Artikel

Afghanistan di bawah Bendera Taliban

Taliban
Ilustrasi Prajurit Taliban

Pewartanusantara.com – Setelah hampir 20 tahun perjuangan Taliban di pinggir kekuasaan, di bulan Agustus yang lalu mereka mulai mengambil alih beberapa kota penting di Afghanistan yang puncaknya adalah mereka berhasil menduduki ibu kota Kabul. Menyadari bahwa kekuasaanya segera berakhir, Ashraf Ghani tampil dihadapan publik dan meminta proses perlaihan kekuasaan tidak perlu disertai dengan pertumpahan darah. Ia lalu meninggalkan Istana Presiden dan terbang untuk mengungsi ke negara tetangga. Hal ini perlu dilakukan selain karena khawatir tentang keselamatan dirinya sendiri, Ia juga tidak ingin Afghanistan terjebak (lagi) dalam situasi perang sipil.

Pada titik tertentu, fenomena peralihan kekuasan itu mencerminkan kegagalan dari salah satu kebijakan luar negeri Amerika Serikat dalam upaya perang terhadap terorisme. Dalam dua dekade ke belakang, upaya intervensi Amerika di Afghanistan lebih bertumpu pada dua hal yaitu pembangunan kekuatan keamanan dan upaya demokratisasi. Untuk yang pertama, hal ini tampak dalam perekrutan dan pembentukan pasukan keamanan yang (diharapkan) loyal terhadap pemerintah yang berkuasa. Dari laporan tentang kapasitas keamanan, setidaknya ada sekitar 300 ribu lebih pasukan keamaan yang dapat dimobilisasi baik untuk mempertahankan kekuasaan ataupun untuk menekan militansi Taliban.

Di samping itu, demokratisasi di Afghanistan terlihat cukup jelas dalam penyelenggaraan pemilu dan penguatan kekuatan sipil lewat lembaga-lembaga donor. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah mengapa pasukan keamanan yang telah disupport dana puluhan juta dollar seakan menyerah begitu saja? Dan bagaimana kekuatan sipil merespons perubahan drastis tersebut?

Meneropong Taliban

Sejauh ini, tidak sedikit pengamat yang telah membagikan pandangannya tentang apa yang bisa dipelajari tentang kemenangan Taliban. Paling tidak pandangan mereka mengarah pada dua tendensi. Yang satu cenderung berpandangan alarmist atau jadi penabuh genderang bahaya. Cara pandang ini selalu ditopang oleh kerangka berpikir essensialist yang mana Taliban adalah kelompok radikal-konservatif yang tampak banyak kejelekannya. Mereka kerap memanggil kembali memori kelam masa lalu sebagai dasar legitimasinya.

Tentu pandangan yang demikian tidak salah sama sekali, tapi kurang tepat dalam memahami sesuatu yang memiliki kemungkinan untuk berubah. Dalam pandangan ini tidak muncul pertanyaan tentang apa perbedaan Taliban yang sekarang dengan Taliban yang dulu? Salah satu konsekuensinya adalah rasa khawatir yang bertumpuk-tumpuk baik itu tentang nasib perempuannya ataupun represi dari konservatisme.

Yang lainnya cenderung bersikap realist. Dalam cara pandang ini penilaian terhadap Taliban akan selalu mempertimbangkan peluang dan hambatan dalam gerak realitas sosial. Bagi seorang realist, Taliban tentu akan mengambil langkah-langkah pragmatis, berbeda jauh dengan apa yang dulu pernah mereka lakukan, karena tahu bahwa kekuasaan yang efektif butuh dari sekadar ideologi ataupun aparat yang siap bertindak represif. Artinya ada persolaan lain yang tidak kalah penting yaitu sumberdaya ekonomis, stabilitas politik, dan tingkat peluang-peluang sosial.

