa itu sebanding, Pak?”

“Ah, kang Kafi ini terlalu panik hingga mengabaikan kekuasaan Allah, kita sudah mengupayakan dengan tim medis sebagai bentuk ikhtiar dhohir, selanjutkan kita perkuat dengan ikhtiar bathin yaitu berdoa.”

Kang Kafi tidak segera merespon, wajahnya menunduk sembari menghela nafas panjang

“Saya merasa bersalah, Pak. Karena ketidak bijaksanaan saya, jadilah virus ini menyebar dan merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah.”

Saya kaget, apa maksud dari ucapan kang Kafi itu? Saya hanya diam, sementara kang Kafi masih saja mengulang kata penyesalannya berkali-kali, mungkin karena saya belum juga merespon, kang Kafi makin dalam menghela nafas.

“Ah, kang Kafi ini terlalu berlebihan. Virus Anoroc ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan kang Kafi.”

“Ini kesalahan saya, Pak.”

“Bagaimana bisa, Kang?”

“Sekitar dua bulan yang lalu, saya menolak tawaran kerja sama oleh seorang pengusaha dari kota, Pak. Tapi saya menolaknya, sebab kerja sama yang dia tawarkan itu didasari dengan perjodohan, dia bermaksud menjodohkan anaknya yang cacat dengan putri saya.”

“Serius, Kang. Lalu apa hubungannya dengan wabah penyakit ini?” tanya saya penasaran

“Setelah saya menolak tawaran kerja sama dan perjodohan itu, dia mengancam saya, katanya desa Sugiharto akan dibuat miskin, tempat wisata akan sepi, distribusi onde-onde akan macet, lalu setelah itu dia akan berjualan obat, dan menurutnya, hanya obat itu yang bisa menolong keluarga saya dan warga desa Sugiharto.”

“Apa hubungan ancaman dengan obat, Kang?”

“Waktu itu saya juga tidak gentar, Pak. Saya pikir tidak logis dan ancaman itu hanya sekedar kata-kata belaka, tapi setelah melihat kondisi desa kami yang sepi dan lumpuh secara ekonomi, barulah saya sadar jika ancaman itu ternyata dijalankan dengan menyebar virus melalui tim khusus, mereka sengaja membuat virus dan menaruhnya di kolam renang yang ada di desa Sugiharto.”

Saya mengehla nafas panjang, kang Kafi melanjutkan ceritanya

“Bapak tau sendiri kan? Wisatawan yang mendadak meninggal setelah berenang di kolam Sugiharto minggu lalu? Setelah dianalisis oleh Dokter, penyebabnya adalah karena terkena Virus Anoroc yang berasal dari kolam renang.”

Belum sempat saya merespon cerita kang Kafi, tiba-tiba saja handphone kang Kafi berdering, ada telfon masuk dari istrinya, saya tidak tahu mereka berbicara apa, saya mengalihkan fokus ke handphone saya, saat kang Kafi pamit dengan buru-buru, saya baru tahu ternyata anak perempuan kang Kafi yang katanya dilamar itu baru saja meninggal dunia, sudah dua hari masuk rumah sakit.

Wajah kang Kafi semakin tak karuan, matanya meneteskan air mata, lalu meminta diri, dan dengan langkah-langkah tergesa-gesa Kang Kafi bergegas pergi.

Setelah kang Kafi pamit, saya termangu sendiri

“Kenapa hidup ini begitu mudah dikendalikan oleh segelintir orang yang memiliki uang dan kekuasaan, mengapa orang baik dan dermawan seperti kang Kafi menjadi musuh konglomerat dari kota itu hanya karena perjodohannya tidak diterima?”

“Kenapa desa Sugiharto yang menjadi lahan mencari rizki banyak orang itu dilumpuhkan? Apa hanya dengan cara itu pengusaha kaya dari kota itu bisa lebih unggul dan lebih kaya dari kang Kafi, lalu semua orang akan berterimakasih dan menaruh hormat pada dia, karena dialah satu-satunya orang yang mempunyai obat yang bisa menyembuhkan Virus Anoroc.”

Pertanyaan-pertanyaan ini muncul karena biasanya orang baik dan dermawan itu disukai oleh siapapun, tapi ternyata tidak bagi seseorang yang merasa iri dan ingin menguasai segala hal, terutama di bidang perdagangan, cara apapun akan ditempuh, merenggut banyak nyawa manusia bahkan menjadi jalan untuk mencapainya.

Soal perjodohan itu mungkin saja hanya sebagian kecil cara untuk menyulutkan api peperangan, dan liciknya peperangan itu dilakukan dengan jalan senyap, bukan lagi baku hantam dengan nuklir, yaitu dengan menyebarkan virus mematikan. Setelah virus itu menyebar barulah dia akan menjual obat penyembuhnya, tentu saja dia akan kaya dari keuntungan penjualan obat, sementara pengusaha kompetitornya sudah KO, dan desa Wisata yang selama ini menjadi saingan terberat bisnisnya telah lumpuh.

Dia berkuasa, dia kaya raya, dan semua orang di penjuru dunia akan ketakutan, barangkali inilah bio-terorisme itu, teror jenis baru yang sangat berbahaya, sangat menakutkan. Kang Kafi bukan penyebabnya, anak perempuannya telah meninggal.

Ahmad Ali Adhim
Alumnus Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, menulis opini, esai puisi dan cerpen. Aktif di komunitas sastra Pesantren Kreatif Baitul Kilmah