Pewarta Nusantara

Festival Bau Nyale Putri Mandalika Lombok

Bau Nyale
Bau Nyale

Festival Bau Nyale adalah festival adat Lombok. Dalam bahasa Sasak, kata “Bau” bermakna menangkap. Sedangkan kata “Nyale” adalah sebutan untuk cacing laut. Dimana cicing tersebut muncul ke permukaan pantai hanya sekali dalam setahun.

Festival Bau Nyale dimeriahkan dengan menangkap cacing di sepanjang pantai Lombok. Festival ini digelar tahunan di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Lombok bukan hanya tentang Rinjani ataupun tiga Gili saja yang memang selama ini sudah sering kita dengan keindahan pesonanya.

Festival Bau Nyale biasanya diselenggarakan di bulan ke-10 pada hari ke-20 dalam penghitungan bulan yang ada pada penanggalan tradisional Suku Sasak.

Festival adat Bau Nyale (menangkap cacing laut) merupakan acara unggulan Lombok Provinsi NTB, sekaligus sarana yang efektif untuk mempromosikan kawasan Mandalika. Daerah tersebut merupakan satu dari 10 destinasi prioritas Kementerian Pariwisata.

Wisatawan akan disuguhkan serangkaian acara Festival Bau Nyale. acara di mulai sekitar tanggal 10-17 Februari . Beberapa rangkaian yang disiapkan antara lain peresean, bersih pantai, surfing, parade budaya, lomba swafoto dengan kamera HP, voli pantai, kampung kuliner, pemilihan Putri Mandalika, pagelaran, dan beragam acara hiburan dapat disaksikan pada perhelatan ini.

Bau Nyale adalah sebuah tradisi adat warga lombok suku sasak yang identik dengan menangkap nyale atau cacing laut. Kebanyakan warga lombok yang melakukan tradisi ini, adalah mereka penduduk Lombok yang berdomisili di bagian selatan, khususnya penganut Wetu Telu.

Tradisi ini dikaitkan dengan cerita adat lombok tentang Putri Mandalika yang konon diperebutkan oleh banyak pangeran. Sang putri tidak bisa menentukan pilihannya, dan kemudian akhirnya memutuskan menceburkan diri ke laut.

Nyale (Cicing laut) yang keluar setahun sekali di Laut Selatan Lombok Tengah ini, dipercaya merupakan jelmaan rambut Putri Mandalika oleh masyarakat Lombok.

Kemunculan nyale (Cicing laut) di lombok ini memang unik. Selama ini nyale memang selalu muncul setahun sekali di sekitar Pantai Kuta dan Seger pada saat musim hujan di lombok. Nyale-nyale selalu muncul dua sampai tiga malam, tepatnya saat sebelum fajar menyingsing.

Tetua adat lombok sering kali tepat memprediksi keberadaan nyale. akan tetapi, beberapa kali prediksi tersebut juga bisa meleset selisih satu hari, bahkan pernah seminggu. kegiatan adat bau nyale yang dilakukan bersama-sama merupakan satu bentuk pelestarian tradisi, sekaligus pelepasan kerinduan terhadap Putri Mandalika yang sudah lama menghilang. Nyale yang telah ditangkap warga Lombok akan dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Upacara adat penangkapan nyale di Lombok memang sangat meriah. Terlebih, saat dimana masyarakat berkerumun mencari nyale di sepanjang pantai. Pada malam sebelum perayaan festival berlangsung, biasanya warga melakukan ritual sendiri di rumah mereka masing-masing. Beberapa ritual yang biasa dilakukan pada perayaan bau nyale adalah memotong ayam dan membuat ketupat.

Nonton Streaming TV Online.
Erniyati Khalida

Erniyati Khalida

Penulis tetap di Pewarta Nusantara ( pewartanusantara.com ). Konten spesial Budaya Nusantara.

Advertisement

Advertisement