Pewarta Nusantara

Debu Semesta

kupret
Ilustrasi/Feri

Hari ini aku pulang lebih awal, karena guru-guru mengadakan rapat. Bagaimana bisa mereka yang aku dan semua siswa bayar setiap bulan, mengusir kami dari kelas karena rapat misterius. “Dasar tukang makan-makan” kataku mencibir penuh kekesalan dalam perjalanan pulang.

Sesampainya di rumah, aku masih menyesali kepulanganku karena pertemuan dengan Putri hari ini kurang maksimal, “semoga kamu tetap kuat menjalani hari ini tanpa aku di sisimu permaisuriku” kataku dengan senyum tipis ala Li Min Ho, mencoba membuat Putri tetap tegar, sambil berbaring di tempat tidur memandang foto Putri dari kejauhan.

Tiba-tiba terdengar bunyi pesan masuk dari HPku, langsung aku ambil dan melihat isi pesan itu. Ternyata dari Saryogi.

“Sini pret, kita latihan di ruang ekskul”

“Aku udah di rumah Yog” balasku

“Latihan ini penting, karena sebentar lagi kita pentas, Putri juga nunggu kamu!” kata Yogi

Sial, dia jual nama Putri!!” Gumamku dalam hati.

Atau jangan-jangan putri memang sangat menungguku?

“Ok otw” kataku membalas pesan Yogi.

“Pret.. ini putri minta dibelikan gorengan”

Jangankan gorengan Put, mintalah padaku semaumu jelitaku” kataku dalam hati.

“Ok” jawabku singkat

Aku langsung menuju ke warung Mbah Sur sipenjual gorengan paling legend di desaku. Gorengannya selalu hangat, apapun yang kuberikan kepada Putri haruslah sesuatu yang spesial, putri pasti suka gorengan ini.

Belum sempat masuk warung, aku dengar tangisan Tole cucunya yang yatim dan ditinggal ibunya ke Jakarta. Sehingga dia hanya tinggal berdua dengan Mbah Sur neneknya.

“Mbaaahh.. sakiiitt…” Teriak tole dari dalam kamarnya.
“Ya sabar, ini masih jam 11 dokter bukanya jam 4 le. Kamu yang sabar” jawab mbah Sur dari depan rumah sambil melamun bersender di dinding kayu rumahnya menunggu pembeli datang.

“Beli gorengan Mbah” sapaku

“Beli berapa pret..?”

Belum sempat ku jawab pertanyaan Mbah Sur, cucunya kembali berteriak, “Mbaaaaah…. ”

“Kenapa si Tole mbah?” Tanyaku penasaran.

“Dari pagi perutnya sakit Pret.. sudah saya kasih minyak angin tapi masih kesakitan, hari ini belum ada pembeli, saya belum punya uang untuk bawa dia ke dokter, ” jawab mbah Sur dengan mata berbinar seolah mau meneteskan air mata.

“Oh.. gitu yah Mbah, kebetulan sekolahku mau beli gorengan 200 ribu mbah, ada?” Padahal tadinya cuma mau beli 10 ribu buat teman-teman yang palingan cuma ada 4 orang di ruang ekskul. Hanya saja tidak tega dengan kondisi Tole dan Mbah Sur, mudah-mudahan 200 ribu cukup untuk berobat Tole.

“Alhamdulillah… ” Jawab Mbah Sur sambil mengusap pundakku. “Ada pret… ada.. tunggu yah karena banyak agak lama gak papa kan?” Jawab Mbah Sur sambil menahan tangis yang mungkin kalau dilepaskan akan menangis sejadi-jadinya.

“Iya Mbah, ini juga mau saya tinggal dulu sebentar yah Mbah” kataku yang juga sebenarnya sambil menahan tangis haru.

Saya keluar dan kembali kerumah karena harus mengambil uang 200 ribu untuk membayar gorengan. Sampai rumah aku langsung ambil celengan jago dari bahan plastik yang kutaruh di laci tempatku menaruh foto Putri. Kemudian langsung kusembelih jago merah muda malang itu dengan pisau cutter, “bismillah…. maaf jago, kamu harus merelakan impian membangun rumah megah untuk Putri

Ternyata uangnya 452 ribu lebih dari cukup untuk membayar gorengan 200 ribu. Akupun langsung kembali ke warung Mbah Sur untuk membayar gorengan.

“Sudah Mbah?”

“Sudah pret, dibagi jadi 4 kantong kresek ya..” kata Mbah Sur yang sepertinya masih dalam keadaan menahan tangis.

“Iya Mbah.. ini uangnya sudah saya hitung pas Mbah” kataku yang langsung berusaha pergi karena tidak tega mendengar ucapan terimakasih Mbah Sur yang terbata-bata.

Sampai di sekolah, aku langsung ke ruang TU dan menyuruh pak Komar yang biasa membuatkan minum guru, untuk menyajikan gorengan pada guru-guru yang sedang rapat.

