Sosok
120 Views

Martin Heidegger, Kontroversi dan Teorinya

Martin Heidegger
Foto: Lingkar Studi Filsafat Discourse

Pewartanusantara.com – Pasti Anda sering mendapati kuis psikologi yang berhubungan dengan interpretasi dari eksistensi sebuah gambar, bukan? Atau pernahkah Anda menonton film Judgement Day? Di situlah terdapat satu teori Heidegger yang berbunyi, Saat manusia tidak dapat mengendalikan teknologinya sendiri, di situlah muncul kiamat. Ini dia biografi Martin Heidegger.

Riwayat Hidup

Martin Heidegger lahir di Messkirch, Jerman Barat pada 26 September 1889. Dia merupakan salah satu murid filsuf legendaris Edmund Husserl. Martin berasal dari keluarga religius Katolik, bahkan masa kecilnya dia disiapkan menjadi seorang pendeta. Martin mendapatkan beasiswa dari gereja untuk melanjutkan studi ke sekolah tinggi di Konstanz.

Mengecap pendidikan di sana selama tiga tahun, Martin kemudian pindah ke Freiburg. Di universitas ini dia bertemu dengan Edmund Husserl dan ketertarikannya pada filsafat bertumbuh pesat. Dia berusia 17 tahun saat itu dan sudah membaca On the Manifold Meaning of Being according to Aristotle, buku karya Frantz Brentano.

Pendidikan dan Teori

Pada perkembangannya, Martin Heidegger menjadi seorang filsuf yang menggabungkan konsep dekonstruksi, eksistensialisme, hermeneutika, dan sebagainya. Konsep pemikirannya membelokkan filsafat Barat atas berbagai pertanyaan metafisika dan epistemologi menjadi pertanyaan-pertanyaan ontologis.

Dia bahkan merubah paradigma hermeneutika lama dengan pembalikan ontologis yang nantinya menjadi kerangka hermeneutika modern. Hidupnya yang kontradiktif menjadikan Martin semakin populer. Bayangkan saja, dia seorang Katolik religius namun mempunyai teori menolak konsep Tuhan secara metafisika.

Teorinya benar karena menurutnya Tuhan tidak tampak wujudnya dan tidak ada kondisi yang memungkinkan manusia berbicara langsung dengan Tuhan.  Meski secara epistemologis Martin tampak terdengar tak bertuhan atau agnostik, teori konsep ketuhanannya menjadi acuan konsep Teologi Kristiani di masa depan.

Konsep ini berpendapat bahwa Tuhan secara metafisika tidak hanya cukup bersifat ilahiah dan bukan “Pengada” seperti yang disebutkan. Tuhan itu bukan “Pengada” namun “Mengada” yang begitu kuasa dan suci. Konsep “Pengada” hanya membuat Tuhan sejajar dengan “Pengada-pengada” yang lain.

Kontroversi Sang Tokoh

Konsep teologi Martin terganggu saat dia menikahi Elfrida Fetri yang merupakan pengikut Luther. Martin yang beragama Katolik kemudian mengalami krisis keimanan dan mempengaruhi teori teologinya. Kontroversi berlanjut saat Martin dianggap mendukung rezim Adolf Hitler melalui tulisan-tulisannya. Sampai dia tutup usia pun belum terungkap jelas keterlibatannya dengan Hitler.

Meskipun tampak kontroversial di bidang teologi dan ideologi, karya Martin di bidang fenomenologi meninggalkan jejak besar. Dia menulis sebuah karya yang berhubungan dengan teori Ontologi yang berjudul Being and Time. Di sini teorinya menjelaskan tentang teori keberadaan dan makna keberadaan manusia.

Tidak seperti makhluk hidup yang lain, manusia sering menanyakan keberadaannya dan karena itu manusia selalu memilih dan memutuskan sesuatu. Oleh karena pilihan-pilihan tersebut, ide-ide muncul dari seorang manusia. Perilaku manusia sehari-hari merupakan implementasi dan insting untuk mengungkap fakta dan makna seluruh entitas. Itulah yang disebut pemahaman ontologis.

Secara teoritis, Martin berpendapat bahwa ide penting tentang keberadaan manusia harus dipahami dari kehidupan sehari-harinya. Dalam hal ini Martin menganggap manusia tidak bisa terpisah dari hal yang diamatinya, tidak seperti teori sebelumnya yang dikemukakan oleh Descartes, Kant, dan Hume. Teori itu menyatakan bahwa manusia sebagai pengamat bisa memisahkan dari dunia yang diamatinya.

Tutup Usia

Martin Heidegger tutup usia pada 26 Mei 1976 pada usia 86 tahun di Freiburg im Breisgau (Jerman). Lepas dari teori teologinya yang kontroversial, Martin telah meninggalkan pemikiran tentang keberadaan otentik yang harus merujuk pada sejarah yang otentik. Teori ini digunakan oleh para sejarawan untuk melakukan pencarian keotentikan.

“If I take death into my life, acknowledge it, and face it squarely, I will free myself from the anxiety of death and the pettiness of life – and only then will I be free to become myself. ”
― Martin Heidegger

Biografi Martin Heidegger selalu menarik untuk disimak. Teori filsafatnya yang menyangkut beberapa pemikiran dan aspek membuat dirinya mudah masuk dalam segmen yang beragam.

Tentang Penulis

Avatar

pewarta