Esai Opini

76 Tahun Indonesia Merdeka dan Catatan Pendidikan di Indonesia

Merdeka Belajar
Momentum 76 tahun Indonesia merdeka adalah momentum yang baik bagi kita semua untuk merefleksikan kembali langkah selanjutnya, apa yang harus kita lakukan untuk mengisi ruang pendidikan kita di tengah situasi sosial yang terus berkembang.

76 tahun Indonesia merdeka, ada banyak hal menarik dari dunia pendidikan di Indonesia. Dari Ki Hadjar Dewantara resmi sebagai Menteri Pengajaran Republik Indonesia (19 Agustus 1945), sampai Nadiem Anwar Makarim sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia  (23 Oktober 2019 – sekarang), banyak catatan penting yang menjadi perhatian masyarakat.  

Sejak awal kemerdekaan Indonesia, pendidikan telah memberikan warna tersendiri bagi perjalanan bangsa Indonesia. Dalam waktu yang singkat, pada saat Ki Hadjar Dewantara sebagai Menteri Pengajaran Indonesia (19 Agustus 1945 – 14 November 1945) telah meletakkan konsep dasar pendidikan di Indonesia.

Rekam jejak Ki Hadjar Dewantara masih kita ingat melalui slogan, Ing ngarsa sungtulada, ing madya mengun karsa, tut wuri handayani, (di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan). Spirit pendidikan yang dibangun oleh Ki Hadjar pada saat itu adalah spirit pasca kemerdekaan. Konteks dari masyarakat saat itu sedang dalam tahap membangun mental dan identitas setelah mengalami proses penjajahan yang panjang. Konteks itulah yang menjadi semangat dalam meletakkan dasar pendidikan pada saat itu. Bagaimana masyarakat Indonesia tidak hanya mendapatkan kesempatan belajar, tetapi membangun kembali mentalitas dan wawasan sebagai orang Indonesia. Semangat kebangsaan tersebut telah dilembagakan oleh Ki Hadjar dengan mendirikan sekolah Taman Siswa di Yogyakarta (1922).

Perlu kita ingat bahwa Ki Hadjar Dewantara hanya peletak awal kerangka pendidikan di Indonesia, tetapi bukan satu-satunya pemberi gagasan tunggal dalam dunia pendidikan di Indonesia. Setelah Ki Hadjar Dewantara ada banyak nama yang mengisi jabatan sebagai Menteri Pendidikan Indonesia yakni: Todung Sutan Gunung Mulia, Muhammad Sjafei, R. Soewandi, Ali Sastroamidjojo, Teuku Mohammad Hasan, Sarmidi Mangunsarkoro, Abu Hanifah, Bahder Djohan, Wongsonegoro, Mohammad Yamin, Soewandi Notokoesoemo, Ki Sarino Mangunpranoto, Prijono, Sanusi Hardjadinata, Mashuri Saleh, Sumantri Brodjonegoro, J.B. Sumarlin, Syarief Thayeb, Daoed Joesoef, Nugroho Notosusanto, Fuad Hasan, Wardiman Djojonegoro, Wiranto Arismunandar, Juwono Soedarso, Yahya Muhaimin, Abdul Malik Fadjar, Bambang Sudibyo, Mohammad Nuh, Anies Baswedan, Muhadjir Effendy, dan Nadiem Anwar Makarim.

Setiap program dari menteri pendidikan lahir pada konteks yang berbeda-beda. Itulah sebabnya, mengapa bentuk dari program pendidikan tersebut menjadi berbeda. Ada masalah sosial yang ingin dijawab melalui program pendidikan tersebut.

Baca Juga: Kebijakan Pendidikan Nasional Pak Nadiem Makarim

Setiap program dari menteri pendidikan lahir pada konteks yang berbeda-beda. Itulah sebabnya, mengapa bentuk dari program pendidikan tersebut menjadi berbeda. Ada masalah sosial yang ingin dijawab melalui program pendidikan tersebut. Misalnya, ketika Anies Baswedan menjabat sebagai menteri pendidikan, Pak Anies sangat konsen melihat masalah kontestasi dalam pendidikan. Juara kelas bukanlah tujuan utama agar pendidikan di Indonesia  menjadi lebih berkualitas. Tapi, apa dampak dari setiap proses pembelajaran bagi siswa terhadap kehidupan sosial mereka. Pada saat itu, Kurikulum 2013 dengan konsep integrasi pembelajaran coba dikembangkan untuk menjembatani masalah pendidikan.

