Pewarta Nusantara

“Aku tidak tau syariat Islam”

“Pak Kiai, kemarin saya melihat video, ada orang dengan bangga mengatakan “saya tidak tau syariat Islam” saya sangat marah pak Kiai, marah karena keilmuan Islam seolah berada pada level yang tidak lagi penting. Orang itu berkata dengan sangat bangga “saya tidak tau syariat Islam”. Orang itu merasa bangga karena dia mengetahui sesuatu yang dia pikir lebih berarti dari pada pengetahuan tentang agamanya.”

“Pak Kiai, apakah mempelajari agama memang tidak penting?!! Jadi yang saya dan Putri binti Kasturi lakukan setiap Minggu, datang jauh-jauh dengan sampan kesini untuk pengajian adalah sia-sia??” Tanyaku dengan nada marah.

“Saya sangat marah ketika agamaku dikikis pelan-pelan substansinya, pak Kiai. Karena saya merasa kalimat “saya tidak tau syariat Islam” yang diucapkan dengan bangga membuat orang awam berfikir bahwa, tidak mempelajari syariat Islam memang hal yang lumrah. Jika pemahaman ini terus berkembang, bagaimana agama yang saya cintai ini bisa bertahan sampai anak cucu kita?”

“Saya tidak mau agama sebagai pembenah perilaku manusia dilucuti, mungkin kesannya menghancurkan Islam, tapi secara tidak sadar hampir semua Agama akan terdampak. Akan banyak orang yang beranggapan bahwa manusia tidak harus beragama untuk hidup sentosa. Baik dengan alunan kidung, tarian, atau kata-kata indah lainnya sebagai legitimasi ketidak peduliannya pada agama.”

“Saya sangat marah pak Kiai, apa yang harus kita lakukan sebagai orang Islam?” Berondongan pertanyaan saya seolah tidak mau berhenti, orang paling paham Islam di desa saya harus benar-benar tau kalau situasi ini sangat genting.

Pertanyaan-pertanyaan itu saya sampaikan ketika sowan (datang ketempat Kiai) sehari setelah melihat video fenomenal puisi yang mengatakan “saya tidak tau syariat Islam”. Pertanyaan saya pada pak Kiai di rumah beliau memang sudah saya susun. Saya harus benar-benar bertindak, setidaknya tindakan saya berangkat dari orang yang benar-benar paham agama, yakni Kiai Fajar Abdul Ghoni (Jarkoni).

Baca juga: Ngaji pada Kiai Fajar Abdul Ghoni

“Kupret!!! Kenapa kamu datang langsung marah-marah sama saya” bentak Kiai

“Maaf pak Kiai, saya sangat tersinggung karena seolah-olah agama saya sedang direndahkan”

“Orang baru seolah-olah kok kamu kebakaran jenggot!!! Memangnya kamu sendiri sudah tau syariat Islam pretttt??” pak Kiai justru balik bertanya.

“Ya saya mengaji sama pak Kiai, jelas saya tau”

“Lho… Saya sendiri belum yakin kalau saya benar-benar mengetahui syariat Islam. Bagaimana kamu bisa yakin kalau kamu tau betul syariat Islam??”

Sontak saya marah juga sama Kiai Jarkoni. “Lho.. pak Kiai ini bagaimana?, jadi betul pak Kyai itu memang Jarkoni (baca: ngajar tapi gak melakoni)!!!”

“Maksudmu saya ngajari tapi gak melakoni??. Melakoni atau tidak kan urusan saya sama tuhan prett… Urusanmu apa?”

Kiai Jarkoni lanjut menjelaskan, “Jadi begini kupret! Saya dulu ngaji sama Kiai, Kiai saya ngaji sama Kiainya lagi dan begitu seterusnya yang insyaallah sampai pada Nabi Muhammad. Saya tidak langsung mengetahui cara solat, zakat puasa dan amalan ubudiyah lainnya dari nabi. Jadi, bagaimana saya tau kalau yang saya lakukan itu benar?, Bagaimana saya tau kalau saya memang benar-benar mengetahui syariat yang Nabi ajarkan?”

Saya menjadi lebih bingung dari pada sebelumnya, “bagaimana bisa Agama yang saya gandrungi ternyata sangat rancu?, bagaimana bisa orang seperti ini disebut Kiai, dasar Jarkoni!!” Gumamku dalam hati.

“Terus bagaimana dengan ibadah ku selama ini??!!! Terus bagaimana status agama kita pak Kiai?!!” Saya terus mendesak pak Kiai untuk memberi jawaban yang memuaskan.

“Kupret!! Kamu ngaji dulu yang rajin, enak saja pengin tau pertanyaan yang rumit dengan satu jawaban!! Kamu kira Kiai saya dulu paham ilmu agama dengan satu pertanyaan??.”

Kiai Jarkoni kemudian melanjutkan, “Kebenaran syariat mutlak hak prerogatif Tuhan. Tapi yang jelas begini Prettt, saya belajar sama Kiai yang memang ‘alim, pengetahuan Islamnya bukan didapat dengan cara menonton YouTube atau cara instan lainnya. Beliau sangat paham keilmuan agama, beliau sangat yakin kalau Al-Qur’an masih terjaga kebenarannya sampai sekarang, begitu juga Hadits-hadits shahih nabi, saya pun meyakini itu. Saya sangat percaya Tuhan tetap akan menjaga hambanya, selama hambanya benar-benar serius mencintai Tuhannya. Bagaimana Tuhan tau kalau hambanya benar-benar mencintai-Nya? Tentu dengan keseriusan menyembah yang bukan dengan cara membabi-buta, tetapi dengan ilmu yang dipelajari dari Al-Qur’an dan Al-hadits. Dan penjaga keilmuan tuhan adalah mereka para alim ulama. Keseriusan saya mempelajari agama dan mengamalkannya adalah bukti cinta saya pada Tuhan. Yang lebih penting adalah, saya sangat percaya bahwa cinta saya pada Tuhan sampai tanpa kurang suatu apapun. Tidak seperti cintamu sama Putri binti Kasturi.”

Baca juga: Perjumpaan dengan Putri binti Kasturi

“Saya tidak mengatakan mempelajari agama tidak penting prett.. mempelajari agama itu wajib!!! Tapi apakah klaim pengetahuan tentang syariat itu masih penting?” Lanjut Kiai Jarkoni.

Saya sudah mulai tercerahkan, “meskipun njengkelin, mungkin orang ini memang Kiai” gumamku, namun tidak sengaja kata-kata itu keluar dari mulutku.

“Apa maksudmu ‘orang ini’ kurangajar kamu Kupret..!!!” Bentak Kiai

“Maaf maksud saya, o.o.orang yang di video..”

“Permisi pak Kiai, Assalamualaikum.”

 

 

 

Nonton Streaming TV Online.
Kholid Al Afghani

Kholid al Afghani

Anggap saja tokoh fiksi, pemuja Putri binti Kasturi.

Advertisement

Advertisement