Pewarta Nusantara

Achilles “Sang Jihadis” Cinta

Achilles
Ilustrasi/Feri Setiaji

Sebut saja Achilles, Pejuang tangguh dalam mitologi Yunani yang tidak pernah terkalahkan dalam setiap pertarungan. Dia bukanlah Hamzah, Khalid bin walid atau Umar bin Khatab. Membunuh bukanlah sesuatu yang asing ditangan Achilles. 

Tak terkalahkan, ego yang tinggi, dingin dan tidak mengenal rasa takut akan kematian. Tangannya bak izrail yang dengan mudah mencabut nyawa seseorang yang diinginkannya. Ucapannya adalah fatwa kebenaran bagi pasukannya dan lagu kematian bagi lawannya.

Oke, saya tidak bercerita banyak tentang bagaimana sosok petarung brutal dalam legenda yunani tersebut, tapi  sosok Achilles yang dingin dan terkesan “slanker” tersebut luluh lantak oleh sesuatu yang dibenci para petarung, “Cinta”. Sebagai sosok petarung jalanan yang selalu mengirim lawannya diakhirat, wajar pula semua merinding mendengar nama Achilles dengan segala reputasinya. 

Tapi dihadapan Briseis, sosok angker Achilles tak ubahnya rumput yang mudah tercerabut oleh satu jari kelingking sekalipun. Lihat saja ketika briseis menaruh belati dileher Achilles ketika berbaring diranjang, dia hanya berkata “Just Kill Me”. Dasar briseis yang kesepian yang tengah jatuh cinta, niat membunuh Achilles justru “membunuh” kekerasan hati lawannya. Dan akhirnya, mereka terbuai dalam dekapan cinta yang “terlarang”.

Mengapa cinta mereka adalah cinta “terlarang”? Seperti kita ketahui, Achilles yang berhati keras, “sak penake udele dhewe” (seenaknya sendiri) dan tidak mengenal belas kasih terhadap lawannya, “dipaksa” rela dan ikhlas melepaskan semua reputasinya demi mendapatkan briseis yang sang pujaan. Sedangkan briseis yang mengimani dan mengabdi pada dewi Apollo, dengan ketegaran dan keberanian juga melepas segala atribut yang melekat pada dirinya sebagai pengabdi yang baik. 

Demi Achilles, dia menanggalkan serta meninggalkan janji untuk tidak akan pernah disentuh para pria. Keduanya meninggalkan suatu yang diyakini, janji dan kehormatan untuk sesuatu yang lebih abadi, yaitu cinta. Mereka meninggalkan kehidupan absurd untuk mendapatkan kebahagiaan hakiki yaitu cinta.

Kau bukanlah tawananku, tapi tamuku dan setelah malam ini, kamu bebas mau kemana kamu mau pergi”. Sepenggal ungkapan dari mulut Achilles membuat saya merinding disko. Betapa agungnya sang Achilles ketika mengucapkan kata-kata tersebut. 

Cinta bukanlah kata benda yang hanya bisa dibicarakan dan disebut. Cinta adalah kata sifat yang menerangkan suatu keadaan yang sangat besar dalam diri manusia. Cinta juga kata kerja yang menunjukkan seberapa besar perbuatan dan perjuangan secara tulus, gak butuh “mahar” pelicin bermilyar-milyar untuk mendapatkan pengakuan

Sejarah mencatat, Perjuangan mendapatkan cinta akan membawa manusia dalam suatu bentuk keagungan dan kebahagiaan yang nyata . Bagaimana kisah cinta Adam dengan Hawa yang membuat mereka “terbuang” disurga, dipisahkan didunia dan dipertemukan kembali. Ada juga kisah cinta terlarang penuh intrik dari Zulaikha terhadap Yusuf sang lelananging jagad, walaupun dalam ending storynya berakhir dengan pernikahan dan kebahagiaan bagi keduanya. 

Tidak kalah serunya, cerita rahasia cinta Sayyidina Ali dan Siti Fatimah yang tersembunyi, bahkan konon setanpun tidak tahu jika keduanya saling mencinta. Selain kisah cinta yang berakhir dengan happy ending, tapi banyak juga akhir kisah cinta yang tragis walaupun dibungkus dengan kisah yang terkadang romantis. Kita mendengar cerita keluarga nabi Nuh kehilangan putra yang dicintainya karena ditelan banjir.  

