Pewarta Nusantara

Semarak Pesta Budaya Festival Tabuik, Pariaman

Festival taubik
Festival taubik

Festival Tabuik menjadi salah satu tradisi tahunan masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Festival ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, diperkirakan sejak abad ke-19 masehi. Festival tabuik menjadi upacara adat dalam memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW

Festival tabuik
Puncak acara Festival Tabuik

PEWARTA NUSANTARA – Festival Tabuik adalah tradisi tahunan masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Pesta Tabuik dirayakan sebagai wujud syukur datangnya bulan Muharram. Ketika masuk bulan Muharram (penanggalan Islam), masyarakat Pariaman membuat tabuik atau semacam perwujudan dari makhluk legenda bernama Buraq. Buraq tersebut digambarkan membawa peti jenazah di punggungnya. Tabuik yang dibuat mmiliki tinggi sekitar 15 meter, dan dibagi ke dalam dua bagian. Festival ini diselenggarakan pada tanggal 10-15 Muharram.

(baca juga : Festival Adat di Tidore)

Festival Tabuik menjadi salah satu tradisi tahunan masyarakat Pariaman, Sumatera Barat. Festival ini sudah ada sejak puluhan tahun lalu, diperkirakan sejak abad ke-19 masehi. Festival tabuik menjadi upacara adat dalam memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein bin Ali yang tepatnya pada tanggal 10 Muharram (penanggalan Islam). Sejarah mencatat, Hussein beserta keluarganya wafat dalam peperangan di padang Karbala.

Festival Tabuik berasal dari kata Tabuik diambil dari bahasa arab “tabut” yang memiliki arti peti kayu. Nama Tabuik mengacu pada sebuah legenda tentang kemunculan makhluk yang berwujud kuda dan bersayap dengan memiliki kepala manusia yang disebut sebagai buraq. Legenda ini mengisahkan bahwa setelah wafatnya cucu Nabi yakni Hassan dan Hussein, kotak kayu yang berisi sebuah potongan jenazah Hussein diterbangkan ke langit oleh makhluk yang disebut dengan buraq. Berangkat dari legenda ini, setiap tahunnya masyarakat Pariaman membuat tiruan dari buraq yang sedang membawa tabut di punggungnya.

Legenda yang diterima masyarakat Pariaman secara turun temurun, budaya ini diperkirakan sudah ada di Pariaman sekitar tahun 1826-1828 M. Upacara Tabuik pada masa itu masih sanagt kental dengan pengaruh budaya dari timur tengah yang dibawa oleh masyarakat keturunan India penganut Islam Syiah. Tahun 1910, kemudian muncul kesepakatan antar nagari untuk menyesuaikan Upacara Tabuik dengan adat dari Minangkabau. Sehingga, berkembang Festival Tabuik ini menjadi seperti yang ada sekarang.

Tabuik dalam Festival Tabuik yang dibuat Masyarakat Pariaman terdiri dari dua bagian. Pertama, Tabuik Pasa. Dan kedua, Tabuik Subarang. Kedua Tabuik berasal dari dua wilayah yang berbeda di Kota Pariaman.

Tabuik Pasa (pasar) adalah wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai yang membelah kota tersebut. Panjangnya samapi ke tepian Pantai Gandoriah. Pasa dianggap sebagai daerah asal muasal tradisi tabuik.

Tabuik subarang berasal dari daerah subarang (seberang). Wilayah ini berada di sisi utara dari sungai atau wilayah yang disebut sebagai Kampung Jawa.

Mulanya, Festival Tabuik hanya ada satu Tabuik, yaitu tabuik pasa (pasar). Pada tahun 1915-an, atas permintaan sebagian golongan masyarakat, untuk dibuatkan sebuah tabuik yang lain. Kemudian para tetua nagari sepakat, bahwa tabuik ini harus dibuat di daerah seberang Sungai Pariaman yakni daerah subarang (seberang).

Tabuik yang kedua ini kemudian diberi nama tabuik subarang. Sesepuh masyarakat meriwayatkan bahwa kejadian tersebut diperkirakan terjadi sekitar tahun 1916, tetapi ada pula riwayat yang menyatakan penetapan Tabuik yang kedua terjadi sekitar tahun 1930. Pembuatan tabuik subarang (Tabuik yang kedua) tersebut tetap mengikuti tata cara yang sebelumnya telah berlaku di wilayah Pasa (pasar) dalam rangkaian Festival Tabuik.

Sejak tahun 1982, Festival Tabuik dijadikan sebagai kalender pariwisata Kabupaten Padang Pariaman. Sehingga, terjadi berbagai penyesuaian. Penyesuaian tersebut salah satunya dalam hal waktu penyelenggaraan acara puncak dari rangkaian ritual tabuik tersebut. Sehingga, meskipun Festival Tabuik tetap dimulai pada tanggal 1 Muharram, namun pelaksanaan acara puncak ritualnya dari tahun ke tahun selalu berubah, tidak lagi selalu tepat pada tanggal 10 Muharram.

Rangkaian Festival tradisi tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tahapan ritual tabuik, yaitu mengambil tanah, lalu menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari bersama-sama, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan terakhir membuang tabuik tersebut ke laut sebagai penutup Festival Tabuik.

Pengambilan tanah dilakukan pada tanggal 1 Muharram. kemudian Menebang batang pisang dilakukan pada hari ke-5 bulan Muharram. Mataam pada hari ke-7, kemudian dilanjutkan dengan mangarak jari-jari pada malam harinya. Dan keesokan harinya dilangsungkan ritual mangarak saroban oleh masyarakat Pariaman.

Puncak Festival Tabuik, dilakukan ritual tabuik naik pangkek. Kemudian, dilanjutkan dengan hoyak tabuik. Perayaan puncak ini dulunya selalu jatuh tepat pada tanggal 10 Muharram. Namun, saat ini setiap tahunnya berubah-ubah antara 10-15 Muharram. biasanya akan disesuaikan dengan akhir pekan. Menjelang maghrib, tabuik diarak menuju pantai dan dilarung ke laut sebagai ritual penutup Festival Tabuik.

Setiap tahunnya, puncak acara tabuik hampir selalu dihadiri oleh puluhan ribu pengunjung yang datang dari berbagai pelosok Sumatera Barat, . Tidak hanya masyarakat lokal, festival Tabuik ini pun mendapat perhatian dari banyak turis asing yang membuatnya menjadi perhelatan besar dan selalu ditunggu-tunggu setiap tahunnya.

Puncak acara Festival Tabuik yang berada di Pantai Gandoriah, menjadi titik pusat perhatian. Setiap tahunnya selalu menjadi lautan manusia, khususnya menjelang prosesi tabuik diarak menuju pantai.

Nonton Streaming TV Online.
Erniyati Khalida

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.

Advertisement

Advertisement