Tanah Para Gerilya

Rute sejarah bangsa Afghanistan dalam setengah abad terakhir digerakkan oleh kobaran api perjuangan. Di awal era 80an dunia telah menyaksikan bagaimana negara superpower Uni Soviet mengintervensi negeri ini dengan kekuatan militer sebagai bentuk dukungan terhadap salah satu faksi politik yang berkuasa saat itu. Di lain pihak, kedatangan tentara merah ini mengundang perlawanan rakyat karena tidak ingin negera yang mereka cintai dijadikan negara boneka. Peperangan antar keduanya pun tak terelakkan. Dalam perang ini pasukan Mujahidin melakukan gerilya untuk mengimbangi persenjataan canggih milik tentara Soviet. Selama perang ini berlangsung diperkirakan lebih dari ratusan ribu nyawa melayang dan membuat jutaan orang mengungsi.

Konfoi Taliban
©REUTERS/Abdul Khaliq Achakzai

Setelah tentara Soviet ditarik mundur, gejolak di Afghanistan tidak menunjukkan tanda akan mereda. Alasannya pasukan Mujahidin masih meragukan legitimasi pemerintah saat itu karena memiliki hubungan yang erat dengan pihak Soviet. Pasukan Mujahidin pun bergerilya untuk menggulingkan kekuasaan yang bertempat di Kabul. Dalam perkembangannya antar faksi pasukan Mujahidin, yang dimobilisasi oleh pemimpin militant lokal (warlord), pun berperang satu dengan yang lainnya. Dengan kata lain Afghanistan terjebak dalam perang sipil yang berlarut-larut.

Dalam situasi Afghanistan yang kacau-balau seperti itu Taliban muncul. Kelompok ini memiliki tujuan membebaskan rakyat dari kepeminpinan yang korup dan membentuk masyarakat islam yang asli. Dengan dukungan secara tidak langsung dari Pakistan, Taliban pun mulai melakukan pergerakan dan berusaha mengambil alih kota-kota penting. Sampai akhirnya mereka berhasil menduduki Kabul pada akhir September 1996.

Saat Taliban memegang kendali kekuasaan perdamaian masih tak kunjung datang. Hal ini disebabkan oleh terbentuknya faksi oposisi yang menduduki wilayah utara Afgahnistan. Kedua kekuatan ini punya pendukungnya masing-masing. Yang satu di dukung oleh Pakistan dan Arab Saudi. Yang lainnya di dukung oleh NATO, Iran dan Russia. Dalam barisan pasukan Taliban terdapat kelompok militan Al-Qaeda yang terkenal sangat anti-Amerika. Ketika kelompok ini meneror Amerika lewat pengeboman bunuh diri menara kembar WTC, seluruh dunia mulai menyadari potensi aksi terorisme yang disertai paham radikal. Setelah peristiwa 9/11 itu, Amerika mengerahkan pengaruh dan kekuatan militernya untuk berperang melawan terorisme. Sebagai konsekuensi Taliban yang tengah berkuasa di Afghanistan harus bersiap menerima intervensi militer oleh kekuatan hegemonik global.

Dalam tempo yang relatif singkat tentara NATO mampu memaksa mundur pasukan Taliban ke daerah pinggiran. Dengan demikian Afghanistan juga mengalami kekosongan kekuasaan. Tidak lama berselang pemerintahan baru pun dibentuk. Merespon hal ini pasukan Taliban melakukan perlawanan kembali dengan bergerilya. Bagi mereka perlawanan ini adalah bentuk pembebasan Afghanistan dari cengkraman Amerika.

Dari sini, kita dapat mengatakan bahwa sejarah bangsa Afghanistan diwarnai oleh perjuangan berdarah para gerilyawan melawan kekuatan asing yang beraliansi dengan rezim yang berkuasa. Namun ongkos yang harus dibayar begitu mahal. Langkanya stabilitas politik atau visi kesepahaman membuat rakyat Afghanistan menderita dan terteror oleh ketidakpastian. Hal ini membuat tingkat kesejahteraan, pendidikan dan layanan kesehatan masih kurang begitu berkembang. Lalu mampukah Taliban mengatasi persoalan yang berat ini?

Tentang Penulis

fendhy