Pada masa Pak Muhadjir Effendy sebagai menteri pendidikan, program Full Day School yang dikembangkan pada saat itucukup mendapat perhatian dari banyak pihak, baik yang  sepakat dengan program tersebut mau pun yang tidak. Pada saat itu, Pak Muhadjir Effendy sebenarnya mencoba melihat celah bahwa bagaimana sekolah itu mampu memberikan rasa nyaman bagi siswa. Di sekolah, siswa tidak hanya dibebankan dengan mata pelajaran saja, tetapi dapat mengaktualisasikan diri dengan berbagai kegiatan sekolah lainnya yang menarik.

Pada saat ini, program pendidikan yang ditawarkan oleh Pak Nadiem melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka, merupakan sebuah respons terhadap perubahan sosial yang sedang berkembang. Bagaimana lembaga pendidikan tidak hanya menjadi konsumen dari apa yang sedang berkembang di masyarakat. Lembaga pendidikanlah yang seharusnya menjadi produsen dari perkembangan media dan teknologi yang ada. Berbagai temuan dalam media dan teknologi, tidak hanya dikuasi oleh perusahan-perusahan besar. Lembaga pendidikan harus menjadi bagian dari itu, agar produksi pengetahuan di sekolah dan perguruan tinggi dapat menjembatani permasalahan sosial yang ada.

Konsekuensi menjalankan program pendidikan di Indoensia memang bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap menteri pendidikan yang terpilih dan program yang akan dijalankan nanti, akan selalu berhadap-hadapan dengan kenyataan di masyarakat. Sebagaimana yang kita ketahui bersama bahwa konteks dari masyarakat di Indonesia itu sendiri yang terdiri berbagai lapisan sosial yang sangat kompleks, baik dari segi budaya, agama, ekonomi, dan letak wilayah. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi seorang menteri pendidikan dalam menjalankan program pendidikan secara nasional.

Tidak ada konsep dan program pendidikan yang ideal. Sebaik apa pun konsep dan program pendidikan dari seorang menteri pendidikan selalu berhadapan dengan kenyataan yang ada di masyarakat itu sendiri yang cukup beragam. Kenyataan tersebut yang membuat program pendidikan mengalami dinamika.

Di momentum 76 tahun kemerdekaan Indonesia, setidak-tidaknya kita dapat merefleksikan dua hal penting dalam pendidikan. Pertama, keberhasilan program pendidikan ditentukan semua komponen masyarakat. Pemerintah adalah pemberi regulasi, dana, dan akses. Yang menentukan keberhasilan dari program pendidikan itu sendiri adalah semua komponen masyarakat.

Kedua, kita harus mengakui bahwa trend pendidikan di Indonesia, ukurannya masih ditentukan oleh berapa banyak yang sudah berpendidikan dan berapa banyak yang sudah bekerja. Pertanyaan penting lainnya, berapa banyak yang telah melakukan sesuatu di luar dari sekadar bisa sekolah dan bekerja, misalnya, menciptakan sesuatu yang pada akhirnya memberi dampak bagi masyarakat belum menjadi sesuatu yang mainstream.

Momentum 76 tahun Indonesia merdeka adalah momentum yang baik bagi kita semua untuk merefleksikan kembali langkah selanjutnya, apa yang harus kita lakukan untuk mengisi ruang pendidikan kita di tengah situasi sosial yang terus berkembang. Tantangan sosial yang kita hadapi terus berubah. Pilihan masyarakat yang semakin beragam. Inilah momentum yang tepat bagi kita semua sebagai bagian dari masyarakat yang hidup di dalam situasi sosial saat ini, bagaimana terus melakukan hal-hal yang bisa kita lakukan. Dari masyarakat yang berpikir, bertindak, dan terus berkembang yang akan menentukan arah dan dampak bagi masyarakat dan dunia pendidikan yang ada.  Oleh: Djunawir Syafar

Baca Juga: Arah Baru Pendidikan di Indonesia (Refleksi Hari Pendidikan Nasional di Tengah Pandemi Covid- 19)

Tentang Penulis

Djunawir Syafar

Akademisi