Tertulis juga, kisah nabi luth yang kehilangan keluarga tercinta dan tidak kalah hebohnya, kisah cinta romeo dan Juliet yang harus berakhir dengan bunuh diri “berjamaah” meminum racun.

Kisah cinta Achilles juga tidak kalah tragisnya.  Achilles mencintai briseis dengan penuh hormat dan penghargaan layaknya menjamu tamu yang baik. Cinta Achilles tidak menjadikan pasangan bersikap halnya tawanan perang tapi cinta yang membebaskan. Dan hal yang tidak diinginkan mereka berdua akhirnya terjadi, yaitu Briseis secara tidak langsung dijemput sang ayah “Priam” yang juga menjabat raja Troya. 

Setelah sempat bermesra-mesraan ditenda tempat mereka dimabuk asmara, mereka harus berpisah karena sesuatu hal yang tidak mereka inginkan. Achilles yang menganggap Briseis bukanlah tawanan tapi tamu dengan cepat memulihkan status kewarganegaraannya tanpa birokrasi yang rumit dan berbelit, agar kedepannya tidak timbul gonjang ganjing dwikenegaraan seperti negara tetangga. 

Achilles memberikan kebebasan sepenuhnya untuk Briseis kembali kekerajaan troya dan memberikan dispensasi tidak menyerang kerajaan troya kepada “Priam” sang raja selama 12 hari.

Akhirnya peperangan itu terjadi. Yunani menyerang troya dengan segala strategi “liciknya”. Achillespun ikut berperang karena hanya ingin menjemput briseis cintanya. Setelah berhasil menyelamatkan si jantung hati dari kejaran pasukan yunani, justru Achilles menerima hunjaman beberapa busur panah oleh Paris saudara sepupu briseis. 

Walaupun Briseis melarang Paris menghunjamkan panah, tapi paris sudah terlanjur dendam terhadap achiles, gara-gara sang kakak “hector” dibunuh oleh Achilles. Paris terus memberikan kado perpisahan “indah” dan menjadikan Achilles sebagai pahlawan yang ringkih karena cinta. Briseis menangis dan memeluk tubuh Achilles yang mulai tidak kuat menahan beban rindu. 

Keduanya saling memeluk dengan erat, seakan ini adalah pelukan terakhir para pemabuk cinta, dan Achilles mengucapkan “It’s Allright” kepada Briseis seolah-olah kematiannya tidak akan berpengaruh terhadap kehidupan briseis dikemudian hari. The show must go on, mungkin itu yang diinginkan Achilles terhadap sang pujaan hatinya dan berharap kelak bisa bertemu kembali, bersama dalam pernikahan sejati dikehidupan hakiki. 

Sungguh kematian Achilles “Sang Jihadis” cinta yang tragis dari sosok petarung legendaris dalam mitologi yunani seolah-olah menegaskan sabda Rumi, “Dengan hidup yang hanya sepanjang tarikan nafas, jangan tanam apa-apa kecuali cinta”.

Saya melihat kisah cinta Achilles dan briseis seperti mengulang kisah cinta Jack dan Rose di film titanic. Betapa cinta itu menyenangkan juga menyakitkan. Cinta seperti ketika bermain judi, ada yang menang dan ada yang kalah, tertawa dan cemberut. Cinta itu ambigu dan paradok, malah ada yang bilang cinta itu absurd. Kehidupan cinta manusia terkadang juga tidak terlepas dengan sesuatu yang berulang- ulang, semacam dejavu. 

Entah sampai kapan, tapi saya merasakan hal yang sama. Bagaimana kita mencintai orang tua kita dan orang tua kitapun mengalami hal yang sama. Ketika kita mencintai seseorang yang kita cintai, seolah-olah juga merasakan perasaan yang sama ketika dengan mantan. Ketika merasa disakiti oleh yang kita cintai, sekan kita pernah mengalami ketika disakiti mantan. 

Cinta dan kehidupan seperti ketika membuka lembaran kertas kosong berwarna putih, selalu mendapatkan sesuatu yang sama dan seolah-olah berulang. Seperti Nietzsche bilang “Obat yang paling baik untuk menyembuhkan cinta adalah obat yang telah diketahui sepanjang zaman, membalas cinta”.

Nonton Streaming TV Online.
Nurul Hidayat

Nurul Hidayat

Advertisement

Advertisement