“Pak Komar, tolong ini diantar keruang rapat yah pak”

“Dari siapa pret?” Tanya pak Komar.

“Dari Mbah Sur” jawabku singkat

“Siapa itu Mbah Sur? Tanya pak Komar lagi.

“Yang punya gorengan lah..” jawabku sambil pergi dan menenteng satu kresek sisanya menuju ruang ekskul.

Sampai di ruang ekskul, Yogi langsung menyapaku “kamu memang sahabat terbaik.. sini-sini gorengannya nanti dingin” kata Yogi sambil merangkul pundakku.

“Ini gorengan spesial Yog.. kamu akan sangat menyesal kalau tidak mencicipinya selagi hangat” kataku memamerkan kualitas gorengan sang legend Mbah Sur.

“Mana putri?” Tanyaku pada Yogi.

“Kamu kelamaan pret.. Putri sudah aku antar pulang pake motor” kata Saryogi tanpa beban di pundaknya sambil memakan gorengan.

Seketika pikiranku kosong dengan wajah tersenyum bodoh dan ribuan hewan kuteriakan dalam hati.

Dalam perjalanan pulang aku terus memikirkan kesialan hari ini. Kesialanku bertambah saat motorku mogok karena kehabisan bensin dan harus kutuntun. Bahkan niat baikku pada tole nyaris kuungkit. Angin yang berhembus di pepohonan rindang seolah berbisik.

“kamu bilang aja ke Mbah Sur kalau uangnya lebih 250 ribu, pasti dikembalikan pret” bisik pepohonan yang tertiup angin.

Gak!!” Teriakku sekeras mungkin dalam hati.
“Uang bukan segalanya, tole sedang kesakitan! Aku memang miskin, tapi aku bukan binatang yang hanya mengandalkan insting untuk bertahan hidup. Aku memang miskin, tapi aku tetap manusia yang masih punya nurani. Bagaimanapun aku tetaplah debu di mata semesta. aku kayapun, aku tetap debu. Aku senangpun, aku tetap debu. Semesta tetap menganggap kita debu jika eksistensi kita sebatas materi. Meskipun hanya debu di mata semesta, aku ingin anak cucuku bangga pada debu yang sangat manusia, aku ingin Putri bangga karena suaminya adalah debu yang sangat manusia” kataku membantah bisikkan pohon-pohon dalam perjalanan pulang.

Dari kejauhan aku lihat putri yang sedang berjalan membawa bingkisan. Aku langsung lari sambil menuntun motor.

“Put.. putri..” kupanggil dia dari belakang.

“Kenapa motormu Prettt?” Tanya Putri.

“Habis bensin, aku habis latihan sama Yogi..” jawabku sambil tersenyum ala Li Min Ho yang sudah ku pelajari di kamar.

“Bukannya besok latihannya?”

“Tapi kata Saryogi kamu juga tadi latihan terus kamu suruh aku datang dan minta dibelikan gorengan, karena aku lama kamu diantar pulang sama Yogi.. dan…” Tanyaku kebingungan

“Gak ada!” Jawab Putri singkat

Seketika aku merasa bahagia dan tidak bisa menahan bibirku yang memaksa tersenyum karena dia tidak diantar pulang sama Yogi si Yahudi picik.

“Terus kamu beli gorengannya?” Tanya Putri.

Dia pasti menanyakan kesungguhanmu pret! Dia ingin tau apa kamu memenuhi permintaannya” kata otakku yang mencoba merumuskan bersama jawaban paling tepat untuk pertanyaan pancingan Putri.

“Iya.. aku bawakan gorengan” jawabku sambil melirik penasaran bagaimana ekspresi putri.

“Goblok!”

Aku tetap bahagia dibilang ‘goblok’, karena goblok adalah konsekuensi dari cinta, dan betapa aku ingin dia tahu ke-goblok-an ku padanya.

Sekarang kebusukan Yogi baru saja tercium. Mungkin Yogi menganggapku pecundang, tapi sekarang aku tau kalau dia adalah pecundang yang menganggapku pecundang.

“Kamu mau kemana?” Tanyaku pada Putri.

“Mau menjenguk Tole cucu Mbah Sur, katanya sedang sakit”

Seketika aku langsung melobby Tuhan, “Tuhan.. SekenarioMu sungguh agung, mungkin Mbah Sur bisa ceritakan pada Putri tentang kebaikanku, kelihatannya bolehlah Tuhan bantu pamer kebaikan kalau cuma sama Putri.. hehe, ” Doaku dalam hati berharap Tuhan segera membuka tabir kebaikanku pada Putri.

Nonton Streaming TV Online.
Kholid Al Afghani

Kholid al Afghani

Anggap saja tokoh fiksi, pemuja Putri binti Kasturi.

Advertisement

Advertisement