Pewarta Nusantara

The Champion VS The Animal

Malam Minggu kali ini aku tidak mau berdebat dengan binatang di kamar. Aku harus keluar, setidaknya aku bisa temukan inspirasi baru. Mungkin warung kopi pakMin bisa jadi salah satu solusi alternatif.

Sesampainya di warung kopi pakMin, aku cari tempat duduk yang kosong, cerah dan tidak membuat otakku terintimidasi, karena aku tetap harus memberikan kasih sayang sebisaku pada otak yang mungkin sesekali tidak terpakai ini.

Tempat duduk ini ternyata adalah arena khusu catur. Siapapun yang duduk lebih dulu ditempatku sekarang, bisa dikatakan dia sedang menantang pecatur pakMin.

Tepat di depanku, di meja yang berbeda ada seorang yang tersenyum padaku, dia tidak lain adalah bapak Kasturi, ayah sijelita kembang desa, calon mertua yang belum menyadari bahwa orang didepannya adalah calon menantu idaman.

Bapak Kasturi datang menghampiri dan duduk tepat didepanku. “Kamu tau apa artinya kalau orang duduk disini mas?” Katanya membuka obrolan dengan intonasi misterius. “Tentu Om” jawabku meski sebenarnya aku tidak tau apa maksudnya.

“Baiklah, langsung saja kita mulai” dia langsung mengeluarkan papan catur yang ada di laci meja. Tanpa basa-basi kita langsung membuka dan menata catur.

Seseorang dari meja lain datang dan duduk disamping bapak Kasturi. “Songong sekali bocah ini, berani dia lawan kamu Kas?” Tanya orang itu pada bapak Kasturi. “Aku juga gak tau”

“Kenalan dulu mas, aku Kasturi dan ini Sarjiman. Jadi siapa namamu?” Tanya bapak Kasturi.

“salam kenal.. Kenalin om, saya Kupret dari desa sebelah. saya hitam atau putih nih Om?”

“Kamu penantang, kamu putih lah..”

“Ok siap om, saya juara bertahan lomba catur 17an di RT saya loh om.. heheh” kataku mencairkan suasana.

“Baguslah..” jawabnya singkat.

“Kurang ajar anak ini Kas, dia mau jatuhin mental. Sombong betul champion kelas RT satu ini.” Jiman seolah tidak terima, melihat omongannya, jelas dia bakal jadi tukang kompor di pertandingan ini.

“Enggak.., dia gak jatuhin mental, mungkin dia itu pengin tau prestasiku, jadi dia pancing obrolan” jawab bapak Kasturi bijak.

“Buktikan Kas!! Dia harus menyesal duduk ditempat ini, buat malam ini dia gak bisa tidur, kalau perlu sampai nangis kas!!”

Dia ini kenapa sih, saya dan bapak Kasturi yang main, kenapa dia yang kepanasan.. SarJINGAN memang onrang ini.” Kataku dalam hati.

“Kamu tau mas, Kasturi kalau sudah didepan papan catur dia berubah jadi Kasturi the Animal” kata Sarjiman yang aku tidak tau apa maksudnya.

Sebenarnya saya mau tertawa mendengar gelar yang disandang bapak Kasturi, tapi saya harus tetap tenang, jangan sampai terkesan menghina. “The Animal?? Kamu kira ‘Pepe the Animal’ saya kasih tau man! Itu bukan gelar untuk prestasi.. ” kumaki si tukang kompor dalam hati sambil menahan tawa.

“Itu dulu man, jadi gini mas, dulu waktu saya masih muda saya sering catur, dan strategi saya kalau ada kesempatan yang penting makan, beruntungnya saya selalu menang, dari situ orang-orang menjuluki The Animal.” Jelas bapak Kasturi.

Suasana permainan berubah menjadi sangat mencekam, Kasturi memakan kudaku gratis. Pergerakan saya menjadi kacau. “Mereka sedang mempermainkanmu pret, jangan mudah terpancing!!” kataku dalam hati.

Menyadari serangan mental mereka, saya berusaha counter attack. Mereka harus tau kalau kupret benar-benar the Champion bukan anak kemarin sore. “Skak Om, kalau salah langkah, akan sangat fatal, sebaiknya berhati-hati Om.” Kataku.

