Esai

Biografi Claude Levi-Strauss, Sang Bapak Antropologi Modern

Claude Levi Strauss
Foto: Pewarta Nusantara

Pewartanusantara.com – Apakah Anda tertarik dengan antropologi? Jika iya, mungkin perlu membaca biografi Claude Levi-Strauss, salah satu antropolog terkenal nan berpengaruh hingga saat ini.

Ia Mendapatkan julukan sebagai ‘Bapak Antropologi Modern’ pasti bukan tanpa alasan. Seorang Claude Levi-Strauss memiliki banyak pemikiran yang membuka mata manusia mengenai seluk beluk manusia yang lebih luas dari yang dikira.

Riwayat Hidup

Claude Levi-Strauss lahir pada tahun 1906 di Prancis dari orang tua berdarah Yahudi-Belgia. Orang tuanya adalah seniman sehingga Claude Levi-Strauss banyak mengenal huruf dan membaca melalui warna-warna dari krayon. Selain itu, keluarganya merupakan kaum intelektual sehingga tidaklah sulit bagi Claude Levi-Strauss untuk mendapatkan pendidikan yang laik.

Sebenarnya, awal karir Claude Levi-Strauss bukan lah sebagai seorang antropolog, melainkan sebagai seseorang yang belajar ilmu hukum. Pada tahun 1927, ia sempat masuk ke Universitas Paris untuk mempelajari Ilmu Hukum. Namun, di tahun yang sama juga, Claude Levi-Strauss belajar filsafat, di Universitas Sorbonne.

Mendapatkan lisensi dalam bidang hukum juga memberikan pengaruh baginya dibidang lainnya, terutama antropologi. Apalagi setelah Claude Levi-Strauss membaca buku karangan Robert Lowie yang berjudul Primitive Society. Dari buku yang menarik inilah, Claude merasa terdorong untuk membuat penelitian mengenai masyarakat primitif.

Perjalanan Keliling Dunia

Buku Primitive Society membawa banyak pengaruh kepada Claude dan membuatnya memiliki pikiran untuk keliling dunia. Dia bahkan merasa tidak lagi memiliki semangat untuk mengajar di Mont de-Marsan Lycee. Tidak banyak biografi Claude Levi-Strauss yang mengungkapkan perjalanannya keliling dunianya.

Keinginan keliling dunia seorang Claude baru tercapai saat ia mengajar di Universtias Sao Paulo, Brazil yang diawali dengan perjalanan mengunjungi kampung-kampung pedalaman Brazil. Kemudian, ia mendatangi pedalaman suku Indian yang pada saat itu belum terjamah. Tidak lama setelahnya, Claude Levi-Strauss mendapatkan kesempatan untuk mendatangi suku Indian Caduveo dan Bororo.

Perjalanannya tersebut kemudian dituliskan dalam sebuah karya yang berjudul Tristes Tropique. Dalam buku, ia berkisah bagaimana masyarakat primitif Indian yang ada di pedalaman Amazon cukup menderita. Nah, dari buku Tristes Tropique tersebut, Claude mendapatkan ketenaran di negara asalnya, Prancis.

Sayangnya, ekspedisinya mengalami kendala saat ia mendapatkan karir militernya dan ditugaskan sebagai penjaga di pos telekomunikasi. Selain itu, ia juga sempat mengalami perbuatan yang tidak menyenangkan karena menjadi seorang Yahudi. Sampai akhirnya ia dibantu oleh Yayasan Rockefeller yang kebetulan merupakan yayasan yang menyelamatkan ilmuah berdarah Yahudi di Amerika.

Teori dan Hasil Pikiran

Di Amerika, Claude tinggal di daerah Greenwich dan menjalin hubungan baik dengan ilmuan lain seperti A.L. Kroever, Ralph Linton, dan masih banyak lainnya. Selain itu, Claude bahkan sempat menjadi pengajar untuk mata kuliah etnologi di New York Ecole Libre des Hautes Etudes.

Nah, Claude adalah seseorang yang memegang erat konsep Strukturalisme. Konsep strukturalisme ini lahir karena adanya perasaan tidak puas dari fenomenologi dan eksistensialisme. Hal ini juga tidak lepas dari kekecewaan Claude kepada peneliti sebelumnya yang tidak mempertimbangkan perbedaan bahasa yang sebenarnya cukup dekat dengan keberadaan manusia itu sendiri.

Dalam bukunya, Claude juga mengungkapkan bahwa sebaiknya dalam penelaah budaya perlu penggunaan konsep linguistik seperti yang dikembangkan oleh Ferdinand de Saussure. Apa yang ada pada manusia, termasuk perilakunya, memiliki kaitan erat dengan bahasa yang digunakan.

“The scientist is not a person who gives the right answers, he’s one who asks the right questions.”

Hal ini kemudian muncul konsep adanya kesamaan antara budaya dan bahasa.  Dalam beberapa catatan biografi Claude Levi-Strauss lainnya mungkin juga akan Anda menemukan bahwa ia memiliki perbedaan pendapat dengan pendahulunya yaitu Bergson.

Baca juga: Biografi Noam Chomsky sebagai Tokoh Anarkis Klasik

Tentang Penulis

pewarta