“Apanya yang fatal?, Itu skak tidak berguna Kas..” Sarjiman seolah tidak rela kalau saya berusaha bangkit dan menyerang mental bapak Kasturi.

“Saya punya cita-cita, suatu saat menantu saya harus pecatur handal” kata Kasturi dengan ekspresi kepala mendongak namun mata melirik sinis padaku, seolah dia menantangku dengan mempertaruhkan Putri anaknya.

Saya heran setiap Kasturi berkata entah apapun itu, pasti mempengaruhi permainanku. Bagaimana tidak, aku langsung berfikir calon suami putri. Bercerita masa depan putri, berarti bercerita masa depanku juga. Mungkin dia memang the Animal, permainan mentalnya begitu liar dan buas.

“Sepertinya om masih belum berhati-hati, kudaku memang sengaja saya serahkan, seeeekak” kataku sambil skak benteng.

“Ini dia, kekecewaan Hillary Clinton disebabkan karena euforia kemenangan dirayakan sebelum penetapan” kata bapak Kasturi, Sambil menutup rajanya.

“Yahudi habis tak berbekas di Jerman era Nazi, karena pressure tanpa henti” kataku sambil memakan benteng bapak Kasturi.

“Begitu yah.. baiklah..” jawab bapak Kasturi santai.

Tiba-tiba disampingku ada Putri, “pak, cepat pulang ada tamu” kata putri sambil berdiri, “iya sebentar.. kamu duduk dulu disini, kita pulang bareng”

“Eh.. kamu pret.. kamu bisa main catur?” Tanya Putri padaku.

Bisa lah.. menantu bapak Kasturi harus master catur, masa kamu tidak tau itu?” Jawabku dalam hati.

“Dia bilang juara catur RT Put” kata Sarjiman sinis.

“Owhh.. ya, bisa jadi.. anak muda di RT kupret rata-rata merantau, mungkin dia melawan sisanya, prmuda cupu” kata putri.

Mendengar pernyataan Putri para penonton khususnya Sarjiman tertawa lebar. Saya benar-benar merasa bertanding di kandang lawan.

Tidak mau kalah dari The Animal, saya terus gencar menyerang psikis agar permainannya buyar. “Oh iya Put, waktu kamu pingsan disekolah kamu gak papa?” Pertanyaanku seolah ‘skak star’, (pertama saya dianggap perhatian. disisi lain, Kasturi pasti akan khawatir anak semata wayangnya mengalami musibah, dan permainannya pasti buyar)

“Kamu kira Putri belum cerita? Dia ditolong dan ditunggu Saryogi, serangan mentalmu bagus, mas, tapi asam manis garam sudah saya cicipi. Sekeras apapun kamu berusaha, bidakmu cuma tinggal star dan benteng, akan sangat sulit untuk menang”

Saryogi?? Siborjuis rambut klimis?? Kanapa dia yang menolong dan menunggu putri??” Tanyaku dalam hati. “Ngapain kamu pikirin itu pret?? Dia tau kalau kamu suka putri, dan dia pancing emosi kami!! Kamu larut di sekenario The Animal” permainanku hancur lebur karena pikiranku dibuyarkan dengan mudah.

Memang Animal orang ini” kataku dalam hati.

“Baiklah om.. saya menyerah om”

“Kamu tau pret?, Bapak ku tidak pernah kalah sejak umur 10 tahun”

“Oh yahh.. Memang luar biasa Put, mungkin saya harus banyak belajar dari bapakmu”

Aku sama sekali tidak kecewa dengan kekalahanku, setidaknya saya tau bagaimana permainan bapak Kasturi. Meski orang-orang disampingnya sangat menggangu dan merendahkanku, malam ini benar-benar berkesan.

Sisi baiknya adalah, Putri menurut untuk menunggu bapaknya dan ikut duduk bersama. Ini adalah momen terhangat bersama Putri binti Kasturi. Sebuah romansa malam Minggu yang epic. Tuhan memang maha romantis, saya ditakdirkan malam Minggu kali ini dipertemukan dengan Putri. Terimakasih Tuhan.

Selagi para pecatur menertawai kebodohanku, Aku tetap tersenyum, memandang putri yang berlalu bersama bapaknya dari warung kopi pakMin.

Nonton Streaming TV Online.
Kholid Al Afghani

Kholid al Afghani

Anggap saja tokoh fiksi, pemuja Putri binti Kasturi.

